Kamera di Tanganmu dan di Tangan-Nya

foto gaya by david nyanziSAAT malam datang, asyikku memandang foto-foto jepretanmu dan jepretanNya yang kau postingkan di statusmu dan muncul jua di timeline-ku, ternyata Di tanganmu, kamera itu mengubah wajahku yang bopeng dan penuh bercak bekas jerawat menjadi bercahaya; aku jadi ingat tatapan Wajah Sang Wajah yang mengukir kita setara citra-Nya, tatapan yang tidak pernah menghakimi melainkan mengasihi Di […]

foto gaya by david nyanzi

SAAT malam datang, asyikku memandang foto-foto jepretanmu dan jepretanNya yang kau postingkan di statusmu dan muncul jua di timeline-ku, ternyata

Di tanganmu,
kamera itu mengubah wajahku yang bopeng dan penuh bercak bekas jerawat menjadi bercahaya; aku jadi ingat tatapan Wajah Sang Wajah yang mengukir kita setara citra-Nya, tatapan yang tidak pernah menghakimi melainkan mengasihi

Di tanganmu,
dengan kameramu, kau jepret aku dalam berbagai posisi dan aneka gaya, jarak jauh maupun dekat, sekujur tubuh maupun close-up, saat duduk maupun berdiri, saat melangkah maupun berhenti, saat menduduk maupun mendongak, saat-saat yang kau suka

Di tangan-Nya,
wajah bopeng penuh luka jiwa raga dibuat-Nya berlumuran sinar kasih, sebab kamera itu adalah cara pandang bening-Nya yang mampu mengubah lumpur dosa menjadi mutiara santa seketika [seperti terjadi dalam diri Maria dari Magdala dan itu bisa juga diterapkan dalam diri kita]

Di tangan-Nya,
kamera tak lagi sekadar perekam gambar diriku pun dirimu dan diri semua nan segala, tetapi perekam kehidupan seutuhnya, yaitu kehidupan yang diberkati dalam keseluruhannya, yang dirahmati dalam damai-sejahtera, yang diampuni dalam kedosaannya, yang ditebus dalam kerapuhannya, yang dikasihi dalam segalanya

Di tangan-Nya,
Dia tahu dengan Mata Kamera abadi-Nya di mana pun kita dan sedang apa pun jua,
seperti disenandungkan sang pemazmur: Dia menyelidiki dan mengenal kita, Dia tahu saat kita duduk atau berdiri, Dia tahu pikiran kita,
saat kita berjalan dan berbaring, segala jalan kita dimaklumi-Nya.

Sebelum lidah kita merangkai kata-kata Dia pun tahu maksud hati kita. Ke mana kaki melangkah di sana Dia berada: di langit di laut di permukaan di dasar bumi di mana pun! Dia tahu bukan dengan Kamera yang di tangan-Nya, tetapi karena Dialah yang membentuk dan mengukir kita!

Di tangan-Nya,
kamera itu menyelidiki, mengenal, menguji dan memotret bukan permukaan wajah dan tubuh kita melainkan kedalaman jiwa dan hati setiap kita: apa pun gaya dan pose kita

Entah di tanganmu entah Di tangan-Nya, kamera menggemakan harapan atas kehidupan yang dimahkotai cinta dengan jiwa Pengasih pun Penyayang

tak perlu ada kata pilu untuk Derita
tak usah ada gerutu untuk Luka
pun tak ada duka untuk Kematian
sebab Kematian itu awal Kehidupan
yang senyataNya

Girli Kebon Dalem

Kredit foto: Ilustrasi (Courtesy of David Nyanzi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply