Jujur = Rugi? (1)

Ayat bacaan: Mazmur 64:11==================”Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.”Ada seorang akademisi yang juga merupakan kepala dari sebuah perusahaan negara yang ditangkap karena te…

Ayat bacaan: Mazmur 64:11
==================
“Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.”

Ada seorang akademisi yang juga merupakan kepala dari sebuah perusahaan negara yang ditangkap karena terlibat korupsi. Banyak orang yang kaget karena selama ini ia dikenal sebagai orang dengan integritas tinggi. Dalam pengakuannya, godaan untuk suap sebenarnya sudah berlangsung selama sekian bulan, tapi ia terus menolak. Sampai pada akhirnya ia tidak kuasa untuk menolak dengan alasan untuk diberikan kepada rekannya yang membutuhkan. Ia mengatakan bahwa tidak se-sen pun uang hasil suap itu ia nikmati dan masuk ke keluarganya, tapi apapun alasannya, korupsi tetaplah korupsi. Penerimaan suap untuk agenda-agenda terselubung tidak akan bisa mendapat pembenaran biar bagaimanapun. Seandainya ia tetap mempertahankan integritas seperti beberapa bulan sebelumnya, ia tentu tidak harus mengalami nasib pahit seperti itu. Meski bukan untuk memperkaya diri sendiri, apa yang ia lakukan tetap salah dan hukuman tetap harus ia terima sebagai imbalannya.

Seperti itulah gambaran buruk di dunia kerja saat ini. Tidakkah ironis, saat semua orang mengajarkan untuk hidup jujur, tapi pada kenyataannya dunia justru menolak kejujuran dan orang-orang yang selalu berniat untuk melakukan segala sesuatu dengan bersih dan jujur? Bukan sekali-dua kali saya mendengar curhatan orang yang tertekan di kantornya akibat tidak mau ikut-ikutan korupsi bersama teman dan pimpinan. Ada seorang teman yang mengaku menghadapi dilema akan hal ini. Ia dituntut untuk mau ikut bermain supaya aman, tetapi hati nuraninya menolak melakukan itu. Karena ia terus menolak, ia pun dijauhi rekan-rekannya bahkan diancam akan dikeluarkan apabila terus mempertahankan sikapnya. Ada teman lain yang bekerja di sebuah instansi pemerintah, semua program yang ia ajukan ditolak selama bertahun-tahun bukan karena programnya jelek, tapi karena programnya justru mengacu kepada tugas utama dari instansi tersebut tanpa ada celah untuk menyelewengkan sebagian dari anggaran dana. Agar apa yang diinginkan bisa terjadi dan mulus, orang akan mencoba menyuap dengan berbagai macam cara. Mulai dari yang halus seperti memberi bingkisan, menawarkan sesuatu sampai yang terang-terangan seperti transfer uang atau langsung diberikan dalam bentuk fisik.

Dahulu saat ayah saya masih aktif menjadi dosen di sebuah universitas negeri, tidak jarang ada mahasiswa yang datang ke rumah membawa bingkisan sebelum ujian. Tapi ia dengan tegas menolaknya. Bahkan pada suatu kali saat ia tidak di rumah dan paket terlanjur diterima, ia menyuruh supir untuk mengantar kembali paket itu ke rumah si pemberi. Bertumbuh dalam lingkungan keluarga seperti itu membuat saya tidak gampang terpengaruh oleh cara-cara curang dalam mendapatkan sesuatu. Uang pelicin, uang jerih lelah, uang rokok, apapun namanya, selama disertai dengan motivasi yang salah merupakan bentuk-bentuk kecurangan yang tidak akan pernah mendapat pembenaran, terutama di mata Tuhan.

Alkitab begitu banyak mengajarkan pentingnya hidup dengan berlaku jujur. Imbalan yang disediakan Tuhan bagi orang jujur pun bukan main besarnya. Misalnya ayat berikut: “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16). Lihatlah betapa besar nilai kejujuran di mata Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami kerugian, dianggap bodoh atau bahkan malah mendapat masalah karena memutuskan untuk berlaku jujur, tetapi itu bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang abadi semua itu akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Dalam Mazmur dikatakan: “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.” (Mazmur 64:11). Pada saat ini mungkin kita rugi dan susah akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang benar.

Saat menghadapi godaan atau paksaan untuk curang, anggaplah itu sebuah ujian akan integritas diri dan teruslah pegang sikap jujur tanpa kompromi. Bila kita dipinggirkan akibat berlaku jujur dan menolak untuk ikut-ikutan berbuat curang seperti halnya menghadapi ujian bisa jadi berat. Tetapi lulus tidaknya kita dalam ujian akan sangat tergantung dari keseriusan dan kesungguhan kita dalam menghadapinya, dan juga tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Mempertahankan kejujuran dalam hidup sama seperti itu. Akan ada saat-saat dimana anda merasa diperlakukan tidak adil, sudah jujur malah disalahkan, dipinggirkan, dipersulit kenaikan pangkatnya atau bahkan diusahakan supaya keluar. Meski berat, terimalah itu sebagai sebuah ujian. Jangan tergoda, jangan menyerah dan caranya adalah dengan memfokuskan pandangan jauh ke depan bukan yang hanya sementara di dunia yang fana ini.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply