Kehilangan Kasih Mula-Mula (2) : Kepahitan Terhadap Tuhan

Ayat bacaan: Ibrani 12:15
====================
“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”

kepahitan terhadap manusia, kehilangan kasih mula-mula

Ada sebuah survei yang pernah saya baca di majalah mengatakan bahwa 70% orang marah akan sesuatu. Kemarahan bisa berasal dari berbagai masalah, ketidakpuasan atau kecemburuan. Rasanya tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah marah. Kemarahan ini dalam waktu tertentu bisa berubah menjadi kepahitan jika dibiarkan berlarut-larut. Kemarahan tidak hanya diarahkan kepada sesama manusia, tapi ada pula yang marah hingga mengalami kepahitan kepada Tuhan. Kenapa? Banyak alasannya. Misalnya, ada yang mengalami kepahitan karena orang yang sangat mereka sayangi mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya atau mungkin juga kematian. Adik saya sendiri mengalami kepahitan sejak ibu kami meninggal. Disaat ibu kami meninggal, dua keadaan yang kontras terjadi. Saya mendapat pengalaman-pengalaman rohani luar biasa sehingga bertobat dan menerima Kristus, sedangkan adik saya mengalami kepahitan karena tidak rela ibu dipanggil Tuhan. Ada yang merasa apa yang mereka alami tidaklah adil. Ada banyak orang yang kecewa pada Tuhan karena ia melihat rekan sekerjanya mengalami karir yang meningkat pesat sementara mereka masih jalan di tempat, atau teman di kampus yang jarang masuk dan kerjanya menyontek mendapatkan nilai lebih baik daripada dirinya yang mati-matian belajar. Ada pula yang mengalami kepahitan akibat didera kemiskinan, tekanan hidup, masalah bertubi-tubi dalam waktu yang lama. “Buat apa beribadah? Toh hidup sama saja, terus menderita dan kekurangan..” Ini kira-kira keluhan seorang supir angkot yang pernah saya dengar.

Dalam Alkitab pun beberapa kali kita menemukan kisah tentang kepahitan. Ayub misalnya, pernah berkata: “Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?” (Ayub 9:22-24). Kepahitan Ayub terus berlanjut, lalu ia berkata: “Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya. Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembus-Nya dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkan-Nya ke tanah. Ia merobek-robek aku, menyerang aku laksana seorang pejuang.” (Ayub 16:12-14). Pada kisah lain, kita melihat juga Naomi pernah mengalami kepahitan. Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (Rut 1:20-21). Yesus pernah pula menggambarkan kekecewaan dan kemarahan manusia akibat merasa diperlakukan tidak adil dalam perumpamaan tentang penggarap kebun anggur pada Matius 20:9-19.

Kepahitan dalam ayat bacaan di atas digambarkan dengan menarik. Kepahitan digambarkan sebagai akar. Sebuah pohon tumbuh akibat suplai makanan dari akar. Apabila akar ini pahit, maka kepahitan akan mencemari pohon mulai dari batang, ranting hingga daun. Kepahitan yang mengakar tidak saja merugikan diri sendiri tapi bisa membuat orang berpikir pendek dan akhirnya menimbulkan kekacauan. Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi pada kita. Kepahitan pada Tuhan ini akan timbul jika kita tidak melihat kejadian-kejadian yang kita alami dalam kerangka yang lebih besar. Jika kita melihat hanya pada saat ini, dengan kemampuan nalar manusia yang terbatas, mungkin kita akan melihat apa yang kita alami hanyalah penderitaan, ketidakadilan bahkan timbul rasa ketidakpedulian Tuhan pada kita. Tapi ingatlah bahwa rancangan yang disediakan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11), Ia juga menjanjikan kita sebuah hidup yang dipenuhi segala kelimpahan. (Yohanes 10:10). Dan Tuhan pun mengingatkan pada kita: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Kepahitan akan membuat kita semakin jauh dari Allah dan kehilangan kasih mula-mula, kemudian kehilangan kesempatan untuk menerima berkat-berkatNya.

Jika anda saat ini tengah mengalami kepahitan, berdoalah dan miliki kembali iman tanpa keraguan. Percayalah bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia, tidak pernah meninggalkan kita dan selalu peduli. Tuhan sangat mengasihi kita. Mari kita periksa diri kita, apakah kita telah hidup sesuai firmanNya. Jangan sampai ada berkatNya terhalang karena kita belumlah hidup benar. Jangan sampai ada hal-hal yang kita lakukan tidak berkenan di hadapanNya dan karenanya kita mengalami berbagai penderitaan, yang sebenarnya bukan dari Tuhan tapi adalah sebagai konsekuensi dari tindakan kita yang salah. Kita hendaknya tetap menjaga diri agar tidak mengalami kepahitan yang tidak akan membawa apa-apa yang lebih baik kepada kita. Ketika hujan dan badai sirna, kita akan melihat pelangi yang indah. Ayub akhirnya menyadari kesalahan pola pikirnya dan berhenti menyalahkan Tuhan. (Ayub 42:1-6). “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (ay 2), “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (ay 5-6). Seperti Ayub yang kemudian menyadari kesalahan pola pikirnya, mari kita yang mengalami kepahitan kembali datang pada Tuhan. Berbaliklah sekarang juga. Alami kembali kasih mula-mula, karena tidak ada rencana Allah yang gagal atau sia-sia. Tuhan mengasihi anda!

Kepahitan akibat kekecewaan atau kemarahan pada Tuhan berasal dari kerangka pemikiran sempit. Percayalah akan rencanaNya yang indah bagi anda

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply