Karena Tidak Percaya (1)

Ayat bacaan: Matius 13:58======================”Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.”Percayakah anda bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara? Tentu mudah bagi kita untuk berkata amin. Tapi coba kalau perta…

Ayat bacaan: Matius 13:58
======================
“Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.”

Percayakah anda bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara? Tentu mudah bagi kita untuk berkata amin. Tapi coba kalau pertanyaan selanjutnya lebih diarahkan secara spesifik kepada diri sendiri: apakah Tuhan mampu melakukan perkara besar buat anda? Saya yakin tingkat kepercayaan akan menurun drastis. Jelaslah ada perbedaan nyata antara percaya akan kemampuan Tuhan dengan percaya bahwa anda sendiri berada di dalam jarak jangkau Tuhan dalam melakukan perkara-perkara besar. Saya telah bertemu banyak orang yang tidak pernah merasa yakin bahwa ia mampu mengalami hal-hal luar biasa dalam hidupnya. Alasan yang dipakai pun macam-macam. Ada yang bilang ia tidak lagi terkejut kalau gagal karena sudah biasa, ada yang berkata bahwa dalam hidup ia ditakdirkan bukan menjadi orang yang sukses dan/atau beruntung, ada juga yang bilang itu bukan jatahnya, seolah Tuhan pilih kasih untuk menguntungkan sebagian dan membiarkan sisanya buntung.

Seringkali doa-doa yang kita panjatkan pada Tuhan untuk meminta uluran tanganNya tidak disertai dengan keyakinan. Berdoa sih berdoa, tapi ya gitu… kalau dijawab syukur, tidak dijawab ya sudah. Berdoa saja dulu, urusan percaya atau tidak nanti saja lihat hasilnya. Padahal firman Tuhan sama sekali tidak mengajarkan seperti itu. Sama-sama berdoa, tapi ada perbedaan besar antara orang yang berdoa dengan disertai keyakinan penuh bahwa Tuhan sangat sanggup menjawab doanya dengan orang yang sekedar berdoa tanpa iman yang disertai rasa percaya. Lebih parah lagi kalau jarak jawaban doa dari Tuhan dipaksa masuk menurut time-frame kita. Kalau dalam seminggu belum juga ada jawaban, maka berarti Tuhan tidak peduli. Kita dengan lancang memberikan batas jatuh tempo sesuai kehendak kita. Pola pikir seperti ini menempatkan Tuhan hanya secara sempit, sebatas penolong yang bisa kita atur sekehendak kita, atau selayaknya bodyguard atau tukang sulap sewaan yang harus patuh setiap saat kepada kita.

Ini fenomena yang sering terjadi pada banyak orang, bahkan di kalangan anak-anak Tuhan sendiri. Ada seorang bapak paruh baya yang awalnya sangat sulit hidupnya. Jangan salah, ia sangat rajin berdoa bahkan sejak masa mudanya. Tapi anehnya, ia masih terus diselimuti pikiran negatif dan rendah diri berlebihan. Ia pesimis memandang segala sesuatu dan melihat segala hal dari sudut pandang yang buruk saja. Ia berdoa tapi tidak menyadari besarnya kuasa doa, dan tidak menyadari bahwa doa yang dipanjatkan tanpa percaya akan jadi sia-sia. Ketika saya mengarahkannya untuk merubah pola pikir dan mulai perlahan melatih meningkatkan rasa percayanya dalam setiap doa yang ia panjatkan, secara perlahan hidupnya berubah. Hari ini ia sukses bekerja di pulau lain dengan semangat tinggi bak anak muda. Secara tidak sadar ia selama ini menutup sendiri berkat Tuhan. Ia mengabaikan begitu banyak peluang dimana Tuhan bisa memberkatinya berlipat kali ganda dengan segala pikiran negatifnya. Dan doa-doa yang ia panjatkan tidak disertai rasa percaya. Untunglah Tuhan selalu berkenan memberi kesempatan kedua. Puji Tuhan, hari ini ia sudah merasakan sendiri bahwa ternyata ia pun bisa mengalami perkara-perkara besar dalam hidupnya yang berasal dari Tuhan.

Ada begitu banyak orang yang membuang-buang kesempatan dalam hidup yang singkat ini karena mereka kurang atau bahkan tidak percaya. Mari kita lihat perjalanan Yesus melayani di kotaNya sendiri, di Nazaret. Pada saat itu kehebatan Yesus melakukan banyak mukjizat sudah tersiar dimana-mana, termasuk di Nazaret sendiri. Di mana ada Yesus, disana banyak orang yang berkumpul, dan mereka pun mengalami berbagai mukjizat kesembuhan, pemulihan dan lain-lain. Sangatlah menarik melihat fakta bahwa hal ini tidak terjadi di Nazaret, kota dimana Yesus berasal. Penduduk disana ternyata terlalu dikuasai oleh pikiran negatif yang suka menyepelekan sehingga mereka terburu-buru menghakimi hanya dengan memandang fisik manusia Yesus. Pertanyaan-pertanyaan hadir di pikiran mereka yang membuat mereka ragu. “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” (Matius 13:54-56). Kebimbangan mengambil alih rasa percaya mereka. Dan inilah yang terjadi: “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (ay 58). Lihatlah bagaimana mereka menutup sendiri perkara besar yang bisa dan akan Tuhan lakukan dalam hidup mereka hanya karena mereka menolak untuk percaya berdasarkan pemikiran-pemikiran pribadi dan tendensius. Their disbelief made them fail to receive big things from God. Rasa ketidakpercayaan ternyata membuat mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh mukjizat. Inilah yang terjadi apabila kita tidak memliki rasa percaya. Bukankah yang rugi kita sendiri?

Yesus jelas menyadari betul bahwa manusia memiliki keterbatasan kemampuan berlogika dan berpikir. Logika dan pikiran secara duniawi seringkali menjadi penghalang kita dalam menerima berkat dan mukjizatNya. Karena itulah berulang kali Yesus mengingatkan kita agar percaya, dan berkali-kali pula menegur mereka yang kurang atau tidak percaya.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply