Kami Masih Hidup Damai Berdampingan

masjid

TANAH KUSIR 80-an dan 90-an. Lokasi yang kini bernama Delman Elok itu dulu belum punya nama. Ada satu masjid lingkungan yang bernama Istiqomah, sekarang berlokasi di Delman Indah III. Kami semua, keluarga dari banyak RW di peninggaran, sebagian Jalan Bendi, dan Jalan Delman, salat dan mengaji di situ. Pak Dabbas Rahmat adalah salah satu ustad pertama di Istiqomah.

Pada tahun 90, didirikanlah sebuah musala bernama Baiturrahman di Delman Elok 2, sementara di Delman Elok 1 sudah ada GBKP dan Gereja Simalungun, yang konon katanya pindah karena ditolak di daerah Pondok Labu, tapi itu hanya cerita yang kami dengar saat kecil.

Tiap kali ada perayaan dan pertunjukan Natal, anak lingkungan Delman Elok selalu menonton dari luar dan tidak ada yang melarang. Saat salat Idul Fitri digelar pada hari Minggu, Pak Pendeta selalu ikut berdiri di ujung jalan untuk meminta para jemaatnya memarkir mobil jauh dari gereja dan berjalan memutar.

Hanya saat salat Idul Fitri dan Idul Adha kami menutup jalan, itu pun baru beberapa tahun terakhir karena lapangan di Bendi Raya yang dikenal dengan nama Lapangan Puma sudah dijadikan taman oleh Pemda DKI. Saat menggelar pengajian, kami tidak pernah menutup jalan dan kami merasa derajat keislaman kami tidak berkurang karena tak sampai menutup jalan.

Pada hari biasa, kami anak-anak Muslim dibesarkan di Masjid Istiqomah dan Musala Baiturrahman, termasuk lomba azan dan mengaji serta latihan membaca Al Fatihah dengan tajwid dan pelafalan yang tepat selama bersubuh-subuh. Sejak SD saya sudah membaca buku Hadits Bukhari Muslim dan Fikih Shalat Empat Mazhab milik ibu saya, yang hingga kini masih ada di lemari buku saya. Kami akrab dengan lekar, lalu dengan kegiatan menjadi amil menjelang Idul Fitri, serta menjadi tukang parkir gereja saat Natal dan Paskah.

Kami Indonesia
Kami semua orang Indonesia: memakai kopiah hitam, celana pendek dengan kaus atau kemeja, serta sarung yang seusai salat bisa dipakai untuk saling mencambuk dengan teman. Peci putih hanya untuk pak haji, begitu kami menyebutnya saat kecil: peci haji. Tidak ada yang memakai gamis apalagi jubah panjang dengan kafayeh atau sorban seperti yang dikenakan Pasha Ungu di album religi mereka.

Hingga remaja, rutinitas bulan Ramadan selalu sama: sahur, salat Subuh berjamaah, jalan-jalan, sekolah, pulang, menghabiskan siang di taman bacaan atau Perpustakaan Umum Jakarta Selatan Gandaria sambil berbaring dengan muka lemas, duduk berjam-jam di Gramedia Blok M sampai diusir satpam, atau bergerombol di bawah pohon jamblang untuk menghindari matahari, kemudian berbuka bersama di musala, tarawih, lalu tadarus sambil ngantuk-ngantuk dan menghabiskan makanan sisa buka puasa bersama. Waktu masih SD, jika libur, pengajian yang dipimpin Pak Dabbas Rahmat dan Pak Ilham digelar setiap hari.

Menjelang Lebaran, kegiatan di musala ditambah dengan penerimaan zakat fitrah dan zakat mal. Menjelang Natal, kami masih jadi tukang parkir gereja sambil nongkrong di pinggir jalan.

Tak ada yang murtad
Kini, kami semua sudah bapak-bapak. Sebagian besar masih tinggal di Delman Elok. Ada yang menjadi guru mengaji sepulang kerja, kebanyakan menjadi “aktivis musala tingkat RT”, sedangkan siang harinya bekerja merawat makam di sektor pemakaman Kristen. Saya dan beberapa teman lain sudah pindah dan terpinggirkan jauh ke Depok atau bahkan ada yang ke kota lain, seperti Serang dan bahkan Lombok. Ada pula yang sudah meninggal.

Meski jalan hidup berbeda-beda, tidak ada yang menjadi Kristen atau murtad. Dua gereja masih berdiri dan musala kami, Baiturrahman, serta Masjid Istiqomah juga sama.

Pada 80-an dan 90-an, keadaan itu cukup Islami, tapi tiba-tiba kenapa sekarang jadi tidak? Apakah saya kurang Islam kalau tidak memakai gamis? Apakah saya kurang Islam jika pernah menonton pertunjukan penyaliban Yesus di GBKP, di mana salah satu pemainnya adalah seorang gadis Batak yang sangat manis? Dan apakah kami anak-anak Islam ini tidak cukup toleran terhadap umat Kristen.

Saya, yang hidup di sebuah era di mana hanya ada satu keluarga Kristen di lingkungan saya, tidak pernah berpikir untuk menganiaya orang Kristen. Dua gereja di Tanah Kusir tidak pernah dirusak secara sengaja karena perbedaan agama, -kalau dimasuki maling rasanya pernah, sama seperti musala dan masjid kami. Bahkan sebagian jamaah Musala Baiturrahman pernah ditegur untuk tidak mengaji menggunakan pengeras suara [speaker luar] karena mengganggu warga, dan yang menegur adalah orang yang mengeluarkan uang banyak untuk membangun musala itu: Ibu Noek Safoeroh Joedono, yang sangat sering berlebaran di Mekkah dan membiayai sekolah banyak anak di lingkungannya serta selalu hadir saat ada tetangganya yang wafat.

Buat saya, anak Jakarta dan Indonesia 80 dan 90-an, toleransi beragama merupakan realitas hidup, bukan sebuah jargon hebat yang mesti diperjuangkan. Chauvinisme sebagian orang Islam dan Kristen saat ini saja yang membuat dua agama ini seolah-olah terus berhadapan. Di realitas kehidupan saya sejak SD, SMP, lalu SMA, toleransi itu tidak pernah kering.

Dan saya yakin di banyak sudut lain di Indonesia, Anda semua akan menemukan situasi serupa dengan situasi kami di Delman Elok, Tanah Kusir. Dan barusan saya mampir ke Tanah Kusir, suasana Ramadan masih sangat terasa, meski dua gereja itu tetap berdiri. Suara tadarus masih terdengar dari musala, bapak-bapak masih kongkow seusai tarawih, dan anak-anak kecil masih menenteng sarung sambil bicara soal baju. Tidak ada yang melakukan sahur bareng di jalanan. Sahur, ya, di rumah. Ngapain pagi-pagi buta kelayapan di jalanan kayak anak liar?

Masih ada yang waras
Masih ada, mungkin bahkan banyak sudut yang waras di Indonesia ini. Namun, kini saya dikelilingi banyak orang yang senang saling menjelekkan agama: baik Islam maupun Kristen. Bahkan ada yang membebankan ulah umat Islam di Afganistan kepada kami umat Islam di Indonesia, yang sama sekali tidak pernah kenal siapa pun orang di Afganistan, apalagi Usama bin Ladin.

Ada pula yang merasa mesti membela Yahudi Israel karena mungkin merasa bahwa lawannya adalah orang Islam. Yang Islam juga tidak kurang dahsyat: berpawai di jalan seraya mengacukan keselamatan pengguna jalan lain sampai menutup jalan hanya untuk mengaji. Saya bingung apakah mereka tidak punya masjid dan ustad di lingkungannya hingga mesti mengaji di masjid yang letaknya berpuluh-puluh kilometer dari area rumahnya] dan membawa persoalan apa pun di dalam kehidupan, seperti Pemilihan Presiden, menjadi persoalan Islam dan umat.

Buat sebagian teman-teman yang Islam, karena Anda sekarang di partai Islam, tidak berarti Anda lebih Islam dari saya dan teman-teman kecil saya di Tanah Kusir. Bahkan saya yakin Anda juga belum yakin bukan siapa dari kita yang masuk surga duluan?

Jangan dramatis dan melakukan generalisasi seolah-olah tidak ada toleransilah. Di luar realitas Anda semua di jagat Facebook dan Twitter serta media online, kami masih hidup berdampingan. Tak ada hasrat saya untuk mengajak mereka yang Kristen jadi Islam atau membunuh mereka, dan mereka pun tak ingin membuat saya jadi Kristen, kok, apalagi membunuh saya. Kami semua lebih sibuk dengan urusan anak sakit, jalanan macet, si mbak balik atau tidak setelah mudik, mencari sekolah, atau pekerjaan di kantor.

Kebencian terhadap agama lain tidak membuat Anda jadi sangat Islami atau Kristiani. Percaya, deh….

Ahmad Lanang Sujanto, Managing Editor dan Wartawan Tabloid BOLA

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: