Kelemahan

Ayat bacaan: 1 Korintus 2:3
======================
“Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.”

kelemahan, kuasa Tuhan sempurna

Hari ini ketika menunggu jadwal mengajar selanjutnya, saya iseng membuka-buka skripsi beberapa siswa yang baru saja dikumpulkan ke bagian tata usaha. Sepertinya seragam, di setiap kata pengantar selalu saja ada bagian yang kira-kira berbunyi: “Penulis menyadari masih banyak kekurangan… untuk itu penulis mengharapkan masukan, kritik, saran yang bersifat membangun dan sebagainya”. Sebagian besar siswa mungkin memasukkannya karena itu merupakan pakem/pola umum penulisan laporan ilmiah, namun di balik itu, saya melihat sebuah pengakuan bahwa di atas bumi ini tidak ada satupun manusia yang sempurna 100% dalam segala hal. Rasanya tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang benar-benar sempurna baik secara fisik, mental, intelektual atau kerohanian. Kita manusia yang punya banyak kelemahan dalam berbagai hal. Kita bisa berusaha untuk lebih baik lagi, untuk lebih sempurna lagi, namun mencapai 100% sempurna dalam segalanya? Tentu sangat sulit, karena kita punya banyak keterbatasan kemampuan dalam segala sesuatu. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita memandang kelemahan kita. Apakah kita akan tenggelam mengasihani diri kita terus menerus akibat kelemahan-kelemahan itu, apakah kita memilih untuk menonjolkan kelemahan untuk mencari simpati dan empati sesama, atau kita bisa memandang bahwa kita tetap bisa berhasil dalam segala keterbatasan dan kelemahan kita, karena punya Tuhan yang jauh lebih besar dari apapun? Mampukah kita melihat kelemahan kita menjadi tempat dimana Tuhan menyatakan kuasaNya? Percayakah kita akan hal itu?

Nyatanya ada banyak orang yang berkubang di dalam kelemahannya. Apakah itu kelemahan secara fisik (cacat, lemah, sakit dan sebagainya), secara mental (trauma, emosi tidak stabil, kesedihan, kepahitan dan sebagainya), secara intelektual atau kecerdasan, sulit konsentrasi, sulit mengingat, sulit memahami dan sebagainya, semua seringkali menjadi penghalang bagi kita untuk melangkah maju. Bagaikan batu besar yang diikatkan ke kaki kita, hal itu membuat kita jalan di tempat, bahkan mungkin membuat kita menyerah. Ada pula orang yang menutupi kelemahannya rapat-rapat dan lebih menonjolkan sisi kelebihannya. Salah seorang sepupu saya dahulu punya rasa takut berlebihan jika bertemu dengan orang yang tidak ia kenal. Maka ia mengkompensasikan rasa takutnya dengan makan sebanyak-banyaknya dan berlatih karate, sehingga sosoknya menjadi besar dan menakutkan. Dengan sosok seperti itu, ia bisa merasa aman dari orang-orang yang mungkin mendekatinya. Tapi sebaliknya, ada pula orang-orang yang tetap mencapai sukses lewat kelemahannya. Mereka bahkan bisa menjadi sukses lebih dari orang lain yang lebih lengkap. Ada banyak penyanyi yang tuna netra. Stevie Wonder, Dianne Schuur, Ray Charles dan sebagainya. Django Reinhardt, seorang gitaris jazz legendaris ternyata bisa mencapai status maestro meski dua jarinya tidak bisa berfungsi. Ada pianis dari Korea yang mampu menampilkan permainan luar biasa meski total jumlah jari dari kedua tangannya hanyalah 4! Ada orang yang hanya memiliki sepasang kaki, namun kaki itu bisa dipergunakan untuk melukis lebih indah dari yang memiliki tangan lengkap. Begitu banyak contoh lain mengenai hal ini.

Mengakui kelemahan bukanlah hal yang memalukan. Paulus kepada jemaat Korintus dengan jujur mengakui bahwa sebagai manusia dia terbatas. “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” (1 Korintus 2:3). Sebelumnya ia menyatakan pula keterbatasannya dalam merangkai kata-kata agar terlihat indah dan puitis. “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.” (ay 1). Tapi Paulus datang hanya fokus kepada Yesus yang telah mati disalibkan demi menyelamatkan umat manusia, termasuk diantaranya Paulus dan teman-teman sepelayanan dan jemaat Korintus. Dasar pelayanan Paulus bukanlah untuk menonjolkan kehebatannya, namun semata-mata hanya karena ia mengasihi Kristus dan sangat bersyukur atas pengorbanan Kristus yang rela mati bagi dosa-dosanya, dosa-dosa orang yang ia layani, dan dosa-dosa kita saat ini. Dia sadar betul bahwa dirinya tidaklah berarti apa-apa tanpa Tuhan.

Dalam kesempatan lain, Paulus menyampaikan demikian: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9). Orang yang tidak mengakui kelemahan akan cenderung menjadi sosok yang meninggikan dirinya. Itu termasuk Paulus pula. Ia menyadari adanya kecenderungan itu dalam ayat sebelumnya. Sebagai manusia ia punya banyak kelemahan, namun kasih karunia Tuhan itu sesungguhnya cukup baginya, karena justru dibalik kelemahan itulah Tuhan secara sempurna menyatakan kuasaNya. Karena itu jangan malu untuk mengakui kekurangan kita, sebaliknya jangan pula sombong dan bermegah atas apa yang kita mampu. Hendaklah di atas segalanya, kita bermegah di dalam Tuhan, bukan di dalam diri sendiri. “Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” (1 Korintus 1:31).

Tuhan siap pakai siapa saja. Bahkan yang bagi dunia dipandang bodoh, lemah, hina dan tidak berarti sekalipun, bisa dipilih Tuhan. (ay 27-28). Ada begitu banyak contoh bahwa orang-orang yang tadinya tidak ada apa-apanya ternyata bisa dipakai Tuhan secara luar biasa.Janganlah kehilangan semangat jika anda merasa punya kelemahan di bidang-bidang tertentu. Jangan putus asa. Jangan tenggelam dalam kesedihan. Sekarang saatnya untuk bangkit. Percayalah bahwa Tuhan siap menunjukkan kuasaNya yang sempurna di atas segala kelemahan kita! Tidak satupun manusia di bumi ini yang diciptakan sia-sia, asal-asalan atau sengaja dibuat menderita. Tuhan punya rencana indah bagi siapapun kita. Jadi, tetaplah bersyukur dan mari buktikan bahwa kuasa Tuhan sanggup mengubah segalanya, bahkan di dalam kelemahan yang paling lemah sekalipun!

Kuasa Tuhan justru sempurna di dalam kelemahan kita 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply