Kamis 14 Agustus 2014: Soal Mengampuni, Mat 18:21-19:1

minta maaf

ALASAN terdalam mengapa kita juga harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, yaitu bahwa sudah lebih dahulu Tuhan mengampuni semua dosa kita. Dan kalau Tuhan mengampuni dosa kita itu berarti Tuhan sudah melupakan seluruh kesalahan kita dan kita boleh hidup baru.

Namun apa yang sering kita buat terhadap orang lain?

Sering kali kita segan mengampuni kesalahan orang lain, bahkan seringkali orang yang bersalah kepada kita itu kita jadikan musuh kita. Atau kalau kita mengampuni orang lain itu kadang-kadang hanya basa basi saja.

Kita bersalaman dengan orang yang mempunyai salah kepada kita dan mengatakan “Ya, kamu saya maafkan”, tetapi dalam praktik kesalahan orang itu bukannya kita hhilangkan dari pikiran dan perasaan kita, tetapi justru kita simpan terus dan kita ingat-ingat terus, sehingga seolah-olah kita masih punya musuh. Bahkan sadar atau tidak sadar kesalahan orang lain itu lalu kita bicarakan dengan orang lain.

Apalagi kalau orang yang pernah kita ampuni berbuat salah lagi, lalu bagaimana reaksi kita? Kita justru memarahi dan mengatakan: “Dulu kesalahanmu sudah saya maafkan, tetapi kamu sekarang berbuat lagi. Lalu berapa kali saya harus memaafkan?”

Injil pada hari ini secara jelas mau menjawab soal ini. Mengampuni terhadap orang lain, jangan dihitung berapa kali.

”Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh”. Artinya “tak terhitung”.

Karena mengampuni ini harus menjadi sikap dasar pengikut Kristus, yaitu agar jangan memandang orang lain sebagai musuh. Ini sikap dasar. Dalam keluarga ada banyak orang saling bermusuhan, dalam masyarakat dan hidup bertetangga ada banyak orang yang bermusuhan.

Di masyarakat kita banyak sekali orang kita anggap musuh, karena berbeda pandangan. Di balik itu sebenarnya yang dituju oleh Yesus supaya diatara kita dan di dala masyarakat semakin dikembangkan semangat cintakasih, saling mengampuni dan menjadi saudara.

Supaya kita dapat semakin mempunyai sikap mau mengampuni seperti Tuhan Yesus, tentu saja ada latihan yang perlu kita kembangkan, yaitu kita diajak selalu menyadari kebaikan Tuhan pada kita yang tak terbatas. Kita juga diajak melihat bahwa orang lain yang kita anggap jahat pun juga dikasihi Tuhan.

Kalau orang kedudukannya lebih lemah dari kita, kita perlu mengenakan belas kasih. Selanjutnya kita diajak untuk latihan mengelola diri khususnya bagaima-na mengelola emosi. Semoga nasehat Yesus bermanfaat bagi hidup kita.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: