Kekerasan Hati yang Membutakan

Ayat bacaan: Markus 3:5
====================
“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka…”

keras hati

Dalam rentang masa hidup saya hingga hari ini saya sudah bertemu dengan banyak orang yang keras hati. Mereka cenderung sulit menerima pendapat orang lain, merasa benar sendiri dan sangat sulit untuk diajak bicara. Mereka enggan untuk setuju dengan lawan bicara, lebih senang berdebat walau mungkin dalam hati mereka setuju dengan apa yang dikatakan orang lain. Pernahkah anda bertemu dengan orang seperti ini? Mereka terus dikuasai oleh kekerasan hatinya sehingga tumbuh menjadi orang yang degil. Kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang, tetapi adalah baik apabila kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk menyampaikan pendapatnya. Kedegilan itu bisa membutakan.dan bisa merugikan. Dengan membiarkan hati tetap keras bukan menunjukkan kehebatan kita, tetapi itu hanya akan membawa kerugian kepada diri kita sendiri.

Orang-orang Farisi menjadi contoh nyata akan hal ini. Mereka memiliki keadaan hati yang mendukakan hati Yesus. Hati mereka sangat keras dan itu mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain juga terhadap diri mereka sendiri. Dalam banyak kesempatan yang tercatat dalam Alkitab kita bisa melihat kemunafikan mereka. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci,paling tahu segalanya, paling hebat, dan kesombongan ini membuat hati mereka mengeras. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun lenyap dari diri mereka. Mari kita ambil salah satu contoh saja. Kita bisa melihat reaksi orang-orang Farisi ini ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6.

Ketika itu Yesus sedang berada di rumah ibadat dan bertemu dengan orang yang tangannya lumpuh sebelah. Melihat keadaan itu, tampaknya para orang Farisi melihat sebuah peluang untuk mencari perkara terhadap Yesus. Mereka tahu bagaimana Yesus mengasihi orang, dan mereka sudah bisa mengira bahwa Yesus akan menyembuhkan orang lumpuh itu meskipun hari itu adalah hari Sabat, yang menurut hukum Taurat tidak boleh dipakai untuk mengerjakan apapun. Perhatikanlah, Tuhan hadir tepat ditengah-tengah mereka. Seharusnya mereka menyadari hal itu. Jika mereka mengetahui seluruh hukum Taurat dan tulisan-tulisan para nabi terdahulu, mereka harusnya menyadari betul sosok yang berdiri di tengah mereka. Sebab Yesus jelas memenuhi syarat setiap nubuat mengenai kedatangan Mesias yang sudah tertulis di dalamnya. Tetapi lihatlah bagaimana kekerasan hati membuat mereka tidak lagi peka, bahkan menjadi buta dengan tidak mengenali jati diri Yesus. Bukannya bersyukur mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Yesus, mereka malah sibuk mencari-cari kesalahan. “Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.” (ay 2). Hati orang Farisi ini bukan saja keras untuk menerima Yesus, tetapi juga keras terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar mereka. Mereka lebih mementingkan tata cara, formalitas atau tradisi ketimbang mengasihi orang lain. Perhatikan apa saja tindakan orang Farisi pada saat itu. Mereka mengecam pekerjaan Tuhan, mereka lebih tertarik untuk melindungi tradisi keagamaan ketimbang mematuhi Firman Tuhan, mereka hanya mementingkan kesejahteraan mereka sendiri ketimbang orang lain, dan mereka juga lebih peduli akan pendapat orang ketimbang melakukan segala yang berkenan di hadapan Tuhan. Mereka menampilkan sosok yang sepertinya sangat suci, berdoa di jalan-jalan umum agar terlihat begitu alim. Sementara perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan itu semua.

Pernahkah anda melihat orang percaya dengan ciri-ciri seperti ini? Tentu saja. Jangan-jangan kita juga pernah, sempat atau malah masih melakukan hal seperti itu dalam hidup kita. Ada banyak orang percaya yang terperangkap dalam sikap yang sama seperti yang dilakukan orang-orang Farisi pada masa itu. Mereka cenderung merasa diri paling benar dan berhak untuk menghakimi orang lain, mereka ingin terlihat sangat alim di mata orang lain padahal perbuatan mereka dibelakang sangatlah berseberangan, mereka berpusat pada kepentingan diri sendiri dan tidak tertarik untuk memikirkan nasib orang lain. Sampai pada tahap tertentu, kita pun bisa menjadi mangsa dari kesalahan serupa seperti itu. Kita bisa terlalu asyik dalam melakukan dan mengucapkan hal-hal yang “benar” sehingga kita membiarkan kehangatan kasih Tuhan yang lembut dalam hati kita berubah menjadi dingin. Kita kemudian menjadi tidak lagi peka, dan itu sesungguhnya sangatlah berbahaya. Perhatikan reaksi Yesus terhadap sikap seperti ini. “Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka..” (Markus 3:5). Ya, itu mendukakan Yesus. Itu membuatnya kecewa. Jika orang-orang percaya terus melakukan hal seperti ini, bagaimana mungkin kebangunan rohani terjadi di setiap penjuru? Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan gerakan Tuhan yang luar biasa di antara kita? Tuhan rindu untuk mencurahkan RohNya dalam kuasa dan kelimpahan melalui kita, gerejaNya. Dia terus ingin kita dipenuhi seperti itu. Tetapi kita malah mengembangkan keadaan hati yang menahan Dia melakukan itu. Sebelum kita bermimpi mengalami ini semua, kita harus terlebih dahulu membuang jauh-jauh kedegilan dan kekerasan hati seperti yang menguasai diri para orang Farisi itu.

Firman Tuhan berkata: “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya. (Amsal 14:8). Kekerasan hati bisa menipu kita, membuat kita tidak peka atau terjebak pada kebodohan diri sendiri. Itulah sebabnya kita diingatkan “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Efesus 5:15). Firman Tuhan juga jelas berkata “Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibrani 3:15). Hal ini penting untuk kita cermati. Hati merupakan pusat kontrol dari segalanya, dan segala kecemaran itu timbul dari hati yang tidak terjaga dengan baik. “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:21-22). Hari ini juga, jika kita menginginkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan melihat langsung manifestasiNya dalam gereja dimana anda bertumbuh, kita harus memeriksa kembali keadaan hati kita masing-masing. Jika kita menemukan ada bagian-bagian yang keras dalam hati kita, bertobatlah dan lembutkan segera. Tanpa itu semua kita tidak akan bisa mencapai apa-apa dan hanya akan mendukakan Kristus dan mengecewakanNya. Bagaimana keadaan hati kita hari ini? Periksalah dengan baik sekarang juga dan jangan tunda lagi.

Kekerasan hati bisa membutakan, membuat tidak peka, merugikan bahkan membahayakan hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: