Kelembutan Hati

Ayat bacaan: Bilangan 12:3
======================
“Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.”

kelembutan hati, lembut hati, lemah lembut

Betapa sulitnya menahan emosi ketika kita sedang stres, sedang menghadapi masalah, kurang tidur bahkan ketika menghadapi terik matahari. Hari ini di jalan pulang saya melihat seorang bapak yang sedang membonceng istrinya memaki-maki di tengah jalan. Ada mobil hendak belok membuatnya emosi, angkot berhenti membuatnya emosi, saya berada di belakangnya untuk waktu yang lumayan lama untuk bisa melihat tindak tanduknya. Mungkin sedang stres, mungkin banyak pikiran, banyak masalah atau apapun. Kita juga sering mudah terpancing emosi ketika kondisi kita sedang labil. Marah mungkin wajar untuk batas tertentu, asal tidak berkepanjangan dan berubah ke arah yang bisa membuka kesempatan bagi iblis untuk menjerumuskan kita ke dalam berbagai kejahatan. Tapi tidak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi sedini mungkin sebelum emosi kita menjadi melebar melebihi batas. Memiliki hati yang lembut akan membawa dampak yang positif baik dalam kehidupan di dunia ini maupun nanti setelah kita menyelesaikan masa ini.

Hari ini saya bertemu dengan ayat yang menyatakan bahwa Musa adalah seorang tokoh besar yang dikatakan memiliki kelembutan hati melebihi manusia lain di muka bumi. “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” (Bilangan 12:3). Bayangkan bangsa besar yang ia pimpin menuju tanah terjanji adalah bangsa yang dikatakan tegar tengkuk alias keras kepala. Bangsa Israel sudah mengalami berbagai bentuk mukjizat Tuhan, namun mereka tetaplah bangsa yang sulit berterimakasih. Mereka terus bersungut-sungut. Mengolok-olok, menyudutkan, menyindir, sinis, semua itu dialami Musa terus menerus selama puluhan tahun dari bangsa yang tengah ia pimpin sesuai dengan kehendak Tuhan. Saya membayangkan mungkin kalau kita di posisi Musa, bisa bertahan seminggu saja sudah bagus. Tapi Musa sanggup mengendalikan emosinya dan terus mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia perbuat.

Tuhan Yesus pernah mengingatkan kita agar memiliki hati yang lemah lembut. “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5). Ini adalah satu dari rangkaian ucapan bahagia yang diucapkan Yesus di depan orang banyak dari atas bukit. Lemah lembut seperti apa yang Yesus maksud? Dalam versi bahasa Inggris kita membaca rincian yang lebih detail: “the mild, patient, long suffering”. “lembut, sabar dan tabah”. Orang yang memiliki sikap seperti ini dikatakan Yesus akan memiliki bumi. Tuhan akan memenuhi janjiNya pada mereka ini, bukan kepada orang yang pendek kesabarannya, cepat emosi, kasar dan cepat mengeluh.

Sebuah tips diberikan Daud untuk bisa menjadi sabar. “Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” (Mazmur 37:1-5). Tuhan itu setia dan akan memperhitungkan baik buruknya perbuatan manusia. Kita diingatkan untuk senantiasa bergembira dan setia, serta menyerahkan hidup kita kepadaNya dengan kepercayaan penuh. Selanjutnya Daud berkata “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.” (ay 8-9). Ini paralel dengan apa yang dikatakn Yesus di atas. Kemarahan tidaklah mendatangkan hal baik tapi bisa membawa orang untuk terjerumus pada kejahatan, yang pada akhirnya akan dilenyapkan.

Yakobus mengingatkan pula agar kita cepat untuk mendengar, tapi lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah. (Yakobus 1:19). Mengapa demikian? “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (ay 20). Memang tidaklah mudah untuk bisa menahan diri, tapi itulah yang menjadi kehendak Tuhan dan berkenan di hadapannya. Mungkin sulit bagi kita untuk meniru figur Musa, tapi tidak ada salahnya untuk mulai mencoba. Adakah di antara teman-teman yang sedang emosi pada saat ini? Redakanlah, dan tersenyumlah. Rasakanlah bahwa Tuhan itu sungguh baik.

Miliki hati yang lemah lembut sesuai kehendak Bapa di Surga

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply