Kaya dalam Kemurahan (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2=======================”Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”Bagi banyak orang, memberi tergantung dari banyak ti…

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2
=======================
“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”

Bagi banyak orang, memberi tergantung dari banyak tidaknya uang berlebih. Ada yang mengikuti like and dislike alias suka atau tidak, suasana hati atau mood. Kalau lagi mood ya dikasih, kalau lagi tidak ya biarkan saja. Ada yang memberi karena ingin terlihat hebat di mata orang lain, bahkan ada pula yang memberi untuk ‘mencuci’ dosa. Di desa dibelakang rumah saya para ibu sedang heboh menceritakan seorang pria. Ceritanya ia baru saja menyumbang 30 juta rupiah ke rumah ibadah di lingkungan itu. Ia tidak mau menyebutkan dari siapa uang itu berasal. Ia mau disebut hanya sebagai hamba Allah, tapi lucunya itu ia ucapkan dengan keras di depan banyak orang. Orang mengenalnya, orang tahu berapa jumlah sedekahnya. Terus untuk apa pakai tidak mau sebut nama segala? Satu hal yang sama dari contoh-contoh diatas adalah bahwa pemberian seperti itu bukanlah pemberian yang didasarkan oleh kemurahan. Kenyataannya seseorang tidak perlu kaya terlebih dahulu agar bisa memberi dengan kemurahan hati, sebaliknya orang yang sudah kaya sekalipun bisa merasa tidak kunjung cukup agar bisa memberi.

Seringkali pemberian hanya didasarkan pada untung-rugi. Kita royal ketika memberi kepada sebagian orang saat kita kita bersenang-senang, tetapi sulit memberi ketika hal itu tidak berkaitan secara langsung pada kesenangan kita. Kita royal ketika punya agenda tertentu, tapi sulit kalau hanya memberi tanpa mendapat imbalan. Apalagi kalau sedang merasa kekurangan. Mungkin mudah memberi ketika sedang berlebih, namun tidak mau ketika sedang dalam kekurangan. Ada banyak orang yang berkata, “jangankan memberi, untuk diri sendiri saja belum cukup.” Padahal terkadang ukuran cukup dan tidak ini begitu bias dan sangat subjektif sifatnya. Kita seringkali lupa bahwa di saat kita merasa tidak cukup, ada banyak yang justru untuk makan satu kali sehari saja sudah bukan main susahnya.

Suatu kali kepada jemaat Korintus, Paulus bersaksi mengenai bagaimana pertumbuhan kasih karunia yang terjadi pada jemaat di Makedonia. Mungkin saat itu disana ada banyak orang yang beranggapan seperti di atas, hanya memberi ketika mereka sedang berkelimpahan. Saat diberitahukan bahwa jemaat Makedonia memberi begitu banyak, dengan mudah orang akan beranggapan bahwa mereka adalah jemaat yang kaya raya. Tapi Paulus mengatakan sebaliknya. “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Korintus 8:2). Bagaimana mungkin orang yang sedang mengalami banyak penderitaan dan sedang kesusahan dari segi finansial hatinya bisa meluap penuh sukacita sehingga bisa kaya dalam kemurahan? Tapi begitulah jemaat di Makedonia waktu itu. Kemurahan hati yang mereka miliki bukanlah berasal dari harta kekayaan mereka, namun berasal dari sukacita meski berada dalam kemiskinan dan penderitaan! Ini adalah sebuah contoh nyata bahwa orang yang miskin pun bisa kaya dalam kemurahan. Kemurahan tidak tergantung dari jumlah harta, dari kondisi, dari suasana hati atau ada tidaknya yang ingin kita peroleh dengan memberi, tetapi itu berasal dari sukacita dalam Tuhan.

Bagaimana mereka bisa beroleh sukacita meski dalam keadaan yang tidak kondusif seperti itu sehingga mereka masih bisa bermurah hati? Mereka menyadari betul akan kasih karunia yang dianugerahkan oleh Tuhan. Mereka boleh saja miskin harta, namun mereka kaya dalam kemurahan. Hati mereka tetap dipenuhi luapan ucapan syukur. Mereka tahu bahwa Tuhan ada beserta mereka dan menjanjikan mereka keselamatan, dan untuk itu tidak ada yang perlu mereka cemaskan sama sekali. Mereka akan memberi, dan terus memberi, dan mereka tahu pasti bahwa Tuhan akan selalu jaga hidup mereka sehingga tidak perlu kuatir meski mereka sendiri sedang dalam kemiskinan. Miskin dan kaya, itu relatif, tergantung bagaimana kita mensyukuri apa yang ada pada hidup kita hari ini. Kita bisa saja lebih miskin dari orang lain disekitar kita secara finansial, namun itu bukan berarti kita harus miskin iman pula untuk percaya kepada penyertaan Tuhan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply