“Kamu meletakkan beban yang tak terpikul pada orang tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun”

“Kamu meletakkan beban yang tak terpikul pada orang tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun”

(Rm 2:1-11; Luk 11:42-46)

 

“Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun“(Luk 11:42-46), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Mandor” atau pemimpin para buruh pada umumnya lebih banyak berkata dan memberi perintah atau beban daripada bekerja atau melakukan apa yang ia bebankan atau perintahkan kepada orang lain. Memang ada perbedaan antara ‘mandor’ yang berpengalaman sebagai pekerja atau buruh dan ‘mandor’ yang didrop dari sekolah alias karena ijasah dan belum berpengalaman sebagai pekerja/buruh. Hal yang senada juga dapat dilakukan oleh pemimpin lain di tingkat atau jenis kehidupan bersama apapun, misalnya keluarga atau organisasi kemasyarakatan. Dengan kata lain masih cukup banyak pemimpin yang bersikap mental Farisi, meletakkan beban-beban pada orang lain dan mereka sendiri tidak menyentuh beban tersebut. Marilah kita jauhkan dan berantas sikap mental Farisi, dan rasanya harus dimulai oleh mereka yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama (pemimpin, ketua, direktur, kepala bagian, orangtua dst.). Maka merefleksikan dialog Yesus dengan orang Farisi, sebagaimana saya kutipkan di atas, kami ajak kita semua untuk meninggalkan sikap mental Farisi dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Hendaknya kita meneladan Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia“(Fil 2:6-7), dan hal ini, sekali lagi kami ingatkan, hendaknya terjadi di dalam keluarga, basis hidup bersama, dengan teladan orangtua atau bapak-ibu. Sebagai contoh konkret, misalnya dalam hal kebersihan kamar-kamar dan halaman rumah-> baiklah orangtua memberi teladan dalam menyapu, mengepel, menyiram dan merawat tanaman, dst.. bagi anak-anaknya.

·   Hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.”(Rm 2:1). Menghakimi orang lain berarti melecehkan atau merendahkan orang lain, antara dengan mencari dan membesar-besarkan  kesalahan orang lain. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk tidak saling menghakimi, melecehkan atau merendahkan, melainkan saling menghormati dan mengasihi serta mengabdi/melayani alias saling membahagiakan atau mensejahterakan.  Rasanya hal ini pertama-tama dan terutama perlu dihayati oleh mereka yang merasa atau dipandang berada ‘di atas atau berpengaruh’ dalam hidup dan kerja bersama: hendaknya tidak dengan mudah mencari kelemahan dan kekurangan orang lain apalagi memberitakan atau menyebarluaskannya. Hendaknya lebih melihat kelebihan dan kekuatan orang lain dan kemudian menghormati dan menghargainya, memujinya. Sekiranya melihat kesalahan atau kekurangan orang lain hendaknya dibetulkan dalam dan dengan cintakasih, sehingga yang bersangkutan tidak merasa dilecehkan atau direndahkan, sebaliknya siapapun yang diperingatkan atau dibetulkan kesalahan dan kekurangannya, hendaknya menanggapinya dalam kasih juga, antara mengucapkan ‘terima kasih’ Segala macam bentuk sapaan, tegoran, kritikan, saran, dst dari orang lain hendaknya dihayati sebagai wujud perhatian dan kasih serta ditanggapi dengan ‘berterima kasih’.  Sekali lagi jauhkan sikap saling menghakimi atau melecehkan dan merendahkan, marilah kita perkuat dan teguhkan sikap saling menghormati dan menghargai.

 

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” (Mzm 62:2-3.6-7).

             

Jakarta, 14 Oktober 2009

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply