Karena Tuhan Baik

Ayat bacaan: Mazmur 100:2,5========================”Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai…Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”Pernahkah an…

Ayat bacaan: Mazmur 100:2,5
========================
“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai…Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”

Pernahkah anda merenungkan mengapa Tuhan berkenan atau bahkan rindu untuk terus memberkati kita, melimpahi kita dengan berbagai karunia, berjalan bersama kita, melindungi dan memberi rahmat setiap pagi? Normalnya apabila seseorang mendapat pemberian seperti itu, tentu ia punya prestasi membanggakan, berjasa buat si pemberi atau melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa besar yang menyebabkan pemberinya berhutang budi. Di dunia dimana pemberian hanya diukur dengan alasan balas jasa atau investasi masa depan, Tuhan ternyata punya pandangan lain. Apakah Tuhan berhutang budi pada kita? Apakah kita begitu luar biasa baiknya, tanpa cela dan berjasa kepada Tuhan sehingga Dia memberikan penghargaan atas jasa-jasa kita? Apakah Tuhan berkewajiban untuk membalas budi baik atau jasa-jasa kita? Tentu saja tidak. Suatu kali seorang teman mengatakan bahwa Tuhan ingin melakukan perkara-perkara yang baik bagi kita bukan karena kita baik dan layak, tetapi karena Dia baik. Not because we are so great, flawless, not even because we deserve it, but it’s simply because God is good. Karena Tuhan baik. Karena Tuhan penuh kasih. He is good, He is a loving Father. Karena itulah Dia memberi anugerahNya kepada kita, baik untuk dipakai dalam kehidupan sekarang maupun anugerah keselamatan bagi kehidupan kekal nanti. Itulah sebabnya disebut dengan anugerah, sesuatu yang sebenarnya tidak pantas kita terima tapi diberikan secara cuma-cuma.

Tuhan itu baik. Tuhan selalu rindu melakukan perkara-perkara yang baik bagi hidup kita. Coba simak Firman Tuhan berikut ini: “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” (Yakobus 1:17). Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa segala yang baik dan anugerah yang sempurna itu berasal dari Tuhan, tanpa ada yang berkurang, tanpa ada yang tertukar, tanpa ada yang berubah. Semua itu diberikan Tuhan bukan karena kita yang baik, tetapi karena Dia baik. Ketika beban pikiran dan masalah sedang rajin menghampiri kita, renungan sederhana seperti ini hendaknya mengingatkan saya kembali bahwa ada kebaikan Tuhan yang senantiasa menyertai anak-anakNya bahkan di tengah kondisi yang terlihat tidak baik. Dan untuk itu dalam kondisi apapun sudah sepantasnya jika kita bersukacita dengan penuh rasa syukur.

Yang sering terjadi adalah sebaliknya. Betapa mudahnya kita melupakan kebaikan Tuhan. Kita dengan ringan menyalahkan Tuhan dan menuduh Tuhan tidak adil atau pilih kasih kalau Dia tidak kunjung turun tangan sesuai jangka waktu yang kita tetapkan sendiri. Itu kita lakukan buru-buru tanpa menelaah lebih jauh apakah yang jadi akar masalah adalah karena kesalahan kita sendiri atau bukan. Kalaupun bukan, mungkin kita tengah dibentuk agar jadi lebih kuat, lebih bijaksana dan lebih teguh imannya. Dan kalau ini yang terjadi, semua hanya masalah waktu saja, dan kesabaran menjadi faktor penting dalam hal ini. Di sisi lain, ada banyak orang pula yang dengan segera kembali melupakan kebaikan Tuhan begitu lepas dari masalah dan nanti kembali kecewa, menggerutu, bersungut-sungut atau bahkan menghujat Tuhan saat bertemu dengan masalah lagi. Selain itu ada banyak pula orang yang terus mengeluh meski keadaannya sebenarnya tidaklah begitu parah. Pertanyaannya, apakah kebaikan Tuhan harus selalu diukur lewat ada tidaknya masalah? Pantaskah kita berlaku seperti itu? Tentu saja tidak. Ada banyak alasan mengapa kita harus tetap melalui lembaran-lembaran sulit dalam perjalanan hidup kita. Bisa jadi Tuhan sedang melatih otot rohani kita, bisa jadi itu untuk memberi pelajaran bagi kita, bisa jadi pula akibat dosa kita sendiri. Apapun itu, satu hal yang pasti adalah bahwa Tuhan itu baik, dan kebaikan serta kasih setiaNya untuk selamanya.

Dengan menyadari kebaikan Tuhan seharusnya kita tetap dipenuhi sukacita dalam segala musim. Dalam kitab Yesaya kita bisa menemukan hubungan yang indah antara menyadari kebaikan Tuhan dengan datangnya perasaan sukacita. “Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar.” (Yesaya 63:7). Kemudian dilanjutkan dengan: “..maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala.” (ay 8-9). Ketika Yesus datang ke bumi, ia langsung turun tangan menyelamatkan umat manusia, menebus kita dalam kasih dan belas kasihNya yang begitu besar. Untuk itu saja kita sudah sangat pantas mengucap syukur tak henti-hentinya.
Di zaman Salomo kita bisa menemukan sebuah lagu pujian yang dipersembahkan kepada Tuhan lewat ensambel dan paduan suara besar yang megah. “Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan.” (2 Tawarikh 5:12-13). Lihatlah lagu pujian yang menyatakan kebaikan Tuhan itu mampu membuat kemuliaanNya turun dari langit. Kebaikan Allah haruslah selalu kita ingat, dari sana kita bisa beroleh sumber sukacita yang hebat dari Tuhan sendiri.

Selanjutnya dalam kitab Nehemia dikatakan “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:10b). Perhatikanlah bahwa sumber sukacita yang sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan tergantung dari kondisi yang kita alami. Jika kita tetap menyadari kebaikan Tuhan, maka sukacita kita tidak perlu luntur atau hilang. Disanalah sesungguhnya letak perlindungan kita. Lalu lihat apa kata Pemazmur berikut ini. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: “Serve the Lord with gladness! Come before His presence with singing!” Mengapa seruan ini dinyatakan Pemazmur? Alasannya sederhana, “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (ay 5). Pemazmur menyadari betul bahwa Tuhan itu baik. Kasih setiaNya berlaku untuk selama-lamanya dan turun temurun. Kebaikan dan kemurahan Tuhan itu berlaku tidak hanya sesaat tapi sepanjang masa. Pemazmur tahu itu dan berkata “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:6).

Adalah mudah bagi kita untuk mengeluh. Mudah bagi kita untuk memandang dan menimbang masalah, tetapi seringkali sulit bagi kita untuk menyadari segala kebaikan Tuhan yang telah Dia beri dalam hidup kita. Apakah saat ini anda sedang berbeban berat atau sedang dalam kondisi baik-baik saja, jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan dan untuk itu tetaplah bersukacita. Mengeluh dan terus meratapi masalah tidak akan membawa solusi apa-apa selain memperkeruh situasi dan bisa jadi malah menambah masalah. Sebaliknya hati yang bersukacita akan membawa segala kebaikan Allah untuk turun atas kita. “Percayakan segalanya pada Tuhan, dan bersukacitalah, maka Tuhan akan melepaskan kita. “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4). Tetaplah ingat kebaikan Tuhan, dan bersukacitalah karenanya.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply