Keep on Running Like Akhwari (2)

(sambungan)Seperti apa sebenarnya ‘berlari dengan begitu rupa’ itu? Berlari begitu rupa menunjukkan sekuat, setekun dan segigih apa kita siap berjuang hingga mencapai garis akhir dengan hasil yang terbaik. Artinya, itu berhubungan dengan kesiapan kita….

(sambungan)

Seperti apa sebenarnya ‘berlari dengan begitu rupa’ itu? Berlari begitu rupa menunjukkan sekuat, setekun dan segigih apa kita siap berjuang hingga mencapai garis akhir dengan hasil yang terbaik. Artinya, itu berhubungan dengan kesiapan kita. Baik pola latihan, komitmen maupun faktor-faktor yang berkaitan dengan pembangunan karakter maupun mental seperti ketekunan, keseriusan, disiplin, kerelaan untuk berkorban/bayar harga, kegigihan dan sebagainya. Seperti halnya atlit di gelanggang olahraga, demikian pula kehidupan iman kita. Kita harus terus melatih diri kita beribadah, terus berusaha lebih dalam lagi dan lebih dekat lagi dengan Tuhan, rajin mencariNya, mampu menguasai diri kita dari berbagai godaan duniawi, tekun mempelajari firman-firmanNya dan melakukanNya.

Akan ada banyak rintangan, kesulitan, masalah dan sebagainya yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini yang mungkin saja membuat kita harus tertatih-tatih dalam berlari seperti halnya Akhwari. Terkadang rintangan bisa begitu berat sampai-sampai kita tergoda untuk menyerah saja di tengah jalan, berhenti berlomba dan melupakan garis akhir untuk menerima mahkota. Bisa jadi demikian, tetapi seperti Akhwari, hendaknya itu jangan sampai menjadi penghalang untuk sukses. Apapun keadaannya, Roh Allah dalam diri kita seharusnya mampu menguatkan kita untuk terus berlari, berlari dan berlari hingga mencapai garis akhir sebagai pemenang. Apabila kita mau sungguh-sungguh bertekun dengan benar dalam menjalaninya dan terus mengandalkan Tuhan yang berdiam dalam diri kita, seharusnya tidak ada rintangan apapun yang mampu memutus jalur perlombaan kita hingga ke garis akhir tersebut.

Apa yang menjadi hadiah dalam menghadapi perlombaan di kehidupan kerohanian kita? Paulus melanjutkan ayat diatas dengan “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (ay 25). Ya, itulah hadiahnya. Ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana, melinkan sebuah mahkota yang abadi. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan-rintangan hingga mencapai finish dengan gemilang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yakobus 1:12).

Kita sesungguhnya telah dibekali segala sesuatu untuk menjadi pemenang. Bahkan Alkitab berkata kita lebih dari pemenang. “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37). Karena itu selain usaha-usaha kita di atas, kita perlu pula memiliki mental juara. Kita harus tahu seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan dan sasaran, atau arah kita harus pula jelas. Kita lihat Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” (1 Korintus 9:26).

Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang tidak berguna, hal yang sia-sia bahkan yang merupakan kejahatan di mata Tuhan. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasinya, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, keep running on track and do it the best you can. Jangan terus menerus menoleh ke belakang, melihat berbagai kegagalan di masa lalu yang akan memperlambat laju kita untuk mencapai garis finish, bahkan yang sepertinya terlihat masuk akal untuk bisa menggagalkan kita. “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Anda siap? Selamat berlomba, teruslah berlari dan jadilah pemenang sejati seperti Akhwari.

Berlarilah begitu rupa sehingga kita mampu meraih mahkota kemenangan yang telah dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply