Saturday, 22 November 2014

Kemiskinan yang Termiskin

Ayat bacaan: Yakobus 1:27
=================
“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

kemiskinan termiskinKemiskinan sering diasosiasikan dengan keadaan finansial yang berada jauh di bawah rata-rata. Orang yang hidup kekurangan, tidak punya rumah, hanya mampu makan sekali sehari dan sebagainya, itulah yang dikatakan orang sebagai orang miskin. Tapi benarkah kemiskinan hanya melulu soal harta atau kondisi finansial saja? Sesungguhnya tidak. Terlalu sempit jika kita menganggap kemiskinan hanya sebatas itu. Ada banyak lagi bentuk-bentuk kemiskinan lainnya yang tidak hanya berbicara soal kondisi ekonomi seseorang. Lantas kemiskinan apa yang dikatakan sebagai kemiskinan yang paling miskin? Apakah ini mengacu kepada orang yang paling tidak punya uang sama sekali? Bunda Teresa memiliki jawabannya.“We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. The poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty.”

Menurut bunda Teresa, kemiskinan yang termiskin  bukanlah kelaparan, telanjang dan tidak punya rumah, melainkan rasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan. Being unwanted, unloved and uncared. Itulah kemiskinan yang paling miskin. Begitu banyak orang yang mengalami kepahitan dan sangat menderita bukan karena mereka tidak mampu secara finansial, tapi karena mereka merasa tertolak, merasa tidak dikasihi atau tidak merasakan kasih sayang.

Bunda Teresa tentu tahu benar mengenai kemiskinan. Hampir sepanjang hidupnya dihabiskan di India, tepatnya di Kalkuta. Bunda Teresa menempatkan dirinya ditengah-tengah masyarakat yang sangat miskin di wilayah itu. Beliau melayani Tuhan dengan memberi waktu sepenuhnya untuk orang-orang yang termiskin, terbuang. Bunda Teresa melayani orang yang lapar, gelandangan, buta, pincang, lepra dan sakit penyakit lain, orang yang telanjang. Ia memeluk bayi-bayi terbuang dengan penuh kasih. Ia berada disana bagi orang yang tidak dicintai, tidak diinginkan, tidak diperhatikan atau orang-orang tertolak. Lewat pengalaman puluhan tahun berada di salah satu tempat termiskin di dunia itu tentu Bunda Teresa sangat mengetahui mengenai kemiskinan, termasuk apa sebenarnya kemiskinan yang paling parah. Kesimpulannya jatuh bukan pada kekurangan biaya, rumah atau harta lainnya, tapi justru kepada sebuah perasaan tertolak tanpa memiliki kasih sayang. Itu sebuah kesimpulan dari pengalaman beliau dari pelayanannya selama puluhan tahun, meninggalkan semua kemewahan dunia untuk datang ke sebuah tempat yang terbuang dan membagikan seluruh perhatian dan kasih yang ada pada dirinya hingga akhir hayatnya.

Jika demikian, maka alangkah sia-sianya kita rajin beribadah apabila kita masih menutup mata, telinga dan perasaan kita terhadap mereka yang saat ini hidup dalam kemiskinan yang termiskin. Yakobus mengatakan: “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27). Ibadah  yang murni dan tak bercacat bukanlah kerajinan berdoa panjang lebar, bukanlah duduk di gereja berlama-lama, melainkan membagi kepedulian, kasih dan sebagian dari perhatian dan apa yang kita punya untuk mereka yang berada dalam kesusahan. Yatim piatu, para janda, ini gambaran dari orang-orang yang kehilangan kasih sayang selain membutuhkan bantuan secara materi pada masa itu. Kita melakukan sebuah ibadah murni dan tak bercacat di hadapan Allah dikatakan ketika kita peduli kepada mereka. Mengunjungi mereka dalam kesusahan mereka, being there for them, letting them know that they are not alone. Kita mungkin tidak memiliki panggilan seperti Bunda Teresa, tetapi sedikit banyak tentu kita bisa membagi perhatian, kasih dan bantuan lainnya sesuai kemampuan kita apabila kita memiliki kasih Allah mengalir dalam diri kita. Selain hal ini, ibadah yang dikatakan murni dan tak bercacat juga berbicara mengenai keseriusan kita untuk menjaga diri dari kecemaran-kecemaran yang ada di dunia.

Selanjutnya amsal Salomo mengingatkan kita untuk memiliki telinga peka terhadap jeritan orang yang membutuhkan pertolongan. Jika tidak, maka jeritan kita ketika membutuhkan pertolongan pun tidak akan didengar Tuhan. “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.” (Amsal 21:13). Mengapa demikian? Karena Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8). Kedatangan Kristus ke dunia untuk menebus dosa kita adalah bukti nyata betapa besar kasih Allah pada kita. Karena Allah begitu mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi orang lain. (1 Yohanes 4:11). Mengasihi tidaklah harus selalu berbentuk pemberian materi, tapi lewat perhatian, lewat membagikan sebagian waktu kita untuk mendengarkan mereka yang membutuhkan pertolongan, atau yang paling mudah, lewat senyum tulus, itu bisa meringankan penderitaan mereka.

Apabila ada diantara teman-teman yang saat ini merasa tidak diinginkan atau tidak merasakan kasih sayang, feeling unwanted and unloved, tidak ada dukungan moril, kepedulian atau empati dari saudara-saudara seiman, ingatlah bahwa diatas segalanya ada Tuhan yang selalu peduli dan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengar anda. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anda sendirian. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Meski mungkin orang terlihat tidak menghargai anda, meski mungkin anda merasa tertolak dari lingkungan atau bahkan keluarga sendiri, tapi anda berharga di mata Tuhan dan sangat Dia kasihi. Bacalah Mazmur 139:13-18, disana tertulis bahwa kita adalah hasil “tenunan” Tuhan sendiri, itu adalah sebuah kejadian yang dahsyat dan ajaib. Tuhan peduli, dan Dia punya rencana istimewa bagi anda.

Bagi kita yang lebih beruntung tidak mengalami kemiskinan yang paling miskin ini, sudahkah kita perduli kepada saudara-saudara kita yang tengah menjerit meminta pertolongan? Jika pengabdian seperti Bunda Teresa terasa begitu jauh dan sulit, sudahkah kita memperhatikan orang-orang yang sangat dekat di sekitar kita? Maukah kita menyisihkan sebagian dari diri kita untuk mereka, atau kita malah bersungut-sungut karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka? Yesus berkata: “..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Kita bisa menjadi wakil-wakil Tuhan untuk mengalirkan kasih Kristus kepada mereka yang tengah mengalami kemiskinan yang termiskin ini. Jangan sampai semua ibadah kita tercemar karena kita tidak memiliki sedikitpun kasih dan perhatian untuk dicurahkan kepada mereka yang membutuhkan.

Tidak ada ibadah yang murni dan tak bercacat tanpa adanya kerinduan untuk membagi kasih kepada mereka yang tertolak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Kemiskinan yang Termiskin"

Response on "Kemiskinan yang Termiskin"