Kemurahan Hati

Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

kemurahan hati

Kapan waktu yang paling tepat untuk mulai bermurah hati? Banyak orang yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena masih merasa miskin. “Nantilah kalau saya sudah kaya.” kata teman saya dengan ringan ketika melihat seorang peminta-minta. Di sisi lain ada orang yang rajin memberi, tetapi mereka memberi karena mengharapkan sebuah balasan. Apakah agar proyeknya “gol”, demi suatu keperluan, karena menginginkan sesuatu, agar menang, terpilih dan lain-lain. Ada banyak motivasi di balik memberi, dan apa yang saya sebutkan di atas bukanlah hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati. Itu adalah pemberian yang didasarkan pada sebuah tujuan untuk memperoleh sesuatu sebagai balasan atas apa yang dikeluarkan.

Alkitab banyak berbicara mengenai keikhlasan untuk memberi yang didasarkan kepada kemurahan hati, baik lewat firman-firman Tuhan maupun contoh-contoh dari berbagai tokoh. Coba lihat janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama yang memberi Elia makan dalam kekurangannya. Pada saat itu Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Ia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, “perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” (1 Raja Raja 17:12). Lihat bagaimana beratnya kehidupan ibu janda ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan membiarkan Elia menghabiskannya.

Dalam Perjanjian Baru kita melihat kisah janda lainnya di Bait Allah yang diamati Yesus ketika memberikan persembahan. Tidak seperti orang-orang kaya yang mungkin memasukkan amplop besar, janda miskin ini memasukkan dua peser saja ke dalam peti. Tetapi hal itu mendapat perhatian dari Yesus, “Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.” (Lukas 21:3). Mengapa bisa demikian? “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” (ay 4). Janda ini rela memberi dalam kekurangannya, bahkan semua uang yang ia miliki ia berikan dengan sukarela. Dua janda dalam dua masa yang berbeda, sama-sama miskin, sama-sama menderita, sama-sama berkekurangan, tetapi keduanya sama-sama memiliki hati yang luar biasa untuk memberi.

Namanya kemurahan hati, artinya kemurahan jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sebuah sikap hati, artinya itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita saat ini. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36). Murah hati adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Dan kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Kita harus malu ketika mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi. Tepat seperti apa yang dikatakan Yohanes, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Dan bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita merasa rugi untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan?

Tuhan adalah kasih, dan Tuhan itu murah hati. Dia selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari jurang kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai Giver atau Pemberi. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya.

Dua janda yang saya angkat menjadi contoh hari ini hendaknya mampu memberikan keteladanan nyata dalam hal memberi. Adakah yang harus ditunggu agar mampu memberi? Sesungguhnya tidak. Kita tetap bisa memberi dalam kekurangan dan keterbatasan kita, kita bisa melakukannya dengan penuh sukacita apabila sikap kemurahan tumbuh subur dalam hati kita. Tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi berjuta-juta kepada orang lain yang kelaparan, tapi sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang disekitar kita meski nilainya sedikit? Atau sudahkah kita memberikan waktu, perhatian, kasih sayang kepada keluarga kita sendiri? Sudahkah kita berada dengan mereka di saat mereka butuh kehadiran kita? Itupun termasuk dalam kategori memberi. Kalau begitu, kapan kita sebaiknya mulai memberi? Mengapa tidak sekarang juga?

Memberi seharusnya merupakan sikap hati orang percaya karena Bapa pun murah hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: