Ayat bacaan: Ratapan 3:24
======================
“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”

Kehausan itu tidak enak rasanya, apalagi kalau untuk waktu yang panjang. Pada suatu kali saat ke luar kota mobil saya mengalami pecah ban. Jalan sudah sunyi dan kebetulan sedang ada di lokasi jauh dari penduduk dan bukan pula jalan lintas. Belum ada telepon genggam pada saat itu sehingga saya tidak bisa mengontak siapapun untuk menolong. Mau tidak mau saya harus mengganti ban sendiri. Masalah bertambah karena selain tidak punya senter di mobil, ternyata dongkrak saya berkarat, susah sekali diputar untuk mengangkat mobil. Butuh tenaga luar biasa besar, sementara sebenarnya saya sudah lumayan lama menahan haus saat masih di jalan. Setelah mati-matian berusaha memutar dongkrak, saya akhirnya menyerah. Saya terpaksa menginap disana sampai ada orang yang lewat dan mau menolong. Ada beberapa mobil yang lewat, tapi tidak ada yang berhenti. Setelah menjelang siang hari barulah ada yang berkenan meminjamkan dongkraknya. Setelah berjalan, baru sejam kemudian saya menemukan tempat dimana saya bisa membeli air minum. Itu kehausan yang paling parah yang pernah saya alami. Dan saya masih ingat betul bagaimana nikmatnya saat air akhirnya kembali mengalir di tenggorokan saya.

Tubuh jasmani terutama leher bisa kehausan kalau tidak minum untuk waktu yang lama. Bagaimana dengan jiwa? Saat tumpukan pekerjaan terus datang memenuhi hidup berikut beberapa masalah yang datang serentak kita bisa menjadi gelagapan, kelabakan dan jungkir balik. Pusing, lelah itu pasti, kalau tidak sampai panik. Semua harus diselesaikan tepat pada waktunya dengan sebaik-baiknya, Rutinitas hidup menyita waktu, terkadang membuat kita seperti robot yang sudah terprogram dari pagi sampai malam, melakukan tugas demi tugas yang sama setiap hari. Tarik nafas sesaat dan tidur, keesokan pagi semua akan berlangsung sama seperti kemarin. Belum lagi masalah-masalah yang tidak kunjung beres. Semua itu bisa membuat kita kekurangan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman-teman terdekat, dan kita pun kehilangan saat-saat khusus bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya. Sebagian orang kemudian mengorbankan saat teduh, sudah terlalu lelah, atau kalaupun masih disempatkan tidak lagi punya waktu untuk berlama-lama. Dan tanpa kita sadari, jiwa kita mengalami kekeringan atau kehausan.

Kekeringan dalam jiwa seharusnya kita waspadai. Ada banyak akibat yang bisa timbul, mulai dari cepat merasa letih, mudah menyerah, hingga hal-hal yang lebih memperihatinkan seperti mulai tidak lagi peka terhadap dosa, sulit mendengar suara Tuhan, sulit membedakan mana yang benar dan salah, dan tentu saja semua akan mengarah kepada sebuah ketidakmampuan kita untuk memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu keselamatan.

Pernahkah anda sadari bahwa ada saat dimana jiwa kita merintih dan meronta dalam kekeringan? Di tengah begitu banyak kesibukan, kita bisa mulai merasa jiwa kering kehausan. Jiwa membutuhkan nutrisi agar bisa tetap kuat dalam berjuang. Kalau diibaratkan bahwa hidup ini adalah sebuah perlombaan, demikian kata Firman Tuhan dalam Ibrani 12:1, semangat kita akan sangat tergantung dari kondisi jiwa kita. Dan ketika jiwa kita mengalami kekeringan, jiwa itu pun akan gelisah mencari Tuhan. Dan secara tegas sebuah ayat dalam Ratapan berbunyi: “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” (Ratapan 3:24).

Jiwa kita tahu betul betapa baiknya Tuhan. Ayat selanjutnya berbunyi: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.” (ay 25). Dalam Mazmur pun kita menemukan banyak ayat yang bercerita soal ini. Lihatlah salah satunya: “TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.” (Mazmur 116:6). Oleh sebab itulah jiwa kita seharusnya tenang, karena ada Tuhan yang selalu siap menyelamatkan kita. Pemazmur menyerukan hal itu kepada jiwanya. “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” (ay 7).

Di dalam naungan sayap Tuhan kita berlindung, semua itu dimungkinkan karena besarnya kasih setia Tuhan. (36:8). Tuhan tahu beratnya beban hidup kita. Dan lihatlah bagaimana empati Kristus sendiri yang tahu betul bagaimana sulitnya hidup manusia. Dia menawarkan kelegaan kepada siapapun yang datang kepadaNya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Yesus sendiri yang menjadi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup kita, terhadap kebutuhan-kebutuhan yang esensial dalam hidup kita. Bukankah Dia sudah menjawab kebutuhan terbesar kita akan keselamatan? Dan itu Dia lakukan dengan mengorbankan DiriNya sendiri. Kapanpun kita mencariNya, kita akan selalu menemukanNya. “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9). Kapanpun jiwa kita haus, Yesus siap memenuhi jiwa kita kembali. Yesus selalu siap menyambut kita dengan tangan terbuka. Memberi kelegaan, menjamin keselamatan.

Anda saat ini sedang ditimbun banyak tugas atau masalah? Jika ya, mari malam ini kita datang kepadaNya dalam segala kerinduan kita. Datanglah dan masuklah dalam hadiratNya, bersekutu denganNya, dan itu akan membuat jiwa kita kembali tenang dan kuat untuk menghadapi beban-beban pekerjaan keesokan harinya. Tuhan memberi kita kekuatan dan hikmat, dan itu sangat dibutuhkan jiwa kita agar mampu menopang perjuangan kita esok hari.

Quench your soul’s thirst with the Fountain of Life

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.