Jumat 8 Agustus 2014: Soal Menyangkal Diri, Mt 16:24-26

memanggul-salib

SETELAH Yesus menjelaskan bahwa jalan keselamatan itu melalui penderitaan dan salib-Nya, maka ia mengatakan kepada para murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memanggul salibnya dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperoleh nyawanya.”

Kita mendapat kesan pertama sepertinya Tuhan Yesus itu mau menakut-nakuti para calon pengikutnya atau menghendaki supaya para muridNya menderita. Bukan. Yesus mengatakan ini supaya para murid-Nya hidup baik di dunia ini dan selamat di surga, asal orang mau mengikuti Dia dan menuruti SabdaNya. Syaratnya: menyangkal diri, memanggul salibnya dan mengikuti Dia.

Menyangkal diri itu sebenarnya lebih mengajak orang tidak terlalu memperhi-tungkan diri sendiri, tidak menonjolkan diri, tidak minta disanjung, dihormati atau dipuji, sebaliknya diharapkan mau merendahkan diri, tidak selalu minta diperhitungkan. Orang yang tidak berani menyangkal diri justru hidupnya tidak akan bahagia, karena orang ini akan mudah tersinggung, mudah sakit hati dan putus asa, karena yang diharapkan tidak tercapai. Orang yang tidak berani menyangkal diri biasanya menjadi malas, segan berkorban dan berjerih payah. Dlam penampilan orang menjadi sombong dan keras hati.

Memanggul salib itu bukan berarti bahwa orang harus bekerja berat. Memanggul salib itu sebenarnya orang diajak konsisten, hidup menurut iman-Nya taat kepada kehendak Allah. Yesus dulu memanggul salib karena taat kepada kehendak Bapa. Maka orang yang tidak berani memanggul salib itu biasanya hidup rohaninya tidak mendalam, hidup beragamanya secara basa-basi. Orang tidak taat kepada kehendak Bapa, tetapi lebih hidup menurut pikirannya sendiri.

Sebaliknya orang berani memanggul salib itu adalah orang taat-setia kepada imannya dan hidup secara konsisten, meskipun harus menanggung penderitaan dan harus berkorban. Biasanya orang berani memanggul salib ini karena pengorbanannya banyak, dalam keluarga akan sangat harmonis karena bisa saling mengalah dan didalam masyarakat dicintai banyak orang. Maka orang berani memanggul salib tidak kehilangan nyawanya, tetapi hidup.

Mengikuti Yesus ini sebagai bentuk penyangkalan diri yang paling berat, yaitu menyingkirkan rencana pribadi kita, karena semata-mata kita mau mengikuti Yesus. Pola hidup Yesus akhirnya menjadi pola hidup kita, pribadi Yesus menjadi model pribadi kita. Maka jelas sekali bahwa syarat yang diberikan oleh Yesus untuk menjadi pengikutnya juga merupakan resep untuk hidup bahagia.

Kredit foto: Memanggul salib (Ilustrasi/Pax et Bonum)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: