Kembali kepada Esensi Natal

Ayat bacaan: Roma 15:1
======================
“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”

menolong sesama, esensi natal, makna natal

Saya ingat bagaimana suasana Natal di sebuah kota besar di Eropa yang pernah saya kunjungi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Suasananya begitu indah dan meriah. Lampu menghiasi berbagai rumah, dan berpadu dengan salju yang turun memutihkan pemandangan. Kelap kelip pohon Natal terlihat di mana-mana, di jalan hingga jendela-jendela rumah. Anak-anak kecil sibuk membangun boneka salju bersama ayahnya tanpa menghiraukan dinginnya udara. Pesta pun di gelar di mana-mana. Indah tapi ironis, ketika gereja-gereja malah terlihat sepi. Di daerah tempat saya menginap ada sebuah gereja kecil. Pengunjungnya hanyalah orang-orang tua saja. Pemilik rumah di mana saya menginap pun merayakan Natal dengan pesta keluarga lengkap dengan tukar menukar kado di bawah pohon Natal. Tapi tidak satupun dari mereka yang pergi ke gereja atau memberi sesuatu kepada sesamanya yang membutuhkan. Tepat di depan rumah mereka padahal ada pengamen yang terus bermain biola meski udara dingin menusuk tulang. “Christmas means celebration, it’s a style..” katanya. Tidak ke gereja? “Nobody goes to church anymore except the elders..” katanya lagi. Tampaknya bagi kota itu makna Natal telah berubah menjadi sebuah perayaan semata. Menikmati libur, pesta besar atau kecil dan bertukar kado, meriah, tapi tidak lebih dari itu. Tidak hanya di kota itu, tapi sebagian dari kita orang percaya pun telah menjadi korban dari pergeseran makna Natal ini. Kita mementingkan pesta dan kemeriahan, makin mewah makin bagus, pujian dari orang yang diundang sangat penting bagi kita, tidak lagi merenungkan apa yang sebenarnya dirayakan lewat Natal.

Kemarin kita sudah melihat esensi sebuah perayaan Natal yang sesungguhnya, yaitu meneladani Allah yang memberi karena Dia teramat sangat mengasihi kita semua. Yesus, Sang Raja di atas segala Raja tentu layak mendapatkan segala pelayanan yang terbaik yang ada di permukaan bumi ini. Dia berhak, lebih dari berhak untuk itu. Tapi Yesus memilih untuk mengesampingkan hak-hakNya untuk mendapatkan pelayanan kelas utama. Dia turun ke dunia “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Yesus memilih untuk melepas atribut ke-IlahianNya dan “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6-7) Tidak berhenti sampai disitu tapi “dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ay 8). Semua itu adalah untuk sebuah misi menebus kita semua, manusia yang berselubung dosa. Penebusan yang hadir sebagai anugerah terbesar dari Tuhan karena Dia teramat sangat mengasihi manusia, His masterpiece, yang begitu berharga bagiNya. Jika kita lihat sekarang, ada banyak orang yang merayakan Natal hanya sebatas seremonial dan kemeriahan pesta saja, tidak lagi memikirkan apa yang paling mendasar dari perayaan Natal, tidakkah itu ironis? Bayangkan bagaimana perasaan Tuhan melihat anugerahNya yang terbesar dikesampingkan dan hanya dipakai sebagai selebrasi semata. Seandainya kita di posisi Tuhan, apa yang kita rasakan? Sedih? Kecewa? Kesal? Marah?

Kasih merupakan inti dasar dari kekristenan. Mengasihi terhadap sesama manusia seperti halnya kita mengasihi diri sendiri merupakan hukum terutama kedua seperti yang diajarkan Yesus sendiri. “Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:31) Bahkan lebih dari itu, kita juga harus mengasihi sesama seperti halnya Yesus mengasihi kita. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Bagaimana Yesus mengasihi kita? Dia mengesampingkan atribut dan hak-hakNya hingga memberikan nyawaNya bagi kita. Dia mengajarkan itu: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (15:13), dan sudah membuktikannya langsung dengan karya penebusanNya. Bagaimana kita bisa mencapai level itu jika untuk memberi sebagian saja sudah sulit? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Kristus jika melihat orang menderita di depan kita saja tidak peka?

Dalam Roma 15:1-6 kita membaca bagaimana menjalani hidup sebagai seorang Kristen yang seharusnya. “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” (Roma 15:1) Kita tidak boleh mementingkan kepentingan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri saja dan menutup mata dari kesulitan-kesulitan yang tengah menimpa saudara-saudara kita. “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” (ay 2). Lebih dari apa yang menyenangkan diri kita pribadi, kita harus bisa mengesampingkannya demi mencari apa yang bisa menyenangkan sesama kita, apa yang bisa kita buat untuk menolong atau meringankan beban mereka. Tidak sebatas memberi kesenangan saja karena itu bisa mengarah kepada pemberian-pemberian yang tidak mendidik atau malah menyesatkan, tapi firman Tuhan berkata bahwa kita wajib membantu untuk kebaikan mereka. Demikianlah keteladanan yang kita peroleh dari Kristus. “Karena Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri.” (Ay 3) Kristus peduli terhadap manusia lebih dari kepentingan diriNya sendiri. Jika Tuhan saja demikian, seyogyanya kita pun demikian, setidaknya mulai belajar untuk melakukan itu dimulai dari hal-hal yang sederhana, lalu terus melatih kepekaan kita terhadap penderitaan sesama, sehingga pada suatu ketika kita bisa “satu hati dan satu suara memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” bersama-sama mereka. (ay 6).

Jika kita bersyukur atas anugerah keselamatan dari Tuhan lewat kelahiran Kristus ke dunia, berarti sudah pada tempatnya kita berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur kita. Apa yang harus kita lakukan? Yesus berkata bahwa “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Itu pesan pentingnya, dan dalam memperingati Natal pun sudah seharusnya kita memikirkan untuk melakukannya. Ingatlah bahwa kita hidup untuk memuliakan Tuhan. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Hidup ini berasal dari Tuhan, berpusat pada Tuhan, menjalani bersama Tuhan dan berakhir untuk Tuhan. Itulah kehidupan kekristenan sejati. Jika demikian, kita tidak pantas untuk mementingkan kepentingan diri sendiri saja, sibuk membuat pesta dengan segala kemewahan dan kemeriahannya sementara di sekeliling kita masih banyak orang yang berjuang mati-matian untuk sekedar bertahan hidup. Ingatlah pesan Tuhan berbunyi “Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Galatia 1:10). Pesta besar tentu akan berkenan kepada manusia, pujian dan pujaan mungkin hadir buat kita, nama dan popularitas mungkin meningkat, tapi itu tidaklah berkenan bagi Kristus sebelum kita terlebih dahulu mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Seorang hamba Kristus akan rela melepas atribut dan hak dalam melakukan segala yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya. Sebagai bentuk ucapan syukur kita atas anugerah Tuhan dalam memperingati Natal, hendaklah kita sama-sama merenungkan kembali esensi Natal yang sesungguhnya dan mulai melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur kita.

Put a smile back on their face, let them feel God’s grace through us

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah atas kelahiran anak
  2. kumpulan renungan kristen kelahiran bayi
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: