Kemerdekaan Lewat Kristus

Ayat bacaan: Yesaya 9:5====================”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kek…

Ayat bacaan: Yesaya 9:5
====================
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Kira-kira setahun lalu saya menonton film yang diganjar piala Oscar, 12 Years a Slave. Film ini menceritakan bagaimana tertindasnya orang-orang berkulit hitam di periode-periode awal tahun 1900 an. Seorang berkulit hitam yang sudah merdeka dijebak untuk kembali jadi budak di kota lain dan karenanya harus terpisah dari keluarganya dan mengalami penyiksaan selama 12 tahun. Saya tidak akan membahas film ini terlalu jauh, tapi ingin fokus kepada beberapa adegan yang ditampilkan di film, dimana budak-budak yang tengah bekerja memetik kapas di kebun majikannya melakukan hal itu sambil bernyanyi. Saat itu mereka bukan sedang bersenang-senang. Mereka akan dihukum cambuk kalau mengumpulkan terlalu sedikit dari standar yang ditetapkan, kalau mereka lambat pun cambuk akan segera mendarat di punggung. Tapi tetap saja mereka mencoba menghibur diri dan itu dilakukan dengan menggunakan sesuatu yang sudah diberikan Tuhan kepada setiap orang, yaitu kemampuan untuk bernyanyi. Sejarah menyatakan bahwa jeritan penderitaan yang dilantunkan itu kemudian menjelma menjadi sebuah genre musik bernama blues, yang kemudian ternyata jadi akar dari segala jenis musik modern.

Saya merasa terinspirasi dan diberkati melihat pola pikir mereka pada masa itu. Mereka bukanlah orang-orang berpendidikan tinggi. Mereka ditindas dan dijadikan budak, mengalami penyiksaan bahkan nyawanya tak berharga, dianggap warga kelas dua, bahkan seringkali dihina dan dijadikan bahan olok-olok oleh para tuan tanah berkulit putih. Tapi lihat bagaimana mereka tetap bisa mencurahkan perasaan mereka secara positif ke dalam musik, sesuatu yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini. Untuk urusan rohani, ada begitu banyak lagu Natal yang berasal dari jaman itu, dan lagu-lagu itu bukan bernuansa kepedihan melainkan pengharapan. Jelas, di dalam kondisi yang penuh penderitaan seperti itu, mereka ternyata tetap memegang pengharapan bahwa kelahiran Kristus turun ke dunia memberi jaminan akan keselamatan, dan tentu saja kemerdekaan. Kelahiran Kristus di mata mereka merupakan bukti nyata betapa besar kasih Tuhan kepada mereka, betapa berharganya mereka di mata Tuhan, meski di dunia kulit putih mereka tidak dianggap sama sekali.

Kita bisa belajar dari mereka tentang bagaimana menyikapi kerasnya kehidupan. Mereka ditindas oleh sesamanya manusia, mereka dianggap tidak punya harga, tetapi mereka tahu bahwa serendah-rendahnya mereka di dunia, di mata Tuhan mereka berharga sangat tinggi. Sangat tinggi hingga Tuhan Yesus datang menebus dosa manusia dan memberikan kemerdekaan, bebas dari kutuk dan dosa, termasuk pula kepada para budak. Mereka tahu bahwa Tuhan merasakan penderitaan mereka, menangis bersama mereka. Dan kedatangan Kristus pun bermakna luar biasa sebagai bukti kasih nyata Tuhan kepada mereka.

Kita hari ini hidup di jaman merdeka. Merdeka dari perbudakan, merdeka dari penindasan. Secara umum, dan seharusnya seperti itu. Tetapi jangan lupa bahwa kita sangat mudah terjatuh dalam dosa, membiarkan dosa berkuasa atas hidup kita, sampai-sampai banyak manusia yang tidak mampu keluar dari jerat dosa itu sama sekali alias menjadi budak dosa dan sumbernya yaitu iblis. Karenanya seharusnya kita diganjar binasa. Tapi kelahiran Kristus bermakna sangat besar. Lewat kehadiran dan karya penebusanNya kita semua dimerdekakan, berubah dari hamba dosa berubah menjadi hamba kebenaran.

Mari kita lihat sejenak apa yang difirmankan Tuhan lewat Paulus. “Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:17-18). Selanjutnya Paulus menjelaskan “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran…Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (ay 20,22-23). Semua itu merupakan anugerah yang kita peroleh dari Tuhan atas kasihNya yang begitu besar, dan hanya diberikan lewat AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Lewat karya penebusanNya kita dibebaskan dan dimerdekakan dari dosa. Kita memperoleh buah yang akan membawa kita menuju sebuah hidup penuh sukacita yang tidak lagi fana, melainkan kekal.

Nubuatan mengenai kelahiran Kristus sudah hadir ratusan tahun sebelumnya lewat Yesaya. “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9:5). Ini sebuah berita besar bagi dunia. Di awal pasal 9 ini disebutkan bahwa “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (ay 1). Kedatangan Kristus mengubahkan keadaan dunia yang gelap gulita dan menggantikannya dengan sebuah harapan dan kehidupan baru yang terang benderang. Oleh karenanya sorak sorai dan sukacita besar pun hadir bagi setiap orang percaya. (ay 2). Sebab apa? “Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.” (ay 3). Selain memberikan terang baru yang penuh harapan, Yesus Sang Raja Damai pun membawa kedamaian ke dalam hati kita, mengubahkan hati kita menjadi sebentuk hati yang penuh kasih. Atas semua ini, tidakkah kita pantas bersukacita?

Hari kelahiran Yesus belum lama kita peringati. Yesus turun ke dunia bukan untuk bersenang-senang tapi demi menuntaskan misi yang diberikan Bapa kepadaNya, yaitu menyelamatkan semua manusia, meluputkan kita dari kebinasaan dan membawa kita beroleh kehidupan kekal. Kita bisa belajar dari para budak kulit hitam dalam memaknai kelahiran Tuhan Yesus. Mereka pada saat itu tertindas, tidak merasakan hak-hak pribadi mereka sebagai manusia, hidup dalam perbudakan, tapi mereka mampu bersukacita ketika mengingat bahwa Yesus telah turun ke dunia untuk memerdekakan segala manusia termasuk mereka. Yesus mematahkan segala belenggu yang mengikat kita. Mereka tahu meskipun mereka dirampas hak-haknya sebagai manusia oleh sesamanya, tetapi keselamatan menuju kehidupan kekal tetap dianugerahkan bagi mereka. Di dunia boleh saja tertindas, namun mereka adalah orang-orang yang merdeka secara spiritual, dan telah mendapatkan hak waris Allah dalam kerajaanNya. Karena itulah mereka bersukacita. Jika ada diantara teman-teman yang saat ini masih menderita, sulit lepas dari belenggu dosa atau permasalahan hidup, masih merasa terkurung dalam kegelapan dan sulit melihat datangnya cahaya terang atau masih berbeban berat, terikat dengan masa lalu yang membuat sulit untuk melangkah maju, teladanilah pola pikir yang penuh pengharapan dari para budak kulit hitam di masa lalu. Mereka bersukacita atas kelahiran Kristus, dan tidak ada satupun penderitaan yang mampu menggantikan sukacita itu dari hati mereka. Seperti kepada mereka, kepada kita pun kemerdekaan dan keselamatan telah dianugerahkan. Rejoice and be thankful for that.

Bersukacitalah dan bersyukurlah sebab Yesus telah lahir untuk keselamatan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply