Kasih Allah dan Kasih Ibu

Ayat Bacaan: Yesaya 49:15=====================”Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”Sulit sekali rasanya membayangkan kalau ada i…

Ayat Bacaan: Yesaya 49:15
=====================
“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Sulit sekali rasanya membayangkan kalau ada ibu yang tega melupakan bayi yang telah ia kandung selama 9 bulan. Berada dalam satu tubuh dalam waktu yang panjang umumnya membuat ibu sudah punya hubungan batin dengan janin sebelum mereka hadir di dunia. Bukan cuma manusia, tapi hewan pun sama. Saat anjing saya melahirkan, selama 3 bulan ia terus menjaga anak-anaknya agar tidak didekati pasangan jantannya. Mengapa? Tampaknya ia tidak mau ambil resiko kalau-kalau si jantan menyerang anaknya sendiri, meski saya percaya si jantan tidak akan melakukan itu. Tapi tetap saja sebagai yang melahirkan, ia menjaga betul anak-anaknya. Tidak sedetikpun mereka lepas dari jarak pandang matanya dan dengan telaten ia menyusui dan menjilati anak-anaknya secara rutin. Kalau anjing saja begitu, apalagi manusia yang punya akal budi. Lucunya, semakin sering saja kita mendengar adanya ibu yang tega membuang anaknya, atau bahkan menyiksa anaknya sampai tidak bernyawa lagi. Ada yang dibuang di tong sampah, ada yang ditinggalkan di rumah sakit atau di depan rumah orang, ada yang dicampakkan ke parit atau sungai, ada yang menyiksa sampai meninggal. Stres tingkat tinggi akibat tekanan hidup yang terlalu berat tampaknya bisa membuat orang kehilangan akal sehat, kehilangan naluri kemanusiaan dan bahkan imannya. Jika anda familiar dengan cerita Tarzan, yang meski hanya dongeng, disana kita bisa mendapati sebuah bentuk naluri keibuan dari mahluk berlainan spesies. Anak manusia yang terdampar di hutan ternyata menimbulkan empati dari seekor induk gorila. Ia diasuh dan dibesarkan dengan cara gorila dan piawai bergelayut dari satu pohon ke pohon yang lain dan hidup di alam liar tak ubahnya gorila muda. Dalam kasus nyata, kita melihat banyak contoh bagaimana hewan yang berbeda jenis ternyata mau mengasuh jenis lain yang terbuang. Dan manusia yang waras dan tidak sedang terganggu mental dan akalnya tentu tidak akan mungkin tega membuang atau menyakiti anaknya.

Saya ingin menyambung sedikit lagi mengenai Tuhan yang tidak pernah melupakan anak-anakNya dan akan selalu menghargai segala sesuatu yang kita kerjakan untuk dan atas namaNya. Kalau kemarin saya sudah membahas hal itu dengan mengacu kepada 1 Korintus 15:58 (“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”) dan Ibrani 6:10 (“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.”), hari ini mari kita lihat ayat lainnya yang mengarah kepada pernyataan yang sama.

Demikian bunyi Firman Tuhan: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yesaya 49:15). Mungkinkah seorang ibu melupakan anaknya dan tidak mengasihi buah kandungannya sendiri? Ada istilah surga berada di bawah telapak kaki ibu, itu menandakan bahwa normalnya kasih seorang ibu itu abadi dan tidak akan tergantikan, bagai surga yang ada di bumi. Tapi bukankah tetap saja ada ibu-ibu yang tega dan kejam meski jumlahnya sangat sedikit? Ya, ada saja memang, tapi meski ada, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan kita, siapapun dan dimanapun kita berada saat ini.

Tuhan menyatakan kalimat tersebut saat penduduk Yerusalem tengah mengalami musibah bertubi-tubi yang pasti membuat mereka sangat menderita. Ditengah keaddaan seperti itu, “Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” (ay 14). Mereka mengira bahwa Tuhan telah meninggalkan dan melupakan mereka yang kerap mengecewakan Tuhan. Tapi nyatanya, Tuhan menegaskan bahwa meski mereka banyak berbuat kesalahan, kasih Tuhan kepada mereka tetap berlaku, bagai seorang ibu yang menyayangi anaknya sendiri. Itu merupakan contoh yang sangat mudah dicerna. Kalaupun ada yang tega melupakan dan membenci, Tuhan tidak akan pernah bersikap seperti itu. Sikap lupa, bosan dan membenci bukanlah sikap yang mencerminkan pribadi Allah yang adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:7-8). Sebaliknya, Allah memiliki kasih sejati yang sangat besar dan kekal bagi kita. Maka dalam ayat selanjutnya Tuhan menegaskan lebih jauh: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (ay 16). Meski mereka berulang kali mengecewakan Tuhan, tapi ternyata Tuhan tetap memperhatikan dan prihatin atas penderitaan mereka. Apabila anda membaca judul perikop dari rangkaian ayat-ayat dalam Yesaya ini, anda akan menemukan bahwa semua ini disampaikan Tuhan sebagai bagian dari pemulihan Sion.

Jika kita bandingkan diri kita dengan seluruh alam semesta dan jagat raya, mungkin kita bisa mengira bahwa kita terlalu kecil untuk diurusi Tuhan. Tapi apa yang dikatakan Tuhan seharusnya membuka mata kita bahwa siapapun kita, kita sama berharganya di mata Tuhan. Dia selalu ada bersama kita, Dia tidak akan pernah melupakan kita, kita selalu ada dalam perhatianNya. Apapun yang kita perbuat dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia akan sangat ia hargai, walau menurut penilaian orang mungkin itu tidak berarti apa-apa. Tidak akan pernah ada yang lewat sia-sia. Sekecil apapun itu dimata orang, bagi Tuhan itu bisa sangat berharga atau bernilai.

Bagi anda yang saat ini mungkin tengah terpuruk atau tengah dijatuhkan orang lain, ingatlah bahwa usaha sungguh-sungguh anda tidak akan pernah sia-sia bagi Tuhan. Mungkin bagi manusia, tapi tidak bagiNya. Jika pikiran dan hati anda saat ini mulai mengarahkan anda untuk merasa sia-sia, ingatkan diri anda kembali bahwa Tuhan melihat itu semua dan sangat menghargainya. Manusia bisa saja memberi nilai buruk, mereka boleh saja menyepelekan, tapi selama anda sudah memberi yang terbaik dalam melakukan pekerjaan Tuhan, tidak akan pernah ada yang sia-sia. Karenanya jangan patah semangat. Jangan biarkan roh kita kendor, tetapi tetaplah jaga agar roh kita tetap menyala-nyala dalam melakukan pekerjaan Tuhan, baik bagi anda yang melayani di gereja maupun yang melakukannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak pekerjaan yang masih harus kita selesaikan, selalu ada saja orang yang negatif mengomentari kita. Ingatlah selalu bahwa semua seharusnya kita arahkan kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. Itu akan membuat kita bisa tetap bersemangat melakukan yang terbaik tanpa terpengaruh apapun kata orang. Tidak ada satupun yang Dia lupakan, tidak ada satupun yang Dia kesampingkan, tidak ada satupun yang Dia sepelekan. Apabila anda sudah melakukan pekerjaan dengan benar, Tuhan tidak akan meluputkan anda dari upah yang besar yang berasal daripadaNya.

Kasih Tuhan bagaikan kasih seorang ibu, tak terhingga sepanjang masa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply