Jeruk Diantara Anggur dan Semangka

Ayat bacaan: 2 Korintus 4:17
======================
“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”

besar kecilnya masalah, relatif

Besar atau kecilnya sebuah benda itu relatif sifatnya. Mungkin bagi sebagian orang atau pada waktu-waktu tertentu sesuatu itu terasa besar, namun pada kesempatan lain atau bagi sebagian orang lainnya dianggap kecil. Ambil contoh sebuah jeruk. Dibandingkan buah anggur, jeruk tentu besar. Namun jika kita bandingkan dengan semangka, masihkah jeruk terlihat besar? Jeruk akan terlihat kecil jika kita sandingkan dengan buah semangka. Seperti itulah ukuran sebuah benda. Mungkin kita bisa mengukurnya dalam satuan ukuran tertentu, tapi untuk memutuskan besar atau tidaknya benda itu tentu akan sangat relatif. Nilai mata uang pun demikian. Dua puluh tahun yang lalu lima ribu rupiah sudah sangat besar, tapi hari ini kita hanya bisa makan pas-pasan di warung dengan jumlah itu. Di sisi lain, bagi orang yang susah lima ribu rupiah mungkin sudah terlihat besar, tapi bagi sebagian orang lainnya yang sudah makmur, lima ribu tidak lagi berarti. Ketika saya menghadiri sebuah acara, ada uang lima ribu tergeletak di lantai. Dua orang teman saya hanya berdiri dan melihat uang itu sambil tertawa-tawa. “Uangnya cuma lima ribu, dosanya sama”, kata yang satu sambil tertawa. Tidak lama kemudian, lewatlah seorang tukang gulung kabel, tanpa basa-basi dan malu-malu ia menunduk dan mengambil uang itu, lalu memasukkannya ke kantong. Seperti itulah gambaran relativitas nilai sebuah benda. Bagi teman saya uang lima ribu itu kecil, tapi bagi si penggulung kabel, uang itu sudah cukup besar.

Seperti apa anda memandang permasalahan hidup hari ini? Besar atau kecil? Saya kira kebanyakan orang akan sepakat menilai permasalahan hidup ini besar. Hidup ini tidak ringan. Pergumulan-pergumulan dan tekanan-tekanan hidup akan selalu siap mendorong kita jatuh jauh ke bawah, begitu jauh hingga terkadang kita sulit untuk kembali bangkit dalam waktu yang singkat. Tidak jarang orang yang menyerah setelah diterpa badai, tapi ada pula yang tetap tegar meski badai telah mencoba memporak-porandakannya dalam waktu yang cukup lama. Besar kecilnya masalah pun ternyata relatif. Ada teman yang sudah pesimis ketika sedikit masalah menerpanya. Masalah itu besar jika dibandingkan ketika keadaannya sedang tanpa masalah, namun kecil jika dibandingkan permasalahan yang jauh lebih berat yang mungkin sedang menimpa orang lain. Karena besar kecilnya masalah itu relatif, maka saya sering berpikir bukan kadar masalah yang membuat orang jatuh menyerah dalam keputus asaan, namun pola pikir atau cara pandanglah yang sangat menentukan. Fokus kepada masalah, maka masalah itu akan terus bertumbuh semakin besar. Namun jika fokus diarahkan dalam iman yang percaya, niscaya kita akan masih bisa tersenyum dan bersukacita seberat-beratnya masalah menimpa kita.

Kurang apa masalah yang dihadapi Paulus? Jika kita yang mengalami, mungkin setengah saja dari masalahnya sudah membuat kita mundur teratur. Lihatlah bahaya, ancaman atau penyiksaan yang ia alami dari sesama manusia dan alam. (2 Korintus 11:23-28). Cukup? Belum. Ia juga mendapatkan masalah dari dalam tubuhnya sendiri. (12:7-8). Dalam kesempatan lain Paulus mengatakan “Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” (1 Korintus 4:11-13). Paulus mengalami semuanya, tapi dia tetap sabar. Dia tetap bisa bertahan dan menjalankan tugas pelayanannya seperti yang telah ditetapkan Tuhan dengan keramahan, kesabaran dan ketabahan. Bagaimana bisa demikian? Seperti yang pernah saya tulis beberapa hari yang lalu, Paulus bisa bersikap seperti itu karena ia mengarahkan pandangannya bukan kepada masalah yang menimpanya, tapi kepada apa yang ada di depannya. Visinya adalah memandang kepada apa yang dijanjikan Tuhan lewat Kristus. “..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dengan pandangan seperti itulah Paulus bisa tetap tegar meski tubuh dagingnya harus ia pertaruhkan. Ia tidak terfokus kepada penderitaan daging yang fana, tapi ia memusatkan perhatiannya kepada keselamatan roh yang kekal. Jika dipandang dari sudut masalah, jelas masalah yang dialami Paulus amat sangat besar. Namun jika dipandang dari apa yang akan ia terima di depan, semua itu tidak ada apa-apanya. Dan itulah sebabnya mengapa Paulus mampu berkata dengan luar biasa seperti ini: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4:17).

Secara manusia, stamina atau daya tahan Paulus dan teman-teman sepelayanan pasti merosot. Tapi disaat seperti itu mereka menyadari bahwa secara batin mereka terus diperbaharui dari hari ke hari. (ay 16). Penderitaan itu terasa ringan karena mereka membandingkannya dengan apa yang dijanjikan Tuhan di depan. Dibanding masa-masa ketika Paulus belum bertobat, penderitaan yang ia alami sekarang tentu besar. Namun itu tidaklah sepadan jika dibandingkan sebuah mahkota kehidupan yang akan ia terima. Mahkota kehidupan, janji keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah bisa ia lihat melalui imannya, meski secara kasat mata hal itu tidak bisa dilihat. Seperti itulah yang dikatakan Paulus selanjutnya. “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (ay 18).

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Sesuatu yang belum terlihat dengan kasat mata itu ternyata bisa terlihat jelas dengan memakai kacamata iman. Itulah yang dilakukan Paulus. Ia tidak pernah putus pengharapan, karena sesungguhnya dengan imannya ia sudah melihat semuanya dengan pasti. “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” (Roma 8:24-25). Lihatlah visi Paulus tersebut, yang memungkinkan dirinya tetap kuat menanggung segala masalah yang dari ukuran manusia rasanya sudah terlalu berat. Seperti apa kita mengukur masalah yang menimpa kita hari ini? Jika dibandingkan dengan orang yang sedang hidup nyaman, atau hidup kita di masa lalu yang tenang, masalah akan terasa berat. Tapi itu semua bisa menjadi tidak berarti ketika kita melihat keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Sebuah hidup yang kekal, yang bebas dari masalah, kesedihan, penderitaan dan dukacita telah dipersiapkan di depan. Apakah kita mampu bertahan untuk mencapainya, atau kita menyerah saat ini dan malah luput dari apa yang Dia janjikan di depan, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi segala permasalahan yang saat ini menimpa kita. Paulus pun mengingatkan kita untuk tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar setiap saat, setiap waktu. (Filipi 2:12). Seperti relatifnya ukuran buah jeruk di antara buah lainnya, seperti itu pula besar kecilnya masalah yang kita hadapi. Seberat apapun itu, semuanya belumlah sebanding dengan besarnya janji yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pakailah kacamata iman dan fokuslah kepada janji keselamatan yang telah Tuhan sediakan di depan

Follow RHO Twitter: https://twitter.com/DailyRHO

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: