Kasih Sebagai Motor Penggerak Iman

Ayat bacaan: Galatia 5:6
==================
“…faith activated and energized and expressed and working through love.” (English AMP)

kabel kasih

Jika anda tengah menonton televisi lalu ada orang yang mencabut kabelnya dari stop kontak, apa yang terjadi? Tentu televisi itu akan mati. Stasiun televisi yang tengah menyiarkan acara yang sedang anda tonton masih terus berjalan, tetapi anda tidak lagi bisa melihatnya karena tidak ada lagi listrik yang mengalir agar televisi bisa beroperasi. Sama halnya dengan berbagai peralatan elektronik lainya yang mengunakan listrik sebagai sumber dayanya. Ketika kabel tercabut, aliran listik yang menjadi sumber daya dari peralatan-peralatan itu pun terputus. Dan akibatnya alat-alat elektronik itu pun tidak lagi bisa berfungsi. Ada kalanya hal ini sepele, tetapi ada saatnya pula dimana terputusnya aliran listrik ini merepotkan kita. Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja kabel listrik laptop saya tercabut ketika saya menggerakkan kaki. Ternyata kabelnya tersangkut pada gerakan itu dan kemudian membuat kabel lepas dari stop kontak. Saya kebetulan tengah melepas baterainya karena sedang menggunakan listrik. Laptop mendadak mati, sedang ketikan yang sedang saya kerjakan belum disimpan. Maka saya harus mengulang lagi dari awal, dan itu cukup merepotkan dan memakan waktu ekstra yang tidak sedikit.

Dengan apa iman sebenarnya bekerja? Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menggerakkan iman untuk terus bekerja. Ada “sumber daya” yang membuat iman kita tetap menyala, sesuatu yang bisa membuat kita tetap berada dalam proses yang benar dari hari ke hari. Hal itu bisa kita lihat dalam surat Galatia, dimana Paulus mengingatkan jemaat disana tentang apa yang penting atau mempunyai makna mengenai keselamatan. Ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Ini dianggap penting dan mampu membawa keselamatan, sementara kita lupa akan hal lain yang justru jauh lebih penting, bahkan dikatakan berarti atau bermakna dalam menerima janji-janji Tuhan. Mari kita lihat ayat berikut ini: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Galatia 5:6). Paulus memulai bagian ini dengan penegasan jelas tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah hadir bagi orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual bahkan menganggapnya sebagai hal yang terpenting dan malah melupakan apa yang terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang “mempunyai sesuatu arti”, alias bermakna,atau  something that really counts. Dan perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis sangat detail, “…faith activated and energized and expressed and working through love.”

Kita mengetahui dari mana iman itu timbul. “..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur. Selanjutnya ada “motor” yang menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan motor penggerak atau sumber daya itu adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.

Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci, mendendam atau merasa iri hati kepada orang lain. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan orang lain. Sementara jika itu terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16).Perasaan-perasaan seperti itu akan mudah menguasai kita ketika kita tidak memiliki kasih, dan itu akan menjadi lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan mematikan.

Kasih adalah prinsip dasar kekristenan.
Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi.”Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi…” (1 Yohanes 3:11). Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut” (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia” (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus berhenti mencoba mengganggu kabel kasih kita. Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus, sedemikian pentingnya sehingga dikatakan “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13). Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” “For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others].”  (1 Petrus 4:8).  Ini waktunya kita memeriksa kembali apakah kabel kasih masih terpasang pada tempatnya dalam diri kita atau sudah lama tercabut. Selanjutnya kita harus memastikan bahwa kabel itu terus bekerja mengalirkan kasih ke dalam diri kita, lalu mengalirkannya keluar dari diri kita untuk menjangkau orang-orang lain. Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih. Itu tidak akan membawa arti atau makna apa-apa, sebab Iman tidak akan berfungsi apa-apa tanpa adanya kasih dalam diri kita.

Iman bekerja oleh kasih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply