Keep It Up

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:1
========================
“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.”

bersungguh-sungguh, serius, tidak main-main,keep it up, tingkatkan

Selama sekian tahun mengajar, saya mendapatkan sebuah kesimpulan menarik dari pengalaman saya selama ini. Ketika ada banyak orang menganggap bakat akan sangat penting, dari apa yang saya amati, bakat hanyalah berperan sangat kecil terhadap kesuksesan siswa-siswi saya, jika tidak disertai dengan kesungguhan dalam belajar. Ada banyak siswa yang penuh bakat dan diperkirakan akan sukses, tetapi kenyataannya mereka tumbang di tengah jalan. Sebaliknya anak-anak yang giat berusaha meskipun mereka tidak memiliki bakat sehebat teman-temannya ternyata mereka jauh lebih sukses. Bakat tanpa disertai kesungguhan tidak membawa hasil apa-apa, namun kesungguhan tanpa disertai bakat bisa membawa hasil yang baik. Ini yang selalu saya tekankan pada siswa-siswi saya, terutama bagi mereka yang merasa tidak berbakat menekuni pelajaran yang diberikan. Ketika ada kemauan untuk belajar itu adalah langkah bagus. Tapi alangkah lebih baik lagi ketika mereka lebih bersungguh-sungguh lagi dalam belajar, karena hasilnya pasti akan berbeda.

Kita membutuhkan usaha yang lebih keras untuk menghadapi dunia yang semakin sulit ini jika mau bertahan hidup. Tidak ada tempat buat bermalas-malasan. Dalam pendidikan atau pekerjaan kita dituntut untuk lebih serius lagi, begitu pula dalam hal kerohanian. Kita hidup di dunia yang membuka banyak peluang penyesatan dan penyimpangan lewat segala hal. Dahulu saja sebelum dunia memberikan begitu banyak alternatif yang bisa merusak, Paulus sudah memberi nasihat kepada jemaat Tesalonika. Dikatakan bahwa mereka sudah menuruti, menjalankan hidup yang berkenan kepada Allah, tetapi Paulus menasehati mereka untuk lebih bersungguh-sungguh lagi meningkatkan hal itu. “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. (1 Tesalonika 4:1). Keep it up! Karena hasil antara yang sekedar menuruti dan yang bersungguh-sungguh melakukan tentu berbeda. Apa yang dikehendaki Allah adalah kekudusan kita. Hidup dalam pengkudusan dan penghormatan. Menjauhi percabulan, tidak hidup menurut keinginan hawa nafsu, karena itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. (ay 3-5). Adalah baik jika sudah mulai melakukan, tetapi hendaklah hal itu ditingkatkan lagi dengan lebih bersungguh-sungguh.

Kata bersungguh-sungguh artinya melakukan dengan serius dan tidak main-main, tidak menganggap enteng. Adalah sangat penting hari-hari ini bagi kita untuk tidak menganggap sepele ibadah kita. Lebih seriuslah untuk membangun hubungan dengan Tuhan, melakukan segala sesuatu yang berkenan kepadaNya lebih lagi. Berhati-hatilah jangan sampai kita hanya berada pada situasi hangat-hangat kuku, karena firman Tuhan sangat keras berkata mengenai hal ini. “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16).

Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita agar terus berusaha untuk sempurna, semakin menuju kepada karakter Bapa yang sempurna. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Untuk ini diperlukan tingkatan yang lebih. Seperti apa gambarannya? Yesus menjabarkannya dengan lengkap. Ketika ahli-ahli Taurat berkata jangan membunuh, kita dituntut untuk tidak marah dan memaki orang lain. (ay 22). Ketika dunia memelihara dendam, kita diminta untuk segera berdamai. (ay 25). Ketika firman Tuhan berkata jangan berzinah, kita diingatkan bahwa lewat memandang wanita dan menginginkannya dalam hati saja kita sudah berzinah. (ay 27-28). Ketika manusia diminta untuk tidak bersumpah palsu, kita diminta untuk jangan bersumpah sama sekali. (ay 33-35). Ketika dunia menghalalkan kebohongan demi kebaikan, atau dikenal juga dengan “white lies”, kita diminta untuk sama sekali tidak berbohong, baik “hitam” maupun “putih”. (ay 37). Ketika hukum dunia mengenal “an eye for an eye”, mata ganti mata, kita justru harus memberi pipi kiri kita ketika pipi kanan kita ditampar. (ay 38-39). Ketika orang baik berjalan satu mil, hendaklah kita berjalan dua mil. (ay 41). Ketika dunia mengajarkan kasihi sesamamu dan bencilah musuhmu, Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. (ay 43-44). Ini semua menunjukkan tingkatan yang berbeda, dan itu semua memerlukan kesungguhan yang lebih dari kita. Sebab jika hanya mengasihi, orang di dunia pun banyak yang mengasihi. Jika kita hanya memberi salam pada saudara-saudara sendiri saja, dunia pun berbuat hal yang sama. Untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, semakin menyerupai Bapa yang di Surga, maka kita perlu meningkatkan lagi keseriusan kita dalam mentaati Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh.

Dimana posisi kita saat ini? Apakah kita masih sama sekali tidak peduli, sudah sampai pada tingkat melakukan, tapi masih sekedar menjalankan, masih naik turun, atau sudah bersungguh-sungguh dalam Tuhan? Jika masih belum mulai, mulailah sesegera mungkin. Jika sudah, mari tingkatkan lagi lebih serius dan sungguh-sungguh. Karena hari-hari ini tidaklah gampang. Sudah rajin beribadah, sudah aktif dalam persekutuan, sudah rajin membaca firman Tuhan, itu memang bagus. Tapi seperti halnya jemaat Tesalonika, kita perlu meningkatkannya lebih lagi lewat perbuatan, perkataan dan segala aspek kehidupan kita, hingga kita bisa mencerminkan pribadi Kristus, Sang Terang Dunia. Bersyukur ketika hidup sedang nyaman mungkin mudah, namun bisakah kita tetap bersyukur dan bersukacita ketika sedang didera persoalan? Untuk mencapai itu butuh usaha yang lebih sungguh-sungguh lagi. Ingatlah bahwa selalu ada perbedaan nyata antara hanya “melakukan” dengan “melakukan dengan sungguh-sungguh”. Hasil yang di dapat pun akan berbeda. Ketika dalam pekerjaan, pelajaran atau pelayanan saja hasilnya sudah begitu nyata, apalagi dalam hal kerohanian.  So, let’s keep it up!

Sudah memulai itu baik, sekarang mari lakukan dengan lebih sungguh-sungguh lagi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply