Kepada Siapa Kita Bersandar?

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 16:8-9
========================
“Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: “Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu.”

bersandar, mengandalkan Tuhan

Memulai itu satu hal, mempertahankan, itu hal lain. Itu yang selalu saya sampaikan kepada setiap siswa saya di setiap angkatan. Tidak mudah untuk memulai sesuatu, lebih sulit lagi untuk mempertahankan. Ada banyak orang yang sudah memulai dengan sukses, tetapi kemudian terjatuh dan gagal untuk mencapai akhir. Alkitab berisikan banyak contoh yang seperti ini. Mengawali dengan baik, sayangnya menutup akhir kisahnya dengan tragis. Kita tahu salah satunya adalah Saul. Daud pernah terpeleset tapi untunglah ia tidak berlama-lama sesat dan segera kembali, meskipun ada serangkaian konsekuensi yang harus ia terima akibat kesalahannya. Hari ini mari kita lihat satu tokoh yang pernah mengalami nasib seperti Saul, memulai dengan manis tapi kemudian jatuh karena kebodohannya sendiri mengambil keputusan yang salah, yaitu seorang raja Yehuda bernama Asa.

Raja Asa memulai karirnya dengan manis. Sebagai salah satu garis keturunan Daud, pada mulanya dikatakan “Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.” (1 Raja Raja 15:11). Lihatlah bagaimana ia memulai jabatannya sebagai raja. “Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya. Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron.” (ay 12-13). Hal itu tentu benar di mata Tuhan. Namun masalah muncul ketika ia mulai menghadapi masalah akibat menghadapi tekanan dari raja Israel, Baesa. Peperangan ini membuat dirinya merasa terdesak dan takut. Dan disinilah kesalahan terbesar Asa. Ia tidak mengandalkan Tuhan untuk mengatasi rasa takutnya menghadapi peperangan dengan raja Baesa, tetapi malah memilih untuk meminta pertolongan dan menyandarkan dirinya kepada raja Aram. Ia lebih percaya kepada raja Aram ketimbang meminta pertolongan Tuhan. Ia bahkan berani mengambil apa yang menjadi perbendaharaan rumah Tuhan untuk diberikan sebagai upeti buat raja Aram. “Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik..” (2 Tawarikh 16:2). Ini jelas kesalahan besar di mata Tuhan. Seorang pelihat bernama Hanani pun datang menegurnya. “Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: “Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu.” (ay 7). Karena keputusan Asa yang salah, kesempatannya untuk menang pun luput dari dirinya. “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” (ay 9). Asa sudah terlanjur sesat, dan ia malah semakin sesat. Ada peluang baginya untuk bertobat dan kembali ke jalur yang benar ketika ditegur Hanani, tapi sayangnya ia tidak mempergunakannya. Yang terjadi malah seperti ini: “Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat.” (ay 10). Bahkan ketika menderita sakit yang parah pun ia tidak juga bertobat, malah semakin jauh meninggalkan Tuhan. “Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah. Namun dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib.” (ay 12). Itulah akhir dari riwayat raja Asa, yang memulai segala sesuatu dengan manis, tapi menutup akhir kisahnya dengan kebodohan yang tragis.

Ketika kita mengalami masalah dalam hidup, siapa yang kita andalkan? Mungkin kita bisa geleng-geleng kepala dan sedih melihat raja Asa dan keputusannya, tetapi tidakkah kita sering tergiur dengan hal-hal yang sama? Ada banyak manusia yang mencoba menyelesaikan masalah lewat hal-hal duniawi, mengandalkan manusia atau bahkan menjalin perjanjian dengan iblis. Itu bukanlah menyelesaikan masalah, tetapi malah memperbesar masalah. Jika tidak hati-hati, eskalasi masalah pada suatu saat akan sangat sulit untuk dikendalikan, dan kita pun akan terjatuh dalam jurang kebinasaan selamanya. Raja Asa mengalami hal seperti itu. Ia terus semakin jauh dalam kesesatan, dan kemudian sudah terlanjur begitu jauh, sehingga sudah sulit baginya untuk kembali ke jalan Tuhan. Ada banyak orang yang terjebak dalam tawaran-tawaran ke dukun, peramal, paranormal dan bentuk okultisme lainnya ketika berhadapan dengan masalah. Dan itu merupakan kekejian di mata Tuhan. Firman Tuhan jelas berkata “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Dalam kesempatan lain kita bisa baca dalam Yesaya: “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.” (Yesaya 31:1). Dan dalam kitab Hosea kemarahan Allah pun bisa kita lihat: “Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan. Oleh karena engkau telah mengandalkan diri pada keretamu, pada banyaknya pahlawan-pahlawanmu, maka keriuhan perang akan timbul di antara bangsamu, dan segala kubumu akan dihancurkan seperti Salman menghancurkan Bet-Arbel pada hari pertempuran: ibu beserta anak-anak diremukkan.” (Hosea 10:13-14). Lihatlah bahwa Tuhan sudah mengingatkan kita berkali-kali untuk tidak mengandalkan manusia atau kekuatan kita sendiri dalam menghadapi masalah, tetapi bergantung kepada Tuhan.

Tentu bukan berarti bahwa kita hanya diam saja ketika menghadapi problema, tetapi pastikanlah bahwa semua yang kita putuskan tidak ada yang salah di mata Tuhan. Pastikan kita sejalan dengan pandangan Tuhan. Ambillah keputusan yang telah dibawa dalam doa terlebih dahulu, dan dengarkan baik-baik apa yang dikatakan Tuhan. Lakukan sesuai dengan itu, dan peganglah Tuhan dengan keyakinan dan kepercayaan yang teguh. Bagaimana kita bisa yakin akan hal itu? Mari kita lihat kembali apa yang dikatakan Hanani kepada Asa: “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia..” (2 Tawarikh 16:9). Pemazmur pun mengatakan hal yang sama: “Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.” (Mazmur 53:3). Kepada orang-orang yang termasuk dalam kategori bersungguh hati terhadap Tuhan, berakal budi dan terus mencariNya, bukankah Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu yang ajaib, bahkan diluar hal yang mampu diterima oleh logika kita sekalipun? Janji Tuhan jelas: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).

Awali dengan manis, akhiri pula dengan manis. Berhati-hatilah dalam melangkah di sepanjang kehidupan kita agar kita tidak terperosok ke dalam kebodohan yang sama seperti yang dilakukan raja Asa. Masalah apa yang anda alami hari ini? Apakah itu sakit penyakit, krisis keuangan, masalah berat dalam keluarga, studi, karir/pekerjaan, jodoh atau lainnya? Jangan mengandalkan kekuatan manusia, jangan terjatuh ke dalam jebakan okultisme dan tawaran-tawaran menggiurkan lainnya di dunia, tetapi andalkanlah Tuhan. Tetap taruh harapan sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, dengarkan apa kataNya dan lakukanlah sesuai dengan apa yang Dia katakan. Bersabarlah dan pegang teguh janjiNya, karena akan ada saat dimana Tuhan menurunkan pertolonganNya.

Andalkanlah Tuhan senantiasa dalam kehidupan kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: