Keajaiban Cinta

< ![endif]-->

JAM masih menunjukkan pukul lima, saat saya terjaga di kasur empuk saya di hostel.  Rasanya masih ingin melanjutkan tidur di balik selimut hangat.  Namun saya ingat, rencana hari ini adalah mengunjungi Tembok Besar China. Wah, tiba-tiba semangat saya meluap karena ini salah satu wisata yang saya tunggu-tunggu. Selama ini, khan, saya cuma melihat Tembok Besar China lewat gambar atau kalender atau kartu pos. Hari ini saya akan melihat sendiri The Great Wall yang tersohor itu. Maka saya bergegas mandi.

Tak berapa lama rekan saya, Joke, seorang guru asal Belgia, datang dan kami segera meluncur ke Badaling.

Badaling adalah nama tempat yang dijadikan titik wisatawan memulai perjalanan ke Tembok Besar. Setibanya di Badaling, kami segera membeli tiket masuk seharga 45 RMB dan lihatlah…..bentangan tembok raksasa yang dibangun mulai abad 4 SM ini sudah terhampar di depan mata! Bangunan sepanjang 8.850 km tampak berliuk-liuk bagai naga tidur di kejauhan. Tembok yang dibangun selama periode tiga dinasti ini dahulu dimaksudkan untuk membentengi wilayah Kekaisaran China dari serbuan musuh.

Menjadi guru itu berkat

Sambil melangkah menyusuri Tembok Besar, kami mulai berbincang. Ia bercerita betapa ia sangat menikmati hidupnya sebagai seorang guru. Baginya profesi ini dapat membangkitkan spirit hidup dan mengubah banyak sisi negatif hidupnya. Ia bersyukur dirinya dilahirkan sebagai seorang guru.

Pernyataan Joke itu diam-diam menusuk batin saya. Kadang saya merasakan beban luar biasa sebagai guru. Selama belasan tahun saya berhadapan dengan berbagai jenis karakter dan latar belakang murid yang berbeda-beda, yang lebih sering membuat saya lelah batin. Meskipun saya katakan saya mencintai murid-murid saya, tetapi entah kenapa justru bukan perbuatan kasih yang saya ungkapkan kepada mereka. Mengomeli, mengkritik, menghukum saya lakukan demi ego dan kuasa sebagai guru.

Tak berapa lama kami tiba di Pos 8. Di titik ini para wisatawan bisa menaiki cable car untuk kembali ke Badaling namun kami memutuskan untuk terus berjalan menikmati pemandangan spektakuler di Tembok China. Menanggapi curcol saya, Joke mengatakan bahwa dari kenakalan murid-muridnyalah ia kerap belajar sabar dan mengendalikan diri.

Guru mengajar

Saya jadi teringat kisah Totto-Chan (Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela, karangan Tetsuko  Kuroyanagi, (1981). Gadis kecil yang dianggap nakal itu, suatu hari menguras septic tank di sekolahnya hanya demi mencari dompet kesayangannya yang jatuh di kakus sekolah. Ia mengaduk, mencedoki bak penampungan kotoran sampai semua kotoran terangkat keluar.

Pada saat ia melakukan itu, Kepala Sekolahnya, Mr. Kobayashi lewat.

Ia  hanya bertanya “Kau sedang apa?

“Dompetku jatuh” jawab Totto-Chan.

“O, begitu. Nanti kau akan mengembalikan semua kalau sudah selesai, kan?” katanya ramah kepada gadis cilik itu. (hal 58).

Tak dapat saya bayangkan apabila kejadian serupa terjadi pada salah seorang murid saya. Pastilah kepanikan dan hukuman sudah menantinya. Meskipun pada akhirnya Totto-Chan tak dapat menemukan dompetnya, ia  bahagia karena Kepala Sekolahnya tidak memarahinya, bahkan percaya penuh padanya. Oleh sebab itu Totto-Chan menepati janji mengembalikan semua kotoran bersama tanahnya ke dalam bak penampungan lagi.

Mengubah hidup

Sejak saat itu Totto-Chan tidak pernah lagi membuat ulah lagi dan Mamanya yang mendapat laporan itu berpikir betapa hebatnya Mr. Kobayashi, sang Kepala Sekolah yang bijak dan sabar itu.

Joke tersenyum. Diakui, menjadi guru ideal membutuhkan cinta dan komitmen setiap saat agar tujuan pendidikan tercapai. Menjadi seorang pendidik bukan saja soal menjadikan murid cerdas, melainkan mampu mengubah hidup seseorang.

Kelelahan akibat berjalan sepanjang Tembok Besar membuat kami beristirahat sejenak di Pos 9. Dari situ kami leluasa memandangi lembah Mongolia yang terhampar hijau. Pikiran sayapun lalu melayang pada salah satu tokoh dunia, Hellen Keller (1880-1968), yang hidupnya berubah secara total karena kesabaran guru privatnya, Anne Mansfield Sulivan (1866-1936).

The Story of Hellen Keller, karya Anumerta Prayoga, (2012) bukan saja mengisahkan perjuangan seorang buta, bisu dan tuli, melainkan juga usaha keras seorang guru, Anne Sulivan. Anne berhadapan dengan seorang gadis kecil umur tujuh tahun yang buta, bisu, tuli, liar dan sulit diatur. Ia mengerahkan segala daya upaya untuk menaklukkan gadis kecil yang frustasi itu.

Dikisahkan, setiap kali mereka bertarung dan kedua orangtua Hellen sudah hampir menghentikan Anne karena tak kuasa melihat perilaku Hellen. Hingga pada suatu hari, di dekat sebuah pompa air, untuk pertamakalinya Hellen mau mendengarkan gurunya. Anne mengeja kata “W-A-T-E-R” sambil menyentuhkan air yang keluar dari pompa ke telapak tangan Hellen. 

Ajaib! Melalui sentuhan dan rabaan, akhirnya dalam waktu 6 bulan Hellen Keller mampu belajar 625 kata. Kemudian dengan cepat bahkan ia menguasai bahasa Latin, Perancis dan Jerman. Dalam pendidikannya selanjutnya, ia lulus cum laude dari Perguruan Tinggi Radcliffe.

Berkat kesabaran, cinta dan usaha keras gurunya, Hellen Keller akhirnya menjelma menjadi wanita penyebar inspirasi, wanita penuh sinar terang bahkan dijuluki wanita matahari. Melalui cinta terhadap anak didiknya, Anne Sulivan telah membuka mata dunia yang selama ini menganggap rendah kemampuan para penderita buta, bisu tuli pada masa itu.

Guru mengajar di sebuah SD di Pulau Bangka 2

Cukup jauh sudah kami berjalan menyusuri Tembok Raksasa. Saya sempatkan menyentuh, meraba temboknya dan mencoba menghidupkan kembali semangat perjuangan orang-orang pada zaman itu dalam imajinasi saya. Kerja keras, loyalitas, cinta, dedikasi, perjuangan, keringat, airmata, bahkan kematian pastilah mewarnai pembangunan Tembok Raksasa ini. Namun semua berbuah manis. Tembok ini telah menjadi saksi bisu perjuangan orang-orang yang telah memercayai akan adanya keberhasilan di balik setiap usaha keras.

Hati saya terharu.

Hakekat perjuangan seorang guru pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan dedikasi mereka yang telah membangun Tembok Raksasa yang bersejarah ini. Betapapun membosankan, melelahkan dan penuh tantangan, namun cinta dan semangat Mr. Kobayashi, Anne Sulivan dan juga ribuan pekerja Tembok Raksasa ini sungguh telah menginspirasi saya.

Selamat Hari Guru, 25 November 2013

Photo credit:

  • Ibu guru tengah mengajar murid-murid  SD di Pulau Bangka (Mathias Hariyadi)
  • Ibu guru muda tengah memonitor anak-anak SD di Jakarta (Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: