Jumat, 5 September 2014: Bukan Soal Tambal Sulam, Luk 5:33-39

wineskins“Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Sebab jika demikian baju yang baru itu akan koyak. Apalagi kain penambal yang dikoyakkan dari baju baru itu tidak akan cocok pada baju yang tua.” ORANG Farisi dan ahli Taurat mempersoalkan tentang puasa. Karena pada waktu itu puasa masih […]

wineskins

“Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Sebab jika demikian baju yang baru itu akan koyak. Apalagi kain penambal yang dikoyakkan dari baju baru itu tidak akan cocok pada baju yang tua.

ORANG Farisi dan ahli Taurat mempersoalkan tentang puasa. Karena pada waktu itu puasa masih merupakan warisan budaya agama yang dijunjung tinggi. Seperti pada zaman sekarang pun kalau ada orang yang tidak berpuasa ditengah Umat yang menjalankan puasa dianggap tidak menghormati agama lain. Maka Yesus dalam menanggapi masalah puasa ini secara tidak langsung mau menyatakan ada situasi baru, yaitu dengan hadirnya Kerajaan Allah.

Hadirnya Kerajaan Allah digambarkan dengan hadirnya mempelai. Mempelai itu ingin kerabat-kerabatnya bergembira. Suasana keakraban dan suasana cintakasih inilah yang mau diwartakan oleh Yesus. Suasana ini tidak sesuai kalau didukung oleh hukum-hukum atau aturan, tetapi didukung dengan kesadaran dan relasi yang hidup antara manusia dengan Tuhan.

Cinta kasih kepada Tuhan tidak hanya dipenuhi puasa atau agama adat, tetapi lebih-lebih mau mengimani-Nya dan melaksanakan FirmanNya. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus menuntut adanya suasana baru terlebih persaudaraan sejati yang didasari iman dan cintakasih, karena suasana baru tidak mungkin tercapai hanya dengan puasa, matiraga atau doa, tetapi lebih pelayanan bagi, saling mengampuni dan semangat berkorban.

Maka Tuhan mengatakan bahwa Ajaran Cintakasih tidak bisa digabung saja dengan ajaran agama Perjanjian Lama. Mengapa? Karena ajaran lama lebih merupakan penghayatan pribadi, sedang ajaran baru lebih menekankan penghayatan bersama.

Banyak orang zaman sekarang pun masih suka mengambil ajaran dari Perjanjian lama yang sangat bertentangan dengan ajaran Yesus. Misalnya ada orang mengatakan bahwa: ”Orang yang diberkati oleh Tuhan yaitu orang yang sukses hidup-nya, yang tak pernah menderita sakit, dan punya kekayaan yang melimpah. Sebaliknya orang miskin, orang yang sakit-sakitan dan tidak sukses itu tanda bahwa orang ini orang berdosa dan tidak diberkati oleh Tuhan.”

Ini sungguh ajaran lama. Karena dengan hadirnya Yesus penderitaan, rasa sakit itu termasuk jalan keselamatan, jalan menguduskan diri dan yang diterima dalam iman itu akan mendatangkan rahmat dan berkat. Maka ajaran agama tidak boleh dicampur aduk atau tambal sulam saja. Ajaran Yesus yang tetap harus kita pegang teguh.

Kredit foto: Anthony Delaney

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply