“Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan”

“Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan”

(Rm 1:16-25; Luk 11:37-410

 

“Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para pencopet pada umumnya berpakaian rapi dan nampak sebagai orang yang baik-baik saja. Cara berpakaian rapi merupakan strategi agar usaha kejahatanya sukses. Cara menghadirkan diri macam itu sering juga terjadi dalam kebanyakan orang, yaitu bagian luar nampak bersih, indah, rapi dan mempesona, tetapi bagian dalam alias hatinya busuk atau jahat. Nampak cantik atau tampan sebenarnya yang bersangkutan bejar moralnya. Itulah sikap mental Farisi, yang masih dihayati oleh cukup banyak orang. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita sebagai orang beriman untuk lebih menekankan kebersihan bagian dalam, yaitu hati, daripada bagian luar atau penampilan diri yang bersifat sandiwara. Dari hati yang bersih, suci dan murni akan lahir penampilan diri sejati yang mempesona dan menarik hati. Jauhkan gaya atau cara hidup sandiwara, yang pada umumnya hanya membahagiakan sesaat dan sesudahnya sengsara atau menderita cukup lama. Kita dipanggil untuk dengan jujur menyampaikan isi hati kita masing-masing kepada saudara-saudari kita terutama mereka yang setiap hari hidup dan bekerja sama dengan kita. Secara khusus kepada rekan muda-mudi yang sedang berpacaran, yang pada umumnya lebih dijiwai kepura-puraan atau sandiwara, untuk terus menerus membersihkan diri dari kepura-puraan atau sandiwara kehidupan. Maklum pada umumnya ketika masih dalam pacaran atau tunangan nampak mesra, namun ketika sudah menjadi suami-isteri kemesraan tersebut mengalami erosi dan akhirnya tinggal kenangan. Hal yang senada kami ingatkan semua saja yang masih berada dalam masa persiapan (calon imam,  bruder, suster, pegawai dst..) hendaknya selama masa persiapan tersebut hidup dan bertindak jujur atau berhati tulus. “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”, demikian sabda Yesus. ” Berikanlah isi hati anda kepada yang anda kasihi, maka anda akan mampu mengasihi semuanya atau siapa saja”.

·   ” Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka” (Rm 1:23-24), demikian kata Paulus kepada umat di Roma. Mungkin kita juga termasuk ‘mereka yang menggantikan kemuliaan Allah dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang’, dengan kata lain berbakti pada berhala-berhala. Memang sungguh merupakan kenyataan bahwa ada orang lebih mengutamakan burung dan binatang atau binatang daripada manusia, lebih mementingkan pesta pora daripada beribadat atau berdoa atau saling mencemarkan tubuh. Orang lebih memboroskan waktu dan tenaga bagi burung, binatang, tanaman kesayangannya daripada pasangan hidupnya atau anak-anaknya. Orang begitu royal atau murah hati dalam membelanjakan uangnya untuk membeli aneka macam hiasan atau assesori, tetapi begtu pelit dalam membeayai pendidikan anak-anaknya. Kita semua dipanggil untuk tidak menggantikan kemuliaan Allah, tetapi setia menghayati kemuliaan Allah. Menghayati kemuliaan Allah antara lain berarti senantiasa berusaha menemukan dan menjumpai Allah yang hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri sesama manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Dengan kata lain kita dipanggil untuk saling memuliakan dan menghormati  sesama manusia, serta menempatkan ciptaan-ciptaan lainnya sebagai pendukung untuk saling memuliakan dan menghormati. Segala sesuatu yang mengganggu untuk saling memuliakan dan menghormati hendaknya dibuang atau disingkirkan.

 

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari ” (Mzm 19:2-5)

 

Jakarta, 13 Oktober 2009

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply