Kehilangan Kasih Mula-Mula (6) : Pergaulan Buruk

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:33
======================
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

hilang kasih mula-mula, pergaulan buruk

Masih ingat renungan tentang HIV bulan Agustus lalu? Disana saya menceritakan tentang seorang mahasiswa saya yang ternyata terjangkit HIV akibat penggunaan narkoba lewat pemakaian jarum suntik. Bagaimana ia bisa terkena penyakit mematikan ini? Semua adalah akibat pergaulan yang salah. Teman-temannya sesama pemakai hanya mengatakan bahwa memakai narkoba itu enak dan tidak pernah menyinggung tentang bahaya yang ditimbulkan. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah besar dalam hidup yang berujung pada penyesalan. Hamil diluar nikah akibat salah memilih pasangan yang tidak baik, menjadi pemabuk akibat terbiasa minum-minum bersama teman, kecanduan clubbing/dugem tanpa kenal waktu, terjerumus pada macam-macam kejahatan, menderita penyakit mematikan akibat kebiasaan buruk dan tidak menjaga tubuh dan lain-lain semuanya seringkali berawal dari bentuk pergaulan yang buruk. Itu contoh ekstrim. Untuk kasus yang lebih “ringan”, ada teman-teman atau lingkungan yang hobinya mematahkan semangat kita dengan pernyataan-pernyataan negatif. Bayangkan betapa sulitnya tumbuh jika kita ada dalam sebuah lingkungan negatif seperti ini. Contoh lain, ada orang yang merasa sungkan untuk berdoa sebelum makan ketika berada bersama teman-temannya yang berbeda keyakinan. Bahkan tidak jarang ada pula yang menyangkal kekristenan dirinya karena tidak ingin tersisih dalam pergaulan. Semua ini adalah contoh nyata dari dampak yang ditimbulkan dari pergaulan yang buruk. Ketika orang mulai mengorbankan imannya demi pergaulan atau lingkungannya, kasih mula-mula pun akan terkikis hingga lama-lama hilang.

Lingkungan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter kita. Dalam ayat bacaan hari ini, Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk berhati-hati dalam memilih pergaulan agar mereka tidak sampai sesat. Ajakan yang sama tentunya berlaku untuk kita, terutama hari-hari ini dimana begitu banyak pergaulan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai bentuk dosa terutama lewat keinginan daging. Dalam ayat lain, Paulus pun mengingatkan agar kita jangan bergaul dengan orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu, sekalipun mereka menyebut diri mereka saudara. (1 Korintus 5:11). Semua ini bertujuan baik, agar kita tidak terpengaruh, kehilangan kasih mula-mula dan mengalami degradasi iman. Jika tidak berhati-hati, tanpa sadar kita menjadi semakin jauh dari Tuhan dan akibatnya dapat terjerumus dalam kuasa kegelapan. Kita pun akan kehilangan semua janji Allah. Karenanya kita harus berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan kita. Setidaknya kita harus mampu menyaring atau menetralisir dampak dari sebuah lingkungan pergaulan yang buruk.

Disisi lain, kita tidak boleh juga bertindak terlalu ekstrim hingga kita menganggap orang yang berbeda keyakinan sebagai kenajisan. Dalam Kisah Para Rasul 10:28, Petrus mengatakan bahwa dalam menghadapi orang lain yang berbeda, kita tidak boleh menyebut mereka najis atau tahir (haram). Kita tetap harus membuka diri, karena Tuhan mau pakai kita untuk menyatakan kemuliaanNya dan mengenalkan kasih Kristus pada orang lain. Tuhan butuh hati kita untuk mengasihi, butuh tangan-tangan yang menyembuhkan, butuh kaki kita untuk pergi bergerak dan suara untuk menyatakan kebenaran. Sebagaimana kita merasakan kasih Allah dalam hidup kita, seperti itu pula kita harus mengasihi saudara-saudara kita yang lain. “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (1 Yohanes 4:11). Tanpa membuka diri dan melihat saudara-saudara yang belum mengenal Kristus dengan kacamata kasih, kita tidak akan mampu mengenalkan pribadi Yesus lewat segala hal yang kita lakukan. Jadi kita tetap harus mau membuka diri dan mengasihi tanpa terkecuali, namun dilain pihak kita tetap harus menjaga diri kita agar berbagai keinginan daging yang berbuah dosa tidak sampai mencemari kita. Yang penting iman kita harus mampu terus bertumbuh, bukan sebaliknya malah berkompromi dengan dunia.

Sangat baik, jika kita mampu menjadi terang dalam kegelapan, namun pada saat yang sama berhati-hatilah agar kita tidak malah ikut-ikutan menjadi gelap. “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Galatia 6:1). Kita harus terus memastikan agar kasih mula-mula tidak redup bahkan padam sambil tetap mengulurkan tangan bagi mereka yang sesat agar kembali kepada Bapa. Tetaplah tekun menjaga iman, jangan mengorbankannya demi berkompromi dengan dunia. Jika anda mulai merasa tawar dan kehilangan kasih mula-mula dalam sebuah lingkungan pergaulan, kembalilah segera pada Tuhan dan jangan biarkan diri anda terjerumus makin dalam. Tuhan sangat mengasihi kita dan ingin kita pun tetap mengasihiNya seperti saat pertama kali kita jatuh cinta padaNya.

Miliki iman yang terus bertumbuh dan jangan sampai terpengaruh pada pergaulan yang buruk

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply