Kehilangan Kasih Mula-Mula (3) : Kepahitan Terhadap Sesama Manusia

Ayat bacaan: Wahyu 8:11
=======================
“Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.”

kepahitan terhadap manusia, kehilangan kasih mula-mula

Kalau kemarin kita melihat hal kepahitan terhadap Tuhan, hari ini mari kita melihat kepahitan terhadap sesama manusia. Ada kalanya dalam perjalanan hidup kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan akibat perbuatan orang lain seperti ditolak, ditipu, dikhianati, dikecewakan, dilukai dan sebagainya. Hal-hal seperti ini menimbulkan luka dan terkadang membekas dalam diri kita. Endapan bekas itu kemudian menjadi trauma dan timbullah kepahitan dalam hidup. Seringkali kepahitan ini timbul bukan terhadap orang-orang yang jauh dari kita, tapi justru terhadap orang-orang yang dekat dengan kita. Orang yang kita cintai, orang-orang yang seharusnya bisa kita percaya, tetapi ternyata malah menyakiti perasaan kita. Begitu banyak istri yang mengalami kepahitan terhadap suaminya akibat dikhianati, anak yang mengalami kepahitan terhadap orang tuanya akibat tidak diperhatikan atau pengalaman-pengalaman traumatis di masa kecil, kepahitan terhadap saudara sendiri dan lain-lain. Orang yang mengalami kepahitan lama-lama akan mengalami krisis kepercayaan. Mereka akan selalu dilingkupi rasa curiga, akan selalu merasa tidak aman, yang seringkali berlebihan. Mereka akan sulit percaya agar tidak terjebak untuk kesekian kalinya. Mereka akan membangun tembok tebal dan tinggi dimana mereka akan mengurung diri mereka didalamnya. Ada seorang teman yang trauma karena dikhianati kekasihnya, dan saat ini ia tidak berani untuk menerima orang lain. Ia berkata bahwa ia harus menjaga jarak dari siapapun, tidak mau terlalu dekat dengan siapapun, karena semua orang punya potensi untuk mengecewakannya. Ia juga menjadi rendah diri,selalu merasa kurang dari orang lain. Rasa sulit percaya pada orang lain ini adalah masalah hati, yang jika dibiarkan berlarut-larut lama kelamaan akan mencemarkan kerohanian juga. Mereka pun akan sampai kepada tahap dimana mereka sulit percaya pada Tuhan, dan akhirnya kehilangan kasih mula-mula.

Saya mengerti bahwa terkadang tidaklah mudah bagi kita untuk mengampuni, apalagi jika kepahitan itu timbul akibat sesuatu yang sangat menyakitkan dan traumatis. Perkosaan, pelecehan seksual, siksaan dalam waktu lama dan lain-lain bisa membuat para korban merasa masa depannya hancur sehingga mereka akan sulit untuk melangkah ke depan. Tapi Alkitab tetap mengajarkan untuk mengampuni, seperti Tuhan pun senantiasa siap untuk mengampuni kita. Kita manusia yang tidak luput dari kesalahan dan terus berbuat dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23), tapi lihatlah betapa Allah begitu mengasihi kita. Ayat selanjutnya berkata “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (ay 24). Itulah bentuk kasih Tuhan pada kita. Berkali-kali kita jatuh dalam dosa, tapi Tuhan tetap tidak kenal lelah memberi pengampunan. Inilah prinsip pengampunan yang tuntas. Dia tidak akan mengungkit lagi dosa-dosa di masa lalu yang telah kita akui dengan pertobatan sungguh-sungguh. Bentuk kasih seperti inilah yang diajarkan Kristus untuk kita lakukan. Dalam Matius 28:22, menjawab pertanyaan Petrus, Tuhan Yesus berkata bahwa kita haruslah mengampuni tidak hanya tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ini menggambarkan pengampunan tak terbatas yang harus mampu kita sediakan. Lalu Yesus juga mengingatkan: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:3-4). Yesus meminta kita untuk menjaga diri agar selalu siap untuk memberikan pengampunan tanpa terkecuali dan tanpa batas. Selanjutnya ada hubungan kuat antara mengampuni dan diampuni. “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”) (Markus 11:26).

Kita harus mampu membuang segala kepahitan dalam hidup dan menggantikannya dengan kemampuan untuk mengampuni sebagaimana Tuhan sendiri mengampuni kita lewat Kristus. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31-32). Menghadapi kepahitan terhadap orang lain kunci pertamanya adalah memaafkan. Bukan sekedar memaafkan dari luar, tapi kita harus mampu memberi pengampunan tulus dan ikhlas yang berasal dari hati. Tanpa melakukan hal ini, kita akan terhalang untuk menerima berkat dan pertolongan Tuhan. Percayalah Tuhan mampu mengangkat kepahitan itu hingga ke akar-akarnya bahkan menggantikannya dengan damai sukacita dalam hidup yang berkelimpahan. Jika kita lihat ayat bacaan hari ini, sebuah bintang besar bernama Apsintus jatuh dari langit kemudian membuat sepertiga dari semua air menjadi pahit, dan orang yang meminumnya akan mati. Kepahitan itu mematikan. kepahitan terhadap orang lain haruslah diatasi sesegera mungkin agar tidak menjadi racun yang menghilangkan kasih mula-mula, terus menghancurkan bahkan mematikan kita. Jangan sampai kepahitan membuat kita kehilangan kasih mula-mula, tapi berikanlah pengampunan, tetaplah ingat kasih Allah, tetaplah percaya pada kuasaNya, sehingga Tuhan akan mengobati kepahitan itu dan menggantikannya dengan damai sejahtera, sukacita dan berkat-berkat lainnya.

Kepahitan itu mematikan. Pilihlah hidup yang penuh berkat dan kelimpahan dengan menjaga kasih mula-mula tetap menyala

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply