Kemunafikan Farisi dan Kemurahan Hati Seorang Janda (3)

Meski kita hidup di dunia, kita sedang berjalan menuju surga. Jalan ke surga adalah jalan ‘memberi dan berbagi.’ Ini jalan kebahagiaan, jalan sukacita, jalan kebebasan dari kecemasan dan kekawatiran hidup.

Dalam bukunya. `Peak Performers,’ Dr. Charles Garfield menggambarkan bagaimana para astronot Apollo harus mengarahkan pesawat ruang angkasa mereka menuju bulan.

Karena bulan berputar pada porosnya dan mengelilingi bumi, maka pesawat Apollo tidak dapat mengambil jalan lurus, tetapi harus berkali-kali diarahkan kembali agar tetap terarah pada tujuan; mencapai bulan dan kembali ke bumi. Jadi mereka tidak menempuh jalan lurus sempurna, tetapi harus melalui jalan-jalan koreksi.

Entah kita terbang ke bulan, mencari pencapaian diri atau kehidupan keluarga yang lebih baik atau mencari cara menaati dan melayani Tuhan; apapun sasaran hidup ita, prinsipnya sama.

Selalu ada peristiwa yang tak terduga dan tak diharapkan yang membutuhkan perubahan dan penyesuaian. Meski para astronot sudah menghitung secara tepat, tetap masih ada kemungkinan kesalahan atau koreksi. Orang yang tidak mengijinkan adanya penyesuaian, mungkin tak akan pernah sampai pada sasarannya. Jalan koreksi adalah jalan mencapai tiap sasaran.

Sebagai orang Kristen, sasatran kita adalah menaati dan melayani Tuhan; mencapai kematangan rohani. Kita akan tersandung, melakukan kesalahan atau menemui hambatan di jalan.

Saat kita jatuh, hal terpenting ialah jalan koreksi: bangun, mengoreksi jalan kita dan maju terus. Karena itu rahmat itu sangat penting.
bersambung

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: