Kepakkan Sayap-sayap Patahmu, Kalau Kalau Bisa

gelisah by Jennie AllenTULISANNYA beda, namun nyambung satu rasa. Bahasanya pun beda, namun terikat dalam satu emosi. Ucapannya pun beda, namun mengalir dari satu ekspresi…. Begitu terdengar suara lantang di tengah penantian, “Mohon perhatian kepada para penumpang Wings Air penerbangan menuju Semarang, penerbangan Anda mengalami penundaan hingga pukul 21.35. Mohon maaf atas keterlambatan ini!” Delayed… Mendengar berita itu […]

gelisah by Jennie Allen

TULISANNYA beda, namun nyambung satu rasa. Bahasanya pun beda, namun terikat dalam satu emosi. Ucapannya pun beda, namun mengalir dari satu ekspresi….

Begitu terdengar suara lantang di tengah penantian, “Mohon perhatian kepada para penumpang Wings Air penerbangan menuju Semarang, penerbangan Anda mengalami penundaan hingga pukul 21.35. Mohon maaf atas keterlambatan ini!” Delayed…

Mendengar berita itu seseorang berteriak tak kalah lantang, namun tanpa tekhnologi pengeras suara: Gile…! Wajah-wajah resah dan gelisah pun bertaburan laksana dedaunan rontok di musim gugur yang lesu dan pilu.

Para penumpang yang sedianya sudah bisa terbang pukul 17.40 pun harus ikhlas menunda dan menunggu empat jam tetap dalam ketidakpastian. Kata delayed pun melahirkan seruan gile penuh kegelisahan.

Ah, tak hanya kegelisahan tetapi juga kekecewaan bahkan kemarahan bersaudara kembar dengan kejengkelan. Wek! Mau marah silahkan mau jengkel silahkan… asal jangan kau putuskan cintamu… halah!!

Kalau memang tidak terima, ya sana terbang sendiri dengan sayap-sayap patahmu yang bahkan tak mampu kau kepakkan itu… Terima sajalah dalam kepasrahan yang tunduk ketundukkan yang pasrah dari pada dadamu sesak oleh kepahitan.

Jika ini pengalaman pertamamu bersiaplah menerima pengalaman kedua dan ketiga dan entah keberapa pun kelak. Kalau ini pengalaman keduamu syukurilah, pengalaman pertama mestinya telah menjadi guru terbaikmu kini.

Dan engkau pun akan menjadi tak hanya pintar tetapi juga cerdas dan bijaksana. Lain kali jangan menggunakan jasa yang sama kecuali dalam keadaan teepaksa atau sudah siap menanggung setiap keping risikonya.

Atau jika tetap mau menanggung setiap keping risikonya, buatlah perjalananmu menjadi lebih nyaman dengan tidak membuat janji terdekat dari saat penerbanganmu. Itu agar dikau tidak menanggung malu di hadapan Dia atau pun Mereka yang menunggu kedatanganmu. Bahkan menantimu juga harus memikul sejuta rasa Kecewa kecuali Dia ataupun Mereka penuh Maaf dan pemahaman atas keadaanmu
Itu bukan kesalahanmu…

Beginilah kini aku terhibur oleh rasa damai terlipur oleh sejahtera dengan nyanyian keikhlasan yang pasrah kepasrahan yang ikhlas. Dan mata lelahku pun seketika berbinar wajah kusutku bercahaya begitu sadar bahwa delayed dan gile meski berbeda tetap satu rasa, kendati tak sama tetap satu emosi, walaupun berlainan namun tetap satu ekspresi!

Mengapa Kita tidak belajar dari keduanya, berbeda-beda tetap satu jua! Lupakan delayed jangan diingat si gile, mari tetap bersatu dalam keberbedaan, merajut harmoni dalam keberagaman. Dan engkau pun akan bisa tidur pulas selama empat jam atau bahkan ketika penundaan terjadi lebih lama dari sekadar empat jam seperti ketika pernah kualami saat aku harus menunggu dua kali lipatnya saat hendak terbang dari Dussedorf menuju Jakarta.

Yang penting bisa Pulang dalam keadaan Selamat daripada nekat tetapi sekarat! Apa boleh buat….
Nah, itu baru akal sehat yang penuh Rahmat.
Nikmat….

Bandara Husein Sastranegara, Bandung

Kredit foto: Ilustrasi (Courtesy of Jennie Allen)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply