Kaya Dalam Kemurahan

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2
=======================
“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”

kaya dalam kemurahan

Kejadian kontras baru saja terjadi di depan mata saya malam ini. Ketika saya hendak membeli sate untuk makan malam sepulang kerja, ada sekelompok anak muda yang baru saja selesai makan di sana. Mereka saling berebutan dalam membayar, masing-masing mengeluarkan dompetnya dan saling menolak tangan temannya yang hendak membayar. Setelah selesai bertolak-tolakan, ketika mereka hendak keluar ada seorang pengemis tua yang mendekati mereka memohon belas kasihan. Beberapa dari mereka hanya tertawa dan ada seorang yang berkata “hari gini masih minta-minta, kerja dong pak..” Betapa kasihannya melihat si bapak tua pengemis. Mungkin menyisakan 500 rupiah saja sudah membuatnya bersyukur, tapi mereka tidak rela mengeluarkan sepeserpun, sementara mereka baru saja bertolak-tolakan dalam membayar makanan mereka, yang bahkan bersisa di atas meja.

Seringkali pemberian hanya didasarkan pada untung-rugi. Kita royal ketika memberi kepada orang-orang yang dekat dan berjasa pada kita, ketika kita bersenang-senang, namun sulit memberi ketika hal itu tidak berkaitan secara langsung pada kesenangan kita. Apalagi jika sedang merasa kekurangan. Mungkin mudah memberi ketika kita sedang berlebih, namun sulit ketika kita sedang dalam kekurangan. Ada banyak orang yang berkata, “jangankan memberi, untuk diri sendiri saja belum cukup.” Padahal terkadang ukuran cukup dan tidak ini begitu bias dan sangat subjektif sifatnya. Kita seringkali lupa bahwa di saat kita merasa tidak cukup, ada banyak yang justru untuk makan satu kali sehari saja sulitnya bukan main. Seperti bapak pengemis tua di atas. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja ia malas bekerja, tapi bagaimana jika ia tidak kuat lagi, tidak memiliki kemampuan apa-apa yang bisa diandalkan, sedang anak-anaknya meninggalkannya sendirian? Itu pun mungkin, bukan?

Kepada jemaat Korintus, Paulus bersaksi mengenai bagaimana pertumbuhan kasih karunia yang terjadi pada jemaat di Makedonia. Mungkin ada banyak orang yang beranggapan seperti di atas, hanya memberi ketika mereka sedang berkelimpahan. Ketika jemaat Makedonia memberi begitu banyak pun, mungkin mudah bagi kita untuk beranggapan bahwa mereka adalah jemaat yang kaya raya. Tapi Paulus menjelaskan sebaliknya. Paulus berkata demikian: “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (2 Korintus 8:2). Ini keteladanan luar biasa. Kemurahan hati yang mereka miliki bukanlah berasal dari harta kekayaan mereka, namun berasal dari sukacita meski berada dalam kemiskinan dan penderitaan! Apa yang membuat mereka mampu memberi dengan sukacita? Tidak lain adalah kesadaran akan kasih karunia yang dianugerahkan oleh Tuhan. Mereka boleh saja miskin harta, namun mereka kaya dalam kemurahan. Hati mereka tetap penuh luapan syukur, mereka tahu bahwa Tuhan ada beserta mereka dan menjanjikan mereka keselamatan, dan untuk itu tidak ada yang perlu mereka cemaskan sama sekali. Mereka akan memberi, dan terus memberi, dan mereka tahu pasti bahwa Tuhan akan jaga hidup mereka sehingga tidak akan berkekurangan meski mereka sendiri sedang dalam kemiskinan. Miskin dan kaya, itu relatif, tergantung bagaimana kita mensyukuri apa yang ada pada hidup kita hari ini. Kita bisa saja lebih miskin dari tetangga kita, namun itu bukan berarti kita harus miskin iman pula untuk percaya kepada penyertaan Tuhan. Kembali kepada jemaat Makedonia, Paulus mengatakan “Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. ereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”(ay 3-5). Luar biasa bukan, ketika kita melihat hal seperti ini datang justru bukan dari orang-orang yang hartanya berlebihan, tapi justru datang dari orang yang miskin secara materi.

Firman Tuhan berkata “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Ini hanya akan muncul jika kita memiliki iman yang teguh, iman yang sungguh percaya bahwa Tuhan sanggup mencukupkan kita akan segala sesuatu. Tanpa itu, kita hanya akan terus merasa kekurangan, terus menimbun harta tanpa ada rasa cukup, dan cepat atau lambat kita akan menjadi hamba uang. Tidak akan ada lagi sukacita, meski harta berlimpah. Orang mungkin berpikir bahwa hidup akan begitu mudah ketika segalanya berlimpah, padahal mereka lupa bahwa disamping kekayaan harta, kita perlu pula kuasa untuk menikmatinya, dan itu pun juga karunia Tuhan. “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.” (Pengkotbah 5:19). Tanpa itu, niscaya segala yang kita kumpulkan tidak akan pernah bisa membahagiakan kita. Karena itu, mengapa kita harus takut dan berpelit-pelit untuk memberkati orang lain yang lebih sulit hidupnya daripada kita? Tuhan Yesus sendiri mengajarkan demikian: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Dalam kisah tentang ibu janda miskin yang memberi dalam kemiskinannya yang tertulis pada Lukas 21:1-4 kita melihat hal yang sama juga. Ia memang memberi hanya dua peser. Namun dibanding orang-orang kaya yang memberi banyak ke dalam kotak persembahan, Yesus mengatakan bahwa si ibu janda yang miskin ternyata dianggap memberi lebih banyak dari semua yang kaya itu. Alasannya, “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” (ay 4). Kembali kita melihat bahwa meski ibu janda ini miskin harta, namun ia kaya dalam kemurahan.

Tuhan sanggup memberkati pekerjaan kita secara berkelimpahan. Apa yang perlu kita pikirkan adalah “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Dan memberi kepada mereka yang membutuhkan adalah tanggung jawab kita. Dengan menolong orang yang kesusahan, itu artinya kita memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2). Sebab, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 5:40). Soal hidup kita, Tuhan sanggup pelihara. Yang penting adalah mendahulukan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, melakukan dengan taat segala yang diperintahkan Tuhan dengan bersukacita. Berilah maka kamu akan diberi, itu janji Tuhan. Di samping itu, hati yang bersyukur akan kebaikan Tuhan akan selalu kaya dalam kemurahan. Di saat seperti itulah kita akan merasa sangat bahagia ketika memberi, lebih daripada saat kita menerima. Pemberian yang disertai dengan pengorbanan seperti yang dilakukan oleh jemaat Makedonia dan juga ibu janda yang miskin ternyata berkenan di mata Tuhan. Karenanya, marilah kita lebih peka lagi terhadap jeritan orang-orang di sekitar kita yang butuh pertolongan. Mari kita sisihkan sebagian dari apa yang kita miliki, termasuk di dalamnya waktu, tenaga atau pikiran kita mungkin, agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masalah. Lewat anda dan saya, kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan dalam hidup mereka.

Jadilah seperti jemaat Makedonia yang kaya dalam kemurahan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply