Jumat 24 Oktober 2014: Tanda-tanda Zaman, Luk 12:54-59

tanda zaman by sign of times

KALAU dulu Pak Jokowi sering blusukan ke pasar, ke pinggiran sungai, ke daerah kumuh, ke terminal, ke tempat penjualan ikan, ke pabrik-pabrik dan ke malmal atau ke pengusaha kecil, kira-kira mau apa? Ia bukan mau dolan-dolan atau tunjuk muka sebagai pemimpin, tetapi ia mau menyelidiki keadaan nyata di daerah yang disebut kota Jakarta.

Ia ingin melihat, mendengar keluhan masyara-kat kecil, ia ingin merasakan kehidupan penduduk secara riil, ia menyelami nasib kaum buruh dari dekat, bukan hanya percaya pada laporan-laporan, yang kerap kali tidak nyata, sehingga nantinya Pak Jokowi bisa mengambil tindakan dan menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat sasaran.

Inilah yang disebut menyelidiki tanda-tanda zaman. Dan ini sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus.

Seperti dikatakan dalam Injil: “Kalian tahu menilai gelagat bumi, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

Menilai gelagat bumi itu lebih diartikan menilai keadaan sehubungan dengan dengan cuaca yang dihadapi setiap hari, sedang menilai zaman itu sama dengan menyelidiki tanda-tanda zaman.

Orang diajak melihat bahwa perubahan situasi kehidupan manusia di masyarakat ini, sebagai gerakan ilahi yang menuntun manusia untuk memahami karya Allah. Atau lebih tepat: Apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi kita, agar kita laksanakan. Hampir setiap hari kita dihadapkan dengan situasi kehidupan masyarakat kita dan juga Gereja kita.

Kita diajak bertanya: Apakah yang menjadi kehendak Tuhan bagi kita dalam situasi masyarakat seperti sekarang ini? Mengapa banyak kekerasan pada saat sekarang ini? Mengapa dimana-mana merajalela sengketa dan permusuhan?

Mengapa ada banyak tindak-kejahatan diluar kemanusiaan? Mengapa ada banyak tindakan melawan keadilan, banyak kejahatan yang menghancurkan masyarakat?

Situasi demikian ini petunjuk dari Tuhan bahwa masyarakat kita sudah kehilangan cintakasih, kehilangan persaudaraan dan kehilangan iman kepercayaan kepada Tuhan. Tuhan sudah dianggap tidak ada. Tidak ada patokan moral lagi. Ini semua signal bagi kita agar kita tak boleh henti mewartakan nilai-nilai kehidupan, nilai moral dan iman, dengan kesaksian hidup kita. Juga kalau melihat situasi Gereja yang mulai kosong, yang mulai kendor semangat.

Banyak anak muda tidak hadir dalam perayaan Ekaristi dan kurang terlibat dalam kehidupan menggereja. Mengapa banyak perceraian dalam keluarga Katolik? Mengapa banyak yang pindah agama?

Mengapa pendidikan Katolik kurang diminati? Ini semua tantangan bagi kita: kita tak boleh ikut arus perubahan ini, tetapi kita diajak mencari nilai-nilai baik yang permanen dan memahami rencana Tuhan.

Tuhan hadir dinatara kita dan menunjukkan arah.

Kredit foto: Ilustrasi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: