Kemaruk

Ayat bacaan: Matius 6:31
======================
“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?”

kemaruk, gila harta

Lucu sekali melihat seorang bapak yang tinggal tidak jauh dari rumah saya. Halamannya hanya sepetak, tapi seluruhnya ia tanami dengan berbagai jenis tanaman hingga pagarnya pun terdorong miring ke luar hampir jatuh. Di lahan yang tidak besar itu ia juga masih menambahkan tambak. Belum lagi kardus-kardus bekas, barang rongsokan, botol plastik dan sebagainya. Semua itu memenuhi seluruh halaman rumahnya. Sehingga rumahnya sama sekali tidak berbentuk jika dilihat dari luar. Penuh semak, kotor dan sumpek. Untuk jalan menuju pintu rumahnya saja sudah sulit bukan main. Setiap malam saya mendengar suara tokek dari rumahnya. Dan ketika saya tanyakan, ia berkata bahwa ia memang memelihara beberapa tokek. Untuk apa? “karena waktu itu saya dengar harga tokek sedang naik..jadi saya buru-buru beternak tokek. Ternyata hanya isu..” katanya sambil tertawa kecil. Tapi itupun tidak membuatnya melepaskan tokek itu. “Sayang, itu kan duit juga, biarpun kecil.” katanya polos. Mengapa tidak ditata saja agar terlihat lebih nyaman? Saya tanyakan itu kepadanya. Dan ia menjawab bahwa ia tidak peduli soal nyaman, tapi yang penting adalah keuntungan alias uang.

Kita memang membutuhkan uang untuk bisa tetap hidup. Jika tidak, bagaimana kita bisa memenuhi segala kebutuhan kita? Itu benar. Tapi apakah kita harus terus memburu itu tanpa henti? Mendasarkan segala-galanya hanya pada uang? Apakah hanya itu satu-satunya yang kita percaya mampu mengatasi segala persoalan hidup? Alkitab tidak mengajarkannya demikian. Dalam Matius 6 kita bisa melihat pandangan Kerajaan Surga mengenai hal ini langsung melalui perkataan Yesus.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Ini seruan untuk mengingatkan kita agar jangan menjadi budak harta. Jangan bersikap kemaruk, tamak dan berorientasi kepada harta, karena semua itu tidaklah kekal. Setiap saat semua itu bisa habis lenyap dalam sekejap mata. Kalau begitu apa yang harus kita kumpulkan? Yesus melanjutkannya seperti ini: “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (ay 20). Kita perlu mengumpulkan harta, tapi bukan di bumi melainkan di surga. Itulah yang akan berguna, kekal sifatnya dan tidak akan bisa dicuri atau dirusak oleh siapapun.

Hal mengumpulkan harta di surga tidaklah sama dengan cara kita mengumpulkan harta di dunia ini. Ketika disini kita menimbun, selalu berpikir untuk menerima, di sana justru sebaliknya, kita harus memberi. Salah satunya memberi lewat persepuluhan. Firman Tuhan berkata: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” (Maleakhi 3:10-12). Lalu memberi kepada orang miskin yang membutuhkan, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17), “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Juga menanam investasi hidup dan uang kita untuk mengemban amanat Agung. “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, rang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Markus 10:29-30). Perhatikan bahwa setiap kita mengumpulkan harta di surga, apa yang kita butuhkan di dunia ini pun akan dengan sendirinya terpenuhi. Harta dikumpulkan di surga, tapi kita bisa menikmatinya sejak sekarang dan akan berlaku selamanya membawa kita masuk dalam keselamatan kekal. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk tidak perlu khawatir akan apapun di dunia ini. “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (Matius 6:31). Orang dunia boleh saja khawatir, tapi kita tidak pada posisi dimana kita harus ikut-ikutan khawatir kepada hal itu. Mengapa? Sebab Bapa di surga tahu semua kebutuhan kita. “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” (ay 32). Oleh karena itulah Yesus kemudian menyimpulkannya dengan jelas. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (ay 33).

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17). Sebagai orang percaya, kita adalah ciptaan baru yang telah dipulihkan, merdeka dari perbudakan dosa, kebiasaan buruk dan lain-lain. Karena itulah kita jangan lagi hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan dan terus saja sibuk akan perkara yang sesungguhnya sia-sia. Tidak ada gunanya terus sibuk menimbun harta sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan seluruh hidup kita, karena semua itu hanyalah akan berguna sementara saja, dan tidak akan pernah abadi. Menimbun harta di surga dengan memberkati orang lain, mengembalikan milik Tuhan dan mempersembahkan hidup dan segala yang kita miliki sepenuhnya untuk Tuhan akan membuat kita berinvestasi di surga, dimana tidak ada satupun yang mampu mencuri dan merusaknya. Sementara itu, apapun yang kita butuhkan selama di bumi ini juga akan tercukupi. Bukan hanya sekedar tercukupi, tetapi firman Tuhan berkata “semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Tuhan tahu pasti pergumulan kita, Dia tahu apa yang menjadi kebutuhan kita, dan Dia siap melimpahkan itu semua kepada kita. Semua tergantung apa fokus kita sebenarnya. Apakah segala harta duniawi yang sia-sia ini, atau harta surgawi yang kekal dan berlaku baik di dunia maupun kelak dalam kehidupan yang kekal. Jangan kemaruk, jangan gila harta, jangan tamak, itu bukanlah gambaran anak-anak Tuhan. Carilah dahulu kerajaanNya, dan juga kebenarannya, maka anda akan melihat betapa besar bedanya hidup dalam perlindungan Allah dengan pola kehidupan duniawi yang dianut oleh banyak orang.

Tidak perlu khawatir karena kelimpahan dan kemurahan Tuhan akan selalu beserta anak-anakNya

Follow RHO Twitter: https://twitter.com/DailyRHO

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: