Kehilangan Kasih Mula-Mula (7) : Kemapanan

Ayat bacaan: Yeremia 48:11====================
“Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah.”

kemapanan, kehilangan kasih mula-mula

Kita selalu berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari berbagai problema kehidupan yang membebani kita. Kita meminta Tuhan menenangkan badai yang mengombang ambingkan kita. Kita selalu berharap Tuhan menjawab doa kita, menurunkan mukjizat-Nya yang ajaib sehingga kita bebas dari belenggu masalah. Tapi banyak diantara kita yang kemudian melupakan Tuhan ketika badai berhenti dan laut sudah tenang. Ketika permasalahan telah diangkat dari kita, hidup menjadi baik-baik saja, kita mulai merasa mapan dan tenang tanpa masalah, kita lupa untuk terus mengucap syukur dan malah sibuk dengan kenikmatan duniawi yang kita miliki. Ini salah satu hal yang ironis. Di satu sisi kita ingin agar bebas dari pergumulan hidup kita, tapi di sisi lain, kemapanan dan kenyamanan kemudian bisa membuat kita secara perlahan melupakan Tuhan, yang memberi kita kemerdekaan. Ya,orang bisa kehilangan kasih mula-mula akibat kenyamanan atau kemapanan, akibat hidup yang tenang seperti laut tanpa angin kencang.

Ayat bacaan hari ini adalah mengenai Moab. Moab adalah gambaran dari orang-orang yang merasa aman dan tenang untuk waktu yang lama, dalam kondisi yang sebenarnya masih terhilang. Tidak jarang orang yang berada dalam kemapanan merasakan bahwa mereka telah memiliki segalanya dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan dalam hidup mereka. Mereka merasa bahwa semua yang mereka dapat adalah buah dari kerja keras mereka, dan bukan karena berkat Tuhan turun atas mereka. Moab digambarkan bagaikan anggur tua di atas endapan, tidak pernah terguncang, dituang dari bejana ke bejana atau dibuang. Orang-orang Moab menjadi statis, tidak bertumbuh. Tidak hanya itu, mereka pun menjadi angkuh. “Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kesombongannya, keangkuhannya dan kecongkakannya, tentang tinggi hatinya.” (Yeremia 48:29). Mari tanyakan pada Firaun atau Nebukadnezar atau Belsyazar. Mereka adalah raja-raja terkenal dalam Perjanjian Lama dengan kekayaan berlimpah, namun tidak merasa perlu untuk mendengar Tuhan. Apa kata Tuhan untuk bangsa Moab? “Sebab itu, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan mengirim kepadanya tukang-tukang yang akan menuangkannya, mencurahkan tempayan-tempayannya dan memecahkan buyung-buyungnya.” (ay 12). Dengarlah, ada masa ketika Tuhan merasa perlu untuk mengguncang kemapanan itu agar manusia kemudian berbalik mencari Tuhan, belajar mengandalkanNya dan akhirnya mengerti bahwa apapun yang dimiliki, segala kemapanan dan kenyamanan hidup itu tidak lain adalah berkat luar biasa dari Tuhan.

Puji Tuhan jika ketika tempayan penyimpan anggur itu digoyang, orang akan tersadar dan berbalik, bertobat dan kembali pada kasih mula-mulanya pada Tuhan, karena tidak semua manusia mampu menyadari hal tersebut sebagai sebuah teguran dari Tuhan. Kitab Wahyu menuliskan: “Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan,dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian.” (Wahyu 9:20-21). Artinya tetap ada manusia yang bukannya sadar, tapi malah bersungut-sungut menganggap Tuhan itu kejam dan tidak berhenti menyembah “berhala-berhala” lain seperti harta kekayaan, patung-patung, benda-benda yang dianggap membawa keberuntungan dan sebagainya. Bagaimana Tuhan menghukum “anggur tua yang mengendap diam” seperti bangsa Moab? Demikian firman Tuhan: “Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat! Maka harta kekayaannya akan dirampas dan rumah-rumahnya akan menjadi sunyi sepi. Apabila mereka mendirikan rumah, mereka tidak akan mendiaminya; apabila mereka membuat kebun anggur, mereka tidak akan minum anggurnya.” (Zafanya 1:12-13).

Tuhan tidak menginginkan kita kehilangan kasih mula-mula ketika kita diberi berkat dan dilepaskan dari kesulitan hidup atau sakit penyakit. Tuhan ingin kita bersyukur, memuliakan Dia bukan saja dalam hidup kita, tapi juga dalam segala tindakan dan perbuatan kita, menjadi terang dan garam bagi dunia. Tuhan tidak menginginkan kita kemudian lupa bersyukur dan terlena dalam kemapanan dan kenyamanan, tapi Tuhan ingin kita semua memberi kesaksian pada dunia betapa hebat dan ajaibNya pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Saya berdoa jika ada diantara teman-teman yang dalam kemapanan hidup tanpa masalah kemudian kehilangan rasa mengasihi Tuhan, tidak lagi merasa haus dan lapar akan Dia, bertobatlah dan baliklah segera. Saya berdoa agar jangan sampai Tuhan harus menurunkan tongkat penghukumNya seperti pada bangsa Moab. Jangan sampai ucapan Tuhan yang mengerikan ini kembali keluar seperti yang Dia tujukan pada Belsyazar lewat Daniel: “tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan” (Daniel 5:27). Karena sebagai anak-anak Tuhan yang baik, kita seharusnya cepat sadar dan kembali pada kasih mula-mula. Bagi teman-teman yang mungkin tengah mengalami proses, bersabarlah dan jangan bersungut-sungut, ingatlah bahwa untuk membuat bejana yang indah itu butuh proses yang terkadang terasa menyakitkan. Namun ketika anda selesai dibentuk menjadi sebuah bejana yang indah, jagalah tetap kasih mula-mula dan teruslah memuji dan menyembah Tuhan. Allah selalu menyatakan kasihNya pada kita. Bahkan lewat karya penebusan Kristus, itu menjadi sebuah bukti nyata betapa Tuhan selalu rindu untuk merangkul manusia yang berdosa untuk menjadi anak-anakNya yang terkasih. Mari kita senantiasa menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup kita, selalu menjaga kasih mula-mula tetap menyala, sehingga kita tidak perlu mengalami hukuman Allah dalam melalui proses pembentukan atau perjalanan hidup kita.

Ketika hidup tenang tanpa badai, jangan terlena pada kenyamanan tapi tetaplah bersyukur pada Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply