Kacang Melupakan Kulit

Ayat bacaan: Ulangan 32:15=======================”Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, –bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun–dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatanny…

Ayat bacaan: Ulangan 32:15
=======================
“Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, –bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun–dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya.”

Ada sebuah peribahasa yang berbunyi bagai kacang lupa kulit. Peribahasa ini dipakai untuk menggambarkan sikap orang yang melupakan asal usul dan jasa dari orang yang pernah membesarkan mereka. Kita bisa menjumpai orang-orang yang bagai kacang lupa kulit di setiap jaman, sejak dahulu kala hingga kini, yang menunjukkan bahwa sikap ini merupakan salah satu sikap negatif manusia yang tidak ada habisnya. Tidak jarang kita mendengar orang-orang yang kemudian tega meninggalkan atau bahkan menelantarkan orang tuanya ketika mereka sudah sukses. Mereka lupa bahwa mereka dibesarkan dengan segenap daya upaya yang tidak jarang memerlukan pengorbanan luar biasa. Tapi ketika sudah sukses, orang tua malah dianggap merepotkan. Penuhnya panti jompo menjadi salah satu bukti mengenai hal ini. Terlepas dari ketidaksanggupan sang anak untuk mengurus masa-masa hidup orang tuanya menjelang akhir karena karir dan kesibukan mereka, kenyataannya ada banyak yang membiarkan orang tuanya di panti jompo karena malas bahkan merasa jijik untuk mengurus mereka. Kita sering mendengar artis-artis yang melupakan orang yang berjasa dalam kesukesannya, atau malah menolak mengakui orang tuanya sendiri. Kita bertemu dengan orang yang menjadi berubah sikap, menjadi angkuh, sombong atau tinggi hati setelah meraih kesuksesan dan kekayaan, semua itu tidaklah sulit untuk ditemukan sampai hari ini.

Jika kepada orang yang ada di dekat kita dan terlihat kasat mata saja kita sanggup seperti itu, apalagi kepada Tuhan yang tidak berada langsung disamping kita seperti halnya manusia. Sikap manusia melupakan Tuhan sudah terjadi sejak jaman dahulu. Bangsa Israel di jaman Musa menjadi contoh nyata mengenai kelakuan negatif manusia ini beribu-ribu tahun yang lalu. “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, –bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun–dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. (Ulangan 32:15). Kita bisa melihat bagaimana indahnya Tuhan telah memberkati mereka dalam ayat 10-14 sebelumnya. Tapi begitu mereka mendapat kelimpahan berkat, apa yang terjadi? Mereka menjadi gemuk kekenyangan dan melupakan Pribadi yang telah menyediakan itu semua. Betapa keterlaluan, “Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian, mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar.” (ay 16-17). Mereka melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka. “Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau.” (ay 18). Wajar jika Tuhan pun kemudian murka menghadapi “angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.” (ay 20) ini. Ayat-ayat selanjutnya menggambarkan kemarahan Tuhan yang begitu mengerikan. Bukan sekali dua kali bangsa ini melupakan Tuhannya. Kita melihat dalam banyak kesempatan mereka berulang kali menyakiti hati Tuhan yang telah melepaskan mereka dari perbudakan dan memberkati mereka secara dahsyat dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Dalam kitab Hakim Hakim kembali kita temukan sikap buruk mereka. “Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera.” (Hakim Hakim 3:7). Dan hukuman Tuhan pun kembali jatuh.

Apa yang terjadi pada bangsa Israel bisa kita pakai sebagai peringatan bagi kita saat ini. Seringkali kita mendekat kepada Tuhan ketika sedang mengalami penderitaan. Tapi setelah berada dalam keadaan baik dan berkecukupan, secepat itu pula Tuhan dilupakan. Padahal bukankah semua itu kita dapatkan sebagai berkat dari Tuhan? Bukankah tanpa Tuhan kita bukan apa-apa? Jika demikian mengapa kita sanggup atau tega melupakan Dia yang telah mengasihi kita dengan begitu besar ketika semua sepertinya baik-baik saja? Mazmur Daud mengingatkan kita untuk selalu mengingat kebaikan Tuhan dalam hidup kita. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:1-2). Seperti kasih seorang bapa kepada anaknya, seperti itu pula kasih Tuhan yang tidak berkesudahan selalu menaungi kita. Firman Tuhan berkata: “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia….kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.” (ay 13, 17-18). Ketika hari ini anda diberkati secara baik dalam kehidupan, keluarga dan pekerjaan, jangan pernah lupakan Tuhan. Tetaplah ingat kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Puji dan sembah Dia, penuhi diri anda dengan ucapan syukur. Ingatlah selalu bahwa apa yang kita raih bukanlah semata-mata karena kerja keras atau hasil jerih payah kita sendiri, tetapi melalui berkat Tuhan yang turun melalui usaha kita. Tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Jangan pernah lupakan kebaikanNya, jangan menjadi kacang yang lupa kulit, mari kita terus memuji dan menyembah Dia dengan sepenuh hati.

“Bless (affectionally, gratefully praise) the Lord, O my soul; and all that is (deepest) within me, bless His holy name!” (Mazmur 103:1)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply