Kamis 16 Oktober 2014: Menghalangi Orang yang Mau Masuk, Luk 11:47-54

munafik 3ORANG-orang Farisi dan ahli Taurat banyak dikritik oleh Tuhan Yesus. Kecuali karena mereka munafik, pura-pura saleh dan berlagak punya pengetahuan, Yesus lebih-lebih mengritik mereka, karena mereka punya pengetahuan banyak tentang Hukum Taurat (mengambil kunci pengetahuan), tetapi mereka menafsirkannya dengan semena-mena dan myingkirkan hal-hal yang benar dan yang dapat membawa orang kepada ajaran Yesus. “Celakalah kalian […]

munafik 3

ORANG-orang Farisi dan ahli Taurat banyak dikritik oleh Tuhan Yesus. Kecuali karena mereka munafik, pura-pura saleh dan berlagak punya pengetahuan, Yesus lebih-lebih mengritik mereka, karena mereka punya pengetahuan banyak tentang Hukum Taurat (mengambil kunci pengetahuan), tetapi mereka menafsirkannya dengan semena-mena dan myingkirkan hal-hal yang benar dan yang dapat membawa orang kepada ajaran Yesus.

“Celakalah kalian hai ahli-ahli Taurat, sebab kalian telah mengambil kunci pengetahuan. Kalian sendiri tidak masuk ke dalamnya, tetapi orang yang berusaha masuk kalian halangi.”

Sejak zaman Tuhan Yesus hingga sampai saat ini orang yang seperti Kaum Farisi dan Ahli Taurat masih banyak. Semua penyimpangan-penyimpangan dari Gereja yang sering disebut bidaah itu munculnya juga dari orang-orang yang punya pengetahuan, baik itu mengetahuan Kitab Suci, teologi atau sejarah Gereja.

Mereka ini juga menafsirkan menurut pikiran mereka sendiri, lalu mengambil keputusan yang berbeda dari tradisi Gereja dan mencari pengikut sendiri. Puluhan bahkan ratusan dari pecahan Gereja ini sekarang ada di mana-mana. Mereka ini biasanya juga menghalangi orang mengikuti Gereja Katolik.

Yang terjadi pada tingkat paroki atau lingkungan pun juga ada. Banyak orang yang merasa sudah memahami ajaran Gereja dan Kitab Suci atau liturgi lalu membuat kelompok sendiri. Bahkan ada orang yang menafsirkan bahwa perintah Yesus yang utama adalah doa, sehingga kelompok ini lebih mementingkan doa-doa dan tidak perlu lagi mengikuti ekaristi mingguan di Gereja atau di lingkungan.
Perpecahan ini munculnya dari kelompok doa yang bemacam-macam bentuknya, tetapi kemudian ada kelompok yang dipengaruhi oleh Gereja lain, sehingga warna kelompok itu menjadi lain, lalu memisahkan dari Gereja Katolik.

Bahkan bukan hanya terjadi dalam tingkat lingkungan, tetapi dalam keluarga pun terjadi perpecahan akibat dari perkawinan campur. Suami-istri berbeda keyakinan, lalu putra-putrinya juga terpecah, karena ada yang mengikuti bapak dan yang mengikuti ibunya. Bahkan keluarga ini dapat mempengaruhi keluarga lain.

Maka untuk dapat kembali bersatu, kita harus berani berpegang pada ajaran Kristus yang benar didasarkan pada ajaran Gereja. Kita harus mengingat bahwa tujuan Yesus mendirikan Gereja ini agar terjadi persaudaraan yang sejati, sebagai dasar dari Kerajaan Allah, bukan perpecahan. Dengan persaudaraan sejati yang didasarkan iman dan cintakasih maka Kerajaan Allah yang akan semakin nampak di tengah masyarakat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply