DALAM perjalanan bus malam ke Muntilan, Jawa Tengah, beberapa hari lalu, di sebelah saya duduk seorang Ibu yang hendak ke Yogyakarta. Setelah berkenalan dan cerita kesana kemari tentang keluarga, saya tahu kalau Ibu itu mempunyai dua anak yang sedang studi di kota Pelajar Yogyakarta. Suami ibu itu bekerja di Jakarta sebagai guru dan ia sendiri bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta.

Dari ceritanya bisa disimpulkan kalau hidup mereka diliputi kebahagiaan dan tidak kekurangan suatu apa pun. Semua rencana dan cita-cita keluarga berjalan sebagaimana yang diharapkan. Maka tak heran melihat raut wajah Ibu itu yang bersinar-sinar saat bertutur tentang kehidupan keluarganya.
Ia merasa hidupnya sudah “sukses”.

Ketika bus malam yang membawa kami berhenti di sebuah restoran di daerah Gringsing, Kecamatan Batang, Jawa Tengah, untuk beristirahat, ibu itu mengatakan kalau sebenarnya jauh di lubuk hatinya terpendam sebuah mimpi/ keinginan yang aneh. Beberapa bulan ini dalam doa-doa pribadinya, ia merasa hidupnya terpanggil menjadi seorang biarawati yang membaktikan diri di biara. Ia merasa belum cukup hanya berdoa, beramal dan berkegiatan sosial di paroki. Ia ingin hidup lebih intim dan lebih dekat lagi dengan Tuhan.

Ia menuturkan cintanya kepada Tuhan itu amat sangat menyiksa, membuat jiwanya gelisah………kekeringan bagai rusa merindukan air!

Tertegun saya!

Sepintas saya kagum betapa mendalam hidup rohaninya. Berbeda dengan saya yang seharian sibuk bekerja dan jarang memikirkan kehadiran Tuhan, apalagi merindukanNya sampai seperti rusa haus mencari air. Kalaupun berdoa, saya hanya datang kepada Tuhan karena sedang ada masalah atau sedang butuh sesuatu.

Itu pun dengan sedikit memaksa….Tuhan, kabulkan, ya Tuhan pintaku ini. Bener, loh, ya kabulkan , kan saya sudah berdoa tiap malam jam duabelas berturut-turut sembilan kali.

Kemudian refleksi saya berlanjut ke hal lain. Tampaknya ada sesuatu yang kurang yang sama-sama dialami ibu itu dan saya yakni rasa kurang bersyukur. Bedanya ibu itu sudah berkelimpahan harta rohani dan jasmani tetapi beliau malah punya keinginan lain yang tidak masuk akal. Seolah-olah mimpinya menjadi biarawati itu sesuatu yang mulia padahal bertentangan dengan pilihan hidupnya sebagai seorang Ibu yang harus mengasuh dan membesarkan anak-anaknya serta mendampingi suami hingga masa tua.

Sementara saya belum berkelimpahan apa-apa tetapi parahnya juga tidak pernah sujud syukur atas apa yang sudah saya terima. Akibatnya saya meminta, meminta dan terus meminta. Yang saya minta dan yang saya impikan adalah sesuatu yang jauh, yang kadang tidak real. Padahal berkat Tuhan ada di depan mata. His blessings are everywhere even in the small things around us.

Saya lalu berpikir, kapan terakhir saya bersyukur atas nafas yang boleh saya hirup saat membuka mata di pagi hari? Kapan saya memujiNya saat saya tidak kehujanan waktu pulang kerja? Kapan saya berterimakasih saat membuka dompet di tanggal tua dan mendapati masih ada beberapa lembar rupiah di dalamnya? Kapan saya bersyukur saat sedang galau tiba-tiba ada teman yang datang menyapa dan menghibur? Kapan saya bersyukur mempunyai pekerjaan yang layak di saat orang zaman sekarang sulit mencari pekerjaan? Kapan saya sempat berterimakasih diberi kesehatan prima ditengah maraknya berbagai macam jenis penyakit zaman ini?

Wah…… masih banyak pertanyaan berjudul “kapan saya bersyukur” di benak saya malam itu. Sementara bus malam sudah melaju menembus kepekatan malam menuju Yogyakarta. Saya lihat ibu di sebelah saya sudah tertidur tanpa sempat mendengarkan curcol saya yang menyesal karena kurang pandai bersyukur. Barangkali dengan mendengarkan cerita saya, Ibu itu juga disadarkan bahwa apapun yang diterima dalam hidup, hanya satu yang patut kita lakukan, yakni tetap bersyukur.

Photo credit: Ungkapan syukur (Ilustrasi/Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.