Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransikus “Laodato Si” (4)

suster alfonsa triatmi4Narasumber kami kali ini adalah Dwi Widyatmojo, aktivis lingkungan dan penggerak komunitas petani penghasil beras organik di Purworejo, Keuskupan Purwokerto. BEBERAPA waktu lalu, saya dikontak Sr. Alfonsa Triatmi PMY untuk meluangkan waktu bisa berkomentar tentang hadirnya ensiklik “Laudato Si”. Dalam pengertian yang kami bangun bersama saat ini adalah pengertian bahwa tanah dan air kami pandang sebagai ‘kehidupan’. Karenanya, tanah itu bisa bertambah baik dan pun demikkian pula sebaliknya. Kami mencoba mengembangkan pemahaman diri bahwa kualitas hidup makhluk di bumi tergantung sepenuhnya pada kualitas (kealamiahan) tanah dan air. Tanah dan air yang sehat akan menumbuhkan tanaman yang sehat. Tanaman yang sehat akan mendukung udara yang sehat dan makanan yang sehat. Udara dan makanan yang sehat akan menghasilkan hewan dan manusia sehat. Begitulah ‘credo’-nya. Sejak manusia yang berprofesi sebagai petani ditempatkan sebagai penghasil bahan baku bagi konsumsi manusia modern, maka pengrusakkan alam menjadi tidak terhindarkan lagi. Infrastruktur alam rusak dan beberapa kemudian orang lalu – orang lalu bicara tentang bencana ekologi. Saat sumber daya alam di atas permukaan tanah tidak lagi mencukupi nafsu konsumsi manusia, maka sumber daya di dalam tanah digali dan disedot habis. Sumber daya melimpah di bumi Indonesia, sinar matahari, angin dan air dianggap tidak efisien dikembangkan agar alam tetap lestari. Kita hidup di bumi yang sudah dipetak-petaki oleh kepentingan korporasi. Kapan dia butuh, kita dipaksa pergi. Negara yang dibangun warga pada akhirnya direbut korpirasi untuk menjalankan kepentingannya. Mungkin itu arus besarnya. (Baca juga: Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si” (3) dan  Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransiskus “Laodato Si” (2) Merintis jalan Mulai tiga tahun lalu kami coba membangun bersama rumah tangga petani sebagai basis produksi dan distribusi pangan sehat. Dalam pengertian yang revolusioner, kami mengembargo diri dari model-model bertani, berkonsumsi dan distribusi yang boros energi. Kami merasa sudah waktunya kita-kita ini yakni para petani di pedesaan perlu mengubah aturan permainan. Bukan lagi sibuk ikut menjadi supporter pemain maupun tim yang terus berganti dengan aturan yang sama. Oleh karena itu, kami coba membangun budaya mencukupi sendiri apa yang diperlukan untuk petani. Apa yang bisa kita buat dan dapat dari lingkungan pertanian tak perlu kita cari-cari dari luar. Jika saat ini petani dikejar-kejar oleh pemerintah untuk memenuhi target swasembada pangan, maka kami bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan konsumen. Pemerintah menyediakan Bulog, maka kami membangun gudang sendiri untuk mendistribusikan pangan sehat. Bekerjasama dengan pemerintah ya penting, namun mesti dikaji  sejauh mana itu perlu. Menurut saya, jika petani masih terus-menerus ditempatkan sebagai penghasil bahan baku; baik untuk pangan, pakan, energi dan industri lain, maka tetap saja mereka akan dieksploitasi pasar. Ini menjadi semacam ‘tanam paksa’ jenis baru. (Baca juga:  Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransiskus “Laodato Si” (1) Akibat selanjutnya, ya eksploitasi dan penguasaan alam berlebihan. Petani berharap panen lebih banyak, maka mereka akan menyediakan sumber daya sebanyak-banyaknya: air dan pupuk lalu keharus melindungi tanamannya dari elemen lingkungan yang dianggap merusak. Berikutnya, penggunaan bahan-bahan kimia sintetik pun lalu sedemikian masif. Semoga saja pendekatan yang kami lakukan juga sejalan dengan yang dipikirkan Paus.

suster alfonsa triatmi4

Narasumber kami kali ini adalah Dwi Widyatmojo, aktivis lingkungan dan penggerak komunitas petani penghasil beras organik di Purworejo, Keuskupan Purwokerto.

BEBERAPA waktu lalu, saya dikontak Sr. Alfonsa Triatmi PMY untuk meluangkan waktu bisa berkomentar tentang hadirnya ensiklik “Laudato Si”.

Dalam pengertian yang kami bangun bersama saat ini adalah pengertian bahwa tanah dan air kami pandang sebagai ‘kehidupan’. Karenanya, tanah itu bisa bertambah baik dan pun demikkian pula sebaliknya.

Kami mencoba mengembangkan pemahaman diri bahwa kualitas hidup makhluk di bumi tergantung sepenuhnya pada kualitas (kealamiahan) tanah dan air.

Tanah dan air yang sehat akan menumbuhkan tanaman yang sehat. Tanaman yang sehat akan mendukung udara yang sehat dan makanan yang sehat. Udara dan makanan yang sehat akan menghasilkan hewan dan manusia sehat. Begitulah ‘credo’-nya.

Sejak manusia yang berprofesi sebagai petani ditempatkan sebagai penghasil bahan baku bagi konsumsi manusia modern, maka pengrusakkan alam menjadi tidak terhindarkan lagi. Infrastruktur alam rusak dan beberapa kemudian orang lalu – orang lalu bicara tentang bencana ekologi. Saat sumber daya alam di atas permukaan tanah tidak lagi mencukupi nafsu konsumsi manusia, maka sumber daya di dalam tanah digali dan disedot habis.

Sumber daya melimpah di bumi Indonesia, sinar matahari, angin dan air dianggap tidak efisien dikembangkan agar alam tetap lestari. Kita hidup di bumi yang sudah dipetak-petaki oleh kepentingan korporasi. Kapan dia butuh, kita dipaksa pergi. Negara yang dibangun warga pada akhirnya direbut korpirasi untuk menjalankan kepentingannya.

suster alfonsa triatmi 3
Merintis kerasulan profan bersama para petani penghasil beras organik di Purworejo, Keuskupan Purwokerto, Jateng. (Dok. Suster Alfonsa Triatmi PMY)

Mungkin itu arus besarnya. (Baca juga: Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si” (3) dan  Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransiskus “Laodato Si” (2)

Merintis jalan
Mulai tiga tahun lalu kami coba membangun bersama rumah tangga petani sebagai basis produksi dan distribusi pangan sehat. Dalam pengertian yang revolusioner, kami mengembargo diri dari model-model bertani, berkonsumsi dan distribusi yang boros energi.

Kami merasa sudah waktunya kita-kita ini yakni para petani di pedesaan perlu mengubah aturan permainan. Bukan lagi sibuk ikut menjadi supporter pemain maupun tim yang terus berganti dengan aturan yang sama. Oleh karena itu, kami coba membangun budaya mencukupi sendiri apa yang diperlukan untuk petani.

Apa yang bisa kita buat dan dapat dari lingkungan pertanian tak perlu kita cari-cari dari luar.
Jika saat ini petani dikejar-kejar oleh pemerintah untuk memenuhi target swasembada pangan, maka kami bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan konsumen. Pemerintah menyediakan Bulog, maka kami membangun gudang sendiri untuk mendistribusikan pangan sehat.

Bekerjasama dengan pemerintah ya penting, namun mesti dikaji  sejauh mana itu perlu.

Menurut saya, jika petani masih terus-menerus ditempatkan sebagai penghasil bahan baku; baik untuk pangan, pakan, energi dan industri lain, maka tetap saja mereka akan dieksploitasi pasar. Ini menjadi semacam ‘tanam paksa’ jenis baru. (Baca juga:  Kata Mereka tentang Ensiklik Paus Fransiskus “Laodato Si” (1)

Akibat selanjutnya, ya eksploitasi dan penguasaan alam berlebihan. Petani berharap panen lebih banyak, maka mereka akan menyediakan sumber daya sebanyak-banyaknya: air dan pupuk lalu keharus melindungi tanamannya dari elemen lingkungan yang dianggap merusak. Berikutnya, penggunaan bahan-bahan kimia sintetik pun lalu sedemikian masif.

Semoga saja pendekatan yang kami lakukan juga sejalan dengan yang dipikirkan Paus.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply