Kemerdekaan untuk Berbuat Baik

0
4

Sir. 10:1-8; 1Ptr. 2:13-17; Mat. 22:15-21

Pesan Yesus bagi bangsa dan negara kita, sudah jelas dan tiap tahun kita dengar kembali: berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Jawaban Yesus: “Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi hak kaisar…” sebenarnya sudah cukup sebagai jawaban.

Tetapi tambahan “dan kepada Allah yang menjadi hak Allah,” merupakan penjelasan yang mendasar tentang sikap kita sebagai manusia yang hidup sebagai warga negara dan sekaligus sebagai umat Allah. Soal membayar pajak adalah soal mempertahankan hak atau melakukan kewajiban sebagai warga negara. Tetapi dasar dari semuanya ialah memperhatikan hak dan kewajiban terhadap Allah?

Kita sering mencari Allah untuk menjawab kebutuhan kita. Allah kita dekati secara fungsional. Saya butuh, maka saya datang. Dan karena Allah mahakuasa, maka Allah dapat melakukan apa saja dan memberi apa saja yang saya butuhkan. Bukankah dengan demikian kita juga perlu bertanya tentang hak-hak Allah yang harus kita penuhi? Seringkali kita merasa sudah memenuhinya dengan menunaikan kewajiban ibadat. Tapi lihat X Perintah Allah: hanya satu perintah tentang ibadat: Kuduskanlah hari Tuhan.

Dua perintah tentang berhala dan nama Tuhan, 7 perintah lain tentang hubungan kita dengan sesama. Dan apakah kita sudah memenuhi hak-hak Allah yang tercantum dalam X Perintah itu? Dan itu belum semua. Judi dan mabuk, meski tidak tercantum dalam X Perintah, pasti juga termasuk yang dilarang oleh Allah.

Dalam sebuah rekoleksi untuk anak-anak, mereka diberi dua tugas: menuliskan apa yang diharapkan anak-anak dari orang tua mereka dan apa yang diharapkan orang tua mereka kepada anak-anak itu. Hasilnya ditulis berjajar.

Dari harapan anak, mereka menginginkan orang tua untuk tidak cerewet, terlalu mengatur, mudah memberi uang saku, longgar dalam memberi ijin, tidak mudah marah dll.dsb. apa harapan orang tua dari anak-anaknya: anak supaya rajin belajar, tidak malas bangun pagi, membereskan kamar sendiri; rajin ke Gereja dll.dsb. jika kita bandingkan, keinginan anak terhadap orang tuanya, mengenai hal-hal yang menyangkut kesenangan dan keinginan mereka sendiri. Tetapi jika kita perhatikan keinginan orang tua kepada anak-anaknya, yang diharapkan adalah hal-hal yang menyangkut kepentingan masa kini atau masa depan anak-anaknya.

Jika kita kembali kepada X Perintah sebagai hak-hak Allah atau keinginan Allah kepada kita, anak-anakNya, maka juga dapat kita katakan bahwa X Perintah adalah hal-hal yang diharapkan Allah terwujud sebagai tanda pertumbuhan kita sebagai manusia yang semakin mirip dengan Allah dan manusia yang semakin mampu berbuat baik kepada sesamanya.

Ada orang yang tertarik pada restoran yang rame dan mencoba makan disana. Pelayan dengan ramah melayaninya . ia memesan makanannya dan meminta minuman “Coke Zero”. Pelayan berkata: “Maaf, kami kontrak dengan Pepsi, dan tidak menjual produk Coca Cola. Apakah dapat kami tawarkan Diet Pepsi?” orang itu menolak, dan meminta air putih saja. Ketika dia sedang makan, tiba2 ada seorang berpakaian rapi membawa “Coke Zero” dan es batu, dan menaruh didepan pelanggan itu dan berkata sambil tersenyum “Tadi anda menginginkan Coke Zero kan? ” Lalu pergi. Orang itu meminum dengan puas dan memanggil pelayan yang tadi melayaninya.

Pelayan datang dan tersenyum melihat Coke Zero ada disana. “Nah sudah ada minuman kesukaan Bapak, kan?” Pelanggan: “Tadi katanya tidak ada? Ini kok ada?” Pelayan: “Benar, baru saja kami belikan di pasar swalayan seberang.”“Restoran lagi ramai, siapa yang membelikan?” “Manager kami, dia tidak terlalu sibuk dibelakang.” “Lho, katanya kontrak dengan Pepsi?” “Ya, kalau menjual Coca-Cola tidak boleh, kalau memberi gratis kepada pelanggan, saya kira boleh.” Jawabnya sambil tersenyum.

Memberi pelayanan yang baik adalah hal yang umum, dan dilakukan semua perusahaan, memberikan hal yang lebih, yang tidak terduga bisa, menjadi kunci sukses dijaman ini. Ciptakan “Moment of Truth”, yang memberikan kesan luar biasa, yang akan selalu diingat oleh pelanggan anda, sehingga dia akan setia pada perusahaan anda, dan merekomendasikan produk anda kepada orang lain. Moment of Truth tidak hanya berlaku pada pelangan penjualan saja. Hal yang sama berlalu untuk sebuah kepemimpinan, Teamwork, ataupun dalam kehidupan sosial kita. Melakukan hal lebih yang menyentuh adalah kesempatan kita untuk diingat, dicinta, dihormati, dan diikuti oleh orang lain. Salam sukses untuk anda.

Semakin kita tumbuh sebagai manusia, semakin kita punya kemampuan untuk memilih diantara berbagai kemungkinan bertindak. Artinya kita juga semakin merdeka untuk memilih tindakan. Semoga kita memakai kemerdekaan kita untuk berbuat baik. Ini maksa kemerdekaan yang sejati. Amin.

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here