Kelembutan Kasih Seorang Ibu

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 2:7
=======================
“Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.”

kelembutan ibu

Hari ini saya teringat anjing betina kami yang beberapa waktu lalu melahirkan empat anak. Proses melahirkannya sama sekali tidak mudah. Karena tubuhnya kecil, ia hanya sanggup melahirkan 2 anak secara normal. Itupun saya bantu dengan menarik bayi yang sudah setengah keluar dan segera memberi nafas dari mulut ke mulut karena bayinya sempat susah bernafas. Dua lagi kemudian tinggal di perut semalaman karena dia tidak sanggup lagi mendorong keluar bayinya. Lewat mukjizat Tuhan, dua bayi lagi kemudian lahir dengan selamat lewat bantuan dokter. Setelah lahir, sang induk pun merawat keempat anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia dengan telaten menjilati anak-anaknya agar senantiasa bersih. Sang induk ini sempat mengalami pendarahan selama dua bulan, menurut dokter ada pembuluh darah besar yang pecah di dalam ketika menjalani proses melahirkan. Kondisinya lemah selama sakit karena terus mengeluarkan darah. Meski demikian, sang induk terus melindungi anaknya dan menyusui mereka satu persatu hingga berusia 3 bulan. Setiap saat saya memandanginya dan tersenyum, betapa kasih seorang ibu itu begitu mulia. Anjing saja bisa seperti itu, alangkah ironisnya ketika ada beberapa ibu yang tega membuang atau bahkan membunuh bayinya. Tapi berapalah jumlah ibu yang kejam seperti itu dibanding milyaran ibu lainnya yang menunjukkan kasih tanpa batas kepada anak-anaknya. Mereka rela berkorban apapun agar anaknya hidup dengan layak. Mereka rela mengalami berbagai kesulitan selama bayi berada dalam kandungan, mereka rela menanggung rasa sakit yang begitu besar ketika melahirkan, dan sepanjang hidupnya mereka akan terus mengasihi dan memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Kasih yang tak terbatas itu membuat mereka tetap mengasihi meski perilaku anak-anak terkadang membuat mereka sedih bahkan sakit. Dalam banyak hubungan yang terjadi antara manusia, hubungan antara ibu dan anak jelas merupakan sebuah hubungan yang paling istimewa dan paling indah.

Sepanjang hidup kita akan terus menjalin hubungan dengan banyak orang. Beberapa bisa terjalin dengan mudah, hubungan bisa sehat dan positif dengan saling dukung, saling menguatkan, tetapi dengan beberapa orang kita mungkin bisa mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan. Mungkin memang kita tidak bermusuhan secara terbuka, tetapi hubungan bisa sulit untuk bertumbuh, bahkan bisa jadi sulit untuk terjadi. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, baik berkaitan dengan kita sendiri maupun orang lain. Perbedaan sudut pandang, perbedaan sifat, keegoisan, persaingan, kesan pertama yang buruk, atau bahkan karena ketidakmampuan salah satu pihak untuk berkomunikasi secara efektif bisa menjadi alasan sulitnya sebuah hubungan terjadi.

Mari kita lihat sosok Paulus. Kita tidak tahu apakah Paulus memiliki saudara. Sepertinya ia pun hidup melajang hingga akhir hidupnya. Tetapi meski demikian, Paulus memiliki hikmat dari Tuhan untuk mengetahui bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan para jemaat yang pernah ia kunjungi. Tidak peduli betapa sulitnya, betapa menantangnya atau bahkan harus melewati berbagai penganiayaan sekalipun, ia tetap teguh untuk menyampaikan Injil keselamatan dalam kasih kepada mereka. Paulus menulis surat-surat dari penjara kepada para jemaat, termasuk didalamnya jemaat Tesaloinika seperti menulis surat kepada anak-anaknya sendiri. Begitu intim, akrab dan penuh dengan pesan-pesan yang penting. Paulus peduli benar dengan semua jemaat agar mereka bisa terus teguh dalam iman barunya dan tidak ingin ada satupun konflik yang bisa membuat mereka lemah. Paulus menunjukkan kepedulian yang sangat tinggi sebagai bentuk perhatian dan kasihnya kepada mereka. Secara eksklusif Paulus menyebutkan pendekatan yang ia pergunakan dalam menjangkau anak-anaknya ini. Paulus menyebutnya dengan sebuah pendekatan layaknya kelembutan seorang ibu yang mengasuh anaknya. Lihatlah kata-kata Paulus dalam ayat berikut: “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” (1 Tesalonika 2:7). Seperti itulah Paulus menggambarkan bagaimana ia menempatkan diri kepada para jemaat, selembut seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya.

Lebih lanjut kita bisa melihat bagaimana ketulusan Paulus dalam rangkaian ayat-ayat dalam pasal 2 ini. Paulus mengatakan “Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.” (ay 2). Adakah ibu yang mundur jika anak-anaknya memerlukan kehadirannya? Tidak. Paulus pun demikian. Meski ia harus menghadapi siksaan dan hujatan sebelumnya di Filipi, ia tetap tegar menjangkau jiwa-jiwa baru dan terus melakukan follow up terhadap pertumbuhan mereka. Tidak ada jaringan internet, telepon atau apapun pada saat itu selain surat. Tapi Paulus terus menjalankan komitmennya yang didasari kasih untuk berlaku seperti ibu yang merawat anaknya. Paulus juga mengatakan bahwa motivasinya murni, tanpa pretensi untuk menyesatkan atau memanipulasi apapun. (ay 3). Lebih lanjut Paulus terus mendorong, menghibur dan menasihati mereka satu persatu, kali ini Paulus menyatakan dirinya seperti bapa yang mengasihi anak-anaknya. (ay 11-12). Tidak heran apabila kemudian kita melihat respon positif dari jemaat Tesalonika. Mereka menerima dengan baik pelayanan dan berita yang dibawa Paulus (ay 13). Ketulusan yang didasari kasih dan kemurnian hati akhirnya sanggup menjangkau banyak jiwa untuk bertobat dan masuk ke dalam janji keselamatan.

Dalam begitu banyak hal, kita tidak bisa melakukan apapun tanpa terlebih dahulu menjalin hubungan yang baik dengan sesama. Ada kalanya orang-orang tidak membalas uluran tangan kita seperti yang kita harapkan. Ada saat dimana kita mungkin merasa sia-sia karena usaha kita tidak dihargai. Ada orang-orang yang rasanya terlalu sulit untuk dijangkau. Jika demikian, ingatlah akan komitmen Paulus yang siap mengasihi tanpa batas dan tanpa syarat, bak kelembutan seorang ibu dalam menjaga atau merawat anak-anaknya agar bisa tumbuh dengan baik. Entah berhasil atau tidak, setidaknya kita dapat mengalami kasih Allah mengalir dalam hidup kita ketika kita memilih untuk terus melakukan apa yang sudah ditugaskan kepada kita, yaitu menyatakan kasih terhadap sesama tanpa memandang siapa atau apa latar belakang mereka. Rangkaian kasih yang dijabarkan dalam 1 Korintus 13:4-7 yaitu “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. a tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” merupakan  sebuah penjabaran kasih yang harus hidup dalam diri kita. Dalam situasi apapun, milikilah kelembutan dan kesabaran bagai seorang ibu, hanya dengan demikian kita bisa menunjukkan perilaku warga Kerajaan Allah secara benar di muka bumi yang sulit ini.

Bangunlah hubungan dengan kesabaran dan ketulusan dengan siapapun seperti keteladanan Paulus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: