Karakter Terhormat

Ayat bacaan: Rut 3:11
=================
“Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.”

karakter terhormat, rut, boas

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Itulah kata sebuah pepatah yang mungkin sudah jarang diingat orang hari ini. Ada yang melanjutkan pepatah itu dengan “manusia mati meninggalkan nama”. Seperti apa kita saat ini dan terutama nantinya dikenang orang? Apakah kita dikenal dengan kebaikan kita, kerendahan hati, keramahan, atau kita dikenal sebagai orang yang sombong, egois dan sebagainya. Apakah kekayaan membuat kita semakin mengasihi Tuhan dan sesama, atau malah menjauhkan kita dariNya? Apakah segala berkat yang kita dapatkan sudah kita pakai untuk memberkati orang lain atau hanya ditimbun dan ditumpuk untuk kekayaan diri sendiri? Semua itu menentukan apakah kita tercatat dengan tinta emas baik di mata sesama kita manusia dan tentunya Tuhan. Gelar, status dan harta kekayaan kita saat ini tidak serta merta menjamin kita menjadi seseorang yang terhormat dan dikenang orang dari masa ke masa. Bahkan tidak berarti dengan itu semua kita menjadi orang-orang yang dikenal Tuhan secara pribadi. Rasanya tidak ada orang yang tidak ingin menjadi sosok berkarakter terhormat yang masih diingat orang bahkan jauh setelah kita tidak lagi ada di dunia ini. Hari ini mari kita melihat sisi seorang wanita dengan karakter terhormat, Rut.

Rut terlahir sebagai wanita bangsa Moab, sebuah bangsa yang jauh dari Tuhan dan menyembah berhala. Pernikahannya dengan anak Naomi membawanya untuk mengenal sosok Tuhan. Ketika bencana terjadi, Rut kehilangan suaminya sehingga hanya ia yang tinggal bersama mertuanya Naomi dan iparnya Orpa. Ketika Naomi memilih untuk pulang ke tanah airnya, Orpa memilih untuk pulang kepada orang tuanya di Moab. Sementara Rut memutuskan untuk tetap setia, baik kepada mertuanya maupun kepada Tuhan yang sekarang ia sembah. “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16-17). Hidup di tanah orang lain yang tidak menganggap bangsa Moab sebagai bangsa yang terhormat tanpa modal apa-apa, tanpa kenal siapapun selain mertuanya Naomi. Sementara jika ia memilih untuk pulang, ia bisa mendapatkan kembali hidup tak berkekurangan. Ini tentu sebuah pilihan sulit bagi Rut. Tapi dengan tegas Rut memutuskan untuk mengikuti Naomi. Sekali lagi, Rut memilih untuk setia dan tetap mengasihi mertuanya dan Tuhan yang sekarang ia sembah.

Pilihan seperti ini merupakan sebuah langkah iman. Rut percaya ada rencana Tuhan di depan walaupun ia belum melihatnya. Dan apa yang terjadi sungguh indah. Rut kemudian bertemu dengan Boas. Ternyata karakter Rut bersinar terang di Betlehem. Karakternya yang bersinar dan terhormat tidak saja diakui oleh Boas, namun ternyata diakui oleh semua orang di kota tempat tinggalnya yang baru. Meski dia berasal dari Moab, ternyata karakternya mendatangkan kekaguman dari penduduk disana. Boas pun berkata demikian: “Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik. (Rut 3:11). Dalam versi BIS, karakter Rut disebutkan sebagai “wanita yang baik budi”. Pernikahan Rut dan Boas pun terjadi, dan hidupnya dipulihkan secara luar biasa. Langkah iman Rut membawanya pada berkat-berkat Tuhan yang terus mengalir dalam hidupnya. Kita tahu dari keturunan-keturunan Rut dan Boas kemudian lahirlah Daud hingga kemudian Yesus Kristus. Luar biasa.

Latar belakang masa lalu, harta, status dan kehebatan manusia tidaklah cukup kuat untuk membuat kita kepada sebuah karakter terhormat. Rut mendapatkannya dengan kesetiaan kepada Allah. Langkah imannya yang teguh kepada Allah yang belum lama ia kenal membuat dirinya hidup penuh pengharapan, tidak bersungut-sungut, rendah hati dan berbudi pekerti. Dan itu semua membuatnya menjadi sosok wanita terhormat yang diakui oleh orang lain, bahkan berkenan pada Tuhan sehingga lewat dirinyalah Sang Penebus lahir di dunia ini. Hidup ini tidaklah mudah. Setiap saat ada banyak keinginan yang bisa menjerumuskan kita kepada kemerosotan moral hingga berujung pada dosa. Ada begitu banyak penderitaan yang mungkin saat ini belum terlihat jalan keluarnya. Tapi kita diingatkan untuk tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri, melainkan bergantunglah pada Allah dengan pengharapan tanpa henti. (2 Korintus 1:8-9). Mata Tuhan tetap melihat segala yang kita lakukan, dan Dia selalu lebih dari siap untuk melimpahkan berkat kepada siapapun yang selalu taat dengan sungguh-sungguh kepadaNya. “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. (2 Tawarikh 16:9a). Langkah iman yang teguh tidak akan pernah sia-sia. Karena itu kita tidak perlu gemetar dan khawatir menghadapi masa depan, tidak perlu terjebak pada keinginan menimbun harta lewat jalan-jalan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, karena tanpa itu semua pun kita mampu hidup dengan penuh kecukupan, karena Tuhan adalah Allah yang menyediakan. Karakter terhormat akan hadir jika kita mengenal Tuhan dengan baik, percaya kepadaNya dengan sungguh-sungguh, dan hidup dengan iman yang teguh kepadaNya. Terang Tuhan akan terpancar lewat kita jika kita mengijinkanNya hidup di dalam kita, dan kita hidup di dalamNya. Yesus mengingatkan demikian: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:33-34). Hal ini telah dilakukan Rut jauh sebelumnya, dan Rut telah membuktikan bahwa janji Tuhan itu bukanlah omong kosong. Lewat kisah Rut hari ini, marilah kita memiliki pribadi dengan karakter terhormat meski mungkin hidup terasa masih sulit hari ini. Percayalah bahwa Tuhan siap menambahkan segalanya kepada kita.

Langkah iman tidak akan pernah sia-sia, karenanya hiduplah selalu sesuai firman Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply