Jiwa Kehausan

Ayat bacaan: Ratapan 3:24
======================
“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”

jiwa kehausan

Tumpukan pekerjaan terus datang memenuhi hidup. Itu dialami oleh begitu banyak orang. Gelagapan, kelabakan dan jungkir balik, semua harus diselesaikan tepat pada waktunya dengan sebaik-baiknya. Rutinitas hidup menyita waktu, terkadang membuat kita seperti robot yang sudah terprogram dari pagi sampai malam, melakukan tugas demi tugas yang sama setiap hari. Tarik nafas sesaat dan tidur, keesokan pagi semua akan berlangsung sama seperti kemarin. Semua itu bisa membuat kita kekurangan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman-teman terdekat, dan kita pun kehilangan saat-saat khusus bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya. Saat teduh dikorbankan, sudah terlalu lelah dan tidak lagi punya waktu untuk berlama-lama. Dan tanpa kita sadari, jiwa kita mengalami kekeringan.

Kekeringan dalam jiwa seharusnya kita waspadai. Ada banyak akibat yang bisa timbul, mulai dari kekurangan inspirasi atau masukan-masukan, mulai cepat merasa letih, mudah menyerah, hingga hal-hal yang lebih memperihatinkan seperti mulai tidak lagi peka terhadap dosa, sulit mendengar suara Tuhan, sulit membedakan mana yang benar dan salah, dan tentu saja semua akan mengarah kepada sebuah ketidakmampuan kita untuk memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu keselamatan.

Pernahkah anda sadari bahwa ada saat dimana jiwa kita merintih dan meronta dalam kekeringan? Hari ini saya merasakannya. Di tengah begitu banyak kesibukan, saya mulai merasa jiwa saya haus dan lapar. Jiwa membutuhkan tenaga agar kita tetap kuat dalam berjuang. Hidup ini adalah sebuah perlombaan, demikian kata Firman Tuhan dalam Ibrani 12:1, dan semangat kita akan sangat tergantung dari kondisi jiwa kita. Dan ketika jiwa kita mengalami kekeringan, jiwa itu pun akan gelisah mencari Tuhan. Hari ini saya pun bertemu dengan ayat yang menyatakan hal itu. “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” (Ratapan 3:24).

Jiwa kita tahu betul betapa baiknya Tuhan. Ayat selanjutnya berbunyi: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.” (ay 25). Dalam Mazmur pun kita menemukan banyak ayat yang bercerita soal ini. Lihatlah salah satunya: “TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.” (Mazmur 116:6). Oleh sebab itulah jiwa kita seharusnya tenang, karena ada Tuhan yang selalu siap menyelamatkan kita. Pemazmur menyerukan hal itu kepada jiwanya. “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” (ay 7). Di dalam naungan sayap Tuhan kita berlindung, semua itu dimungkinkan karena besarnya kasih setia Tuhan. (36:8). Tuhan tahu beratnya beban hidup kita. Dan lihatlah bagaimana empati Kristus sendiri yang tahu betul bagaimana sulitnya hidup manusia. Dia menawarkan kelegaan kepada siapapun yang datang kepadaNya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Yesus sendiri yang menjadi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup kita, terhadap kebutuhan-kebutuhan yang esensial dalam hidup kita. Bukankah Dia sudah menjawab kebutuhan terbesar kita akan keselamatan? Dan itu Dia lakukan dengan mengorbankan DiriNya sendiri. Kapanpun kita mencariNya, kita akan selalu menemukanNya. “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9). Kapanpun jiwa kita haus, Yesus siap memenuhi jiwa kita kembali. Yesus selalu siap menyambut kita dengan tangan terbuka. Memberi kelegaan, menjamin keselamatan.

Anda termasuk orang yang terus tertimbun pekerjaan seperti saya? Jika ya, mari malam ini kita datang kepadaNya dalam segala kerinduan kita. Datanglah dan masuklah dalam hadiratNya, bersekutu denganNya, dan itu akan membuat jiwa kita kembali tenang dan kuat untuk menghadapi beban-beban pekerjaan keesokan harinya. Tuhan memberi kita kekuatan dan hikmat, dan itu sangat dibutuhkan jiwa kita agar mampu menopang perjuangan kita esok hari.

Quench the soul’s thirst with the Fountain of Life

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan alkitab dari Wahyu 16:1-10
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: