Karya Nyata Demi Bangsa

Ayat bacaan: Yeremia 29:7
=================
“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

karya nyata bagi bangsa

Jika seseorang lahir di tahun 1945, maka umurnya sudah mencapai 66 tahun saat ini. Seperti itu pula usia negara ini sejak memproklamirkan kemerdekaannya di tahun yang sama. Seorang manusia yang sudah mencapai 66 tahun tentu sudah merasakan begitu banyak pengalaman berharga dalam hidupnya. Ia sudah mencapai masa keemasan, dan di usia demikian biasanya mereka mulai mempersiapkan diri untuk menikmati hari tuanya bersama keluarga, anak dan cucu. Beberapa masih bekerja meskipun kesibukan mereka biasanya sudah jauh berkurang dibanding masa mudanya. Jika anda bertemu dan berbincang dengan pria atau wanita di kisaran usia tersebut biasanya petuah dan nasihat berharga lah yang anda peroleh. Mereka biasanya akan dengan senang hati membagikan pengalaman hidupnya untuk menjadi pelajaran buat kita. 66 tahun Indonesia merdeka, dimana posisi negara kita saat ini? Ada yang bilang jalan di tempat, ada juga yang bilang semakin merosot. Tentu kita tidak boleh menutup mata atas pencapaian-pencapaian yang baik sepanjang perjalanan negara ini, tetapi tidak bisa dipungkiri pula bahwa masih ada begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Masalah masih bertumpuk, orang-orang yang terus dengan tega mengorbankan negara dan rakyat demi perut pribadi masih bertebaran dimana-mana. Bagi kita orang percaya yang juga menjadi bagian dari negara yang sama-sama kita cintai ini, apa kontribusi atau peran kita sebagai anak bangsa? Sudah sejauh mana kita berbuat yang terbaik demi bangsa kita? Apakah kita masih terus berjuang hanya untuk diri kita sendiri atau kita sudah berupaya sebaik-baiknya demi bangsa? Saya bertemu dengan beberapa orang yang dengan tegas mengatakan bahwa mereka sudah kehilangan harapan dan tidak lagi berminat berbuat sesuatu bagi bangsa ini. “Buat apa? Toh semuanya hanya akan dimanfaatkan oleh segelintir oknum beserta kelompok atau kroninya.” Atau “Percuma, mau sebesar apapun usaha saya negara ini hanya akan begini-begini saja.” Itu alasan yang rasanya banyak kita dengar dari orang yang sudah kehilangan semangat untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negaranya. Mereka putus asa, kapok dan cenderung apatis. Itu bukanlah sesuatu yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan anak-anakNya. Mereka bisa saja mengira bahwa adalah cukup untuk bekerja demi kepentingan diri sendiri, keluarga atau golongan, tetapi Firman Tuhan jelas berkata bahwa kesejahteraan kita akan sangat tergantung dari sebesar mana kemakmuran bangsa dimana kita hidup. Lewat doa Daniel yang bisa kita baca dalam Daniel 9:1-19 kita bisa melihat bagaimana Daniel menempatkan dirinya sebagai bagian integral dari bangsanya sendiri. Dalam renungan kemarin saya menyaksikan bagaimana bunyi doa Daniel untuk bangsanya.

Berdoa bagi bangsa itu tentu saja sangat baik, penting, bahkan wajib untuk dilakukan setiap anak Tuhan di muka bumi ini. Tapi cukupkah hanya dengan berdoa saja? Sesungguhnya tidak. Anak-anak Tuhan dituntut tidak saja hanya untuk berdoa bagi bangsanya, tetapi juga melakukan kontribusi-kontribusi atau peran nyata lewat segala talenta yang sudah diberikan Tuhan. Dan kita bisa memulainnya dari tempat tinggal kita. Tidaklah kebetulan jika anda dan saya ditempatkan dimana kita ada hari ini. Tuhan punya rencana bagi kesejahteraan kota atau lebih kecil lagi, lingkungan dimana kita tinggal. Dan dari sana apabila kita melakukannya, maka dampaknya akan terasa dalam skala yang lebih besar lagi: negara, bangsa bahkan dunia. Sebagian orang menganggap bahwa mereka tidak punya kewajiban apa-apa karena mereka hanyalah pendatang di sebuah kota dimana mereka menetap saat ini, tetapi Firman Tuhan dengan jelas menyatakan sebaliknya.

Mari kita perhatikan baik-baik ayat berikut ini: Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29:7). Dari sini terlihat ada hubungan yang kuat antara kesejahteraan kita dengan kesejahteraan kota di mana kita tinggal. Jika kita mau sejahtera, kota yang kita tinggali pun harus baik pula keadaannya. Berpangku tangan jelas bukan pilihan, karena Tuhan dengan jelas meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana kita ditempatkan. Begitu pentingnya, bahkan mengusahakan kesejahteraan kota disebutkan lebih dahulu dari mendoakannya. Itu berarti sikap pro-aktif, kontribusi dan peran serta yang nyata dari kita terhadap kebaikan kota merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tuhan tidak pernah meminta kita untuk menjadi pribadi-pribadi egois yang hanya mementingkan diri sendiri saja, tetapi kita diminta untuk berperan aktif dalam membangun kota dimana kita tinggal sesuai dengan talenta dan panggilan kita masing-masing untuk membawa kesejahteraan yang lebih baik lagi bagi tempat tinggal, bangsa dan negara kita. Bagi gereja pun demikian. Jangan hanya berhenti pada doa-doa bersama bagi bangsa saja, tetapi pimpin/fasilitasilah kegerakan dari para anggota atau jemaat masing-masing untuk berbuat sesuatu yang nyata bagi kesejahteraan kota dan bangsa secara lebih luas. Sudah saatnya panggilan Tuhan ini keluar dari balik tembok gereja untuk menjangkau orang-orang di luar sana, memberi sumbangsih dan kontribusi yang bisa terasa manfaatnya secara langsung bagi mereka.

Tuhan tidak sekedar meminta, tetapi Dia juga telah mempersiapkan dan memperlengkapi kita untuk tujuan itu. Apa yang Tuhan siapkan? Selain bakat atau talenta yang akan sangat bermanfaat untuk digunakan, Tuhan pun telah menyediakan berkatNya terlebih dahulu bagi kita untuk hidup dengan layak. Itu bisa kita baca dalam ayat sebelum ayat bacaan kita hari ini. “Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!” (Yeremia 29:5-6). Dirikan rumah, miliki pekerjaan dengan penghasilan yang baik, dan berkeluarga, beranak cucu. Semua itu disediakan Tuhan bagi kita dalam menjalankan tugas kita seperti yang dikehendaki Tuhan. Tidak hanya meminta, tetapi Tuhan telah menyediakan lebih dahulu. Alangkah keterlaluannya kita apabila kita masih saja memilih untuk berpangku tangan setelah Tuhan terlebih dahulu menyediakan berkat-berkatNya bagi kita.

Kemerdekaan sudah kita capai 66 tahun yang lalu. Selanjutnya tugas setiap anak bangsa adalah untuk mengisi kemerdekaan itu dengan sekuat kemampuannya. Panggilan kepada kita sesungguhnya jelas. Kita harus berbuat sesuatu setidaknya mulai berpikir apa yang bisa kita berikan demi kesejahteraan negeri kita. Talenta sudah disediakan Tuhan, kita masing-masing punya sesuatu yang bisa kita sumbangkan untuk negara ini. Tidak usah berpikir terlalu jauh dulu untuk negara, kita bisa memulainya dari lingkungan tempat tinggal kita terlebih dahulu. Besar kecilnya kontribusi kita bukanlah masalah, yang penting kita sudah mempergunakan segala yang diberikan Tuhan untuk mulai melakukan sesuatu yang positif. Jika kita melihat tugas yang pertama sekali disampaikan oleh Tuhan sendiri sesaat setelah Tuhan menciptakan manusia, maka kita seharusnya akan semakin paham akan hal ini. “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28). Manusia sedianya tidak diciptakan untuk hanya bermalas-malasan menikmati segala kebaikan yang telah disediakan Tuhan untuk kepentingannya sendiri. Kita semua sudah diberi tugas-tugas sesuai panggilan kita masing-masing, ada pertanggungjawaban kelak yang akan dimintai Tuhan setelah waktu kita di dunia ini selesai, termasuk di dalamnya pertanggungjawaban akan sejauh mana kita sudah berbuat yang terbaik demi kesejahteraan bangsa kita. Berdoa bagi bangsa itu merupakan hal yang sangat penting, tetapi memberi kontribusi lewat karya nyata pun merupakan kewajiban setiap orang percaya yang tidak kalah pentingnya. Marilah kita sama-sama memeriksa diri kita dan temukan apa yang bisa kita pakai atau sumbangkan untuk kesejahteraan negeri kita, dan mulailah mempergunakannya sekarang juga. Kita bisa mulai dari yang terkecil dulu di lingkungan kita. Mungkin itu terlihat kecil saat ini, tetapi Tuhan bisa memakainya untuk sesuatu yang luar biasa. Jangan bermimpi dulu untuk memiliki negara yang sejahtera sebelum kota yang kita tinggali sejahtera, dan jangan berpikir kota bisa sejahtera jika anak-anak Tuhan di dalamnya tidak peduli sama sekali. Sudahkah kita berfungsi dengan benar dan peduli terhadap kelangsungan negeri ini? Sudahkah anda menemukan apa yang sebenarnya menjadi panggilan anda untuk membenahi negeri kita yang tercinta ini? Tidak ada hal yang terlalu sepele untuk dikerjakan jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada pula hal yang sia-sia karena Tuhan menghargai benar segala sesuatu yang kita lakukan demi kemuliaanNya. Mulailah berbuat sesuatu yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan bangsa ini selagi waktu masih ada dan teruslah doakan. Sejauh mana peran orang-orang percaya akan sangat menentukan kemana negara ini akan menuju.

Tidak hanya berdoa, tindakan nyata untuk membangun bangsa pun sama pentingnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply