Sunday, 21 December 2014

Jemaat Efesus

Ayat bacaan: Wahyu 2:2-4
========================
“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”

jemaat EfesusHari ini saya mengajak teman-teman untuk melihat lebih jauh jemaat di Efesus. Kota Efesus ini terletak di Asia Kecil (kawasan di Asia Barat Daya yang letaknya saat ini kurang lebih di Turki bagian Asia). Kota Efesus adalah kota tua yang punya peradaban tinggi selama berabad-abad dan merupakan kota perdagangan yang kaya. Di kota ini pula, seperti halnya daerah Asia Kecil lainnya penduduknya menyembah berhala. Mereka menyembah patung dewi Artemis yang dipercaya jatuh dari langit (Kisah Para Rasul 19:35). Disana pun berkembang kekuatan sihir, sesuai pengakuan beberapa tukang sihir yang bertobat (ay 19). Tidaklah mudah memang untuk mewartakan Injil di Efesus. Paulus menggambarkannya sebagai pelayanan yang banyak mencucurkan air mata, banyak percobaan dan usaha pembunuhan (20:19). Tapi berkat tuntunan Roh Kudus, Alkitab mencatat pelayanan Paulus membuahkan hasil luar biasa. Selama 2 tahun Paulus mengajar dengan berani (19:8-10) mulai dari rumah ibadat hingga ruang kuliah Tiranus (19:8-10). Ia juga melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (19:11). Semua ini membuat firman Tuhan terdengar oleh semua orang (ay 10) dan makin berkuasa (ay 20).

Jemaat di Efesus adalah jemaat yang setia dan penuh semangat penginjilan. Mereka tidak terpengaruh pada lingkungan disekeliling mereka yang menyembah berhala. Mereka dikatakan selalu menjaga integritas mereka, mereka punya karunia mampu membedakan rasul palsu dari yang asli, mereka rela menderita dan tidak kenal lelah. Semua ini diketahui benar oleh Tuhan seperti firmanNya dalam Wahyu 2:2. Luar biasa bukan? Tapi Tuhan kemudian menegur mereka, seperti yang bisa kita baca dalam ayat 4. Mengapa? Karena mereka meninggalkan kasih mula-mula. Artinya mereka lebih memprioritaskan “pekerjaan Tuhan” daripada kerinduan untuk mengenal lebih jauh “pribadi Tuhan”.

Dari kisah ini kita belajar bahwa memang penting untuk melakukan pekerjaan Tuhan, namun lebih penting lagi bagi kita untuk melayani Tuhan, menjaga keintiman dengan Tuhan secara konsisten. Kita harus tetap mengarahkan fokus pada kasih yang semula agar fokus tidak berpindah kepada “sekedar menjalankan tugas dan kewajiban” dan akibatnya kehilangan kasih yang semula, kasih yang meluap-luap ketika kita pertama kali menerima Kristus. Menjaga keintiman dengan Tuhan akan membuat kasih mula-mula tetap ada dalam diri kita. Tekun berdoa, tidak meninggalkan saat teduh, meluangkan waktu-waktu khusus untuk berdiam di hadiratNya, memanjatkan pujian/penyembahan dengan penuh rasa syukur dan suka cita, semua itu akan membuat roh kita tetap menyala dalam kasih mula-mula. Agar pelayanan kita berkenan bagi Tuhan, marilah kita tetap menjaga bahwa apapun yang kita kerjakan adalah semata-mata demi kemuliaanNya, karena kita begitu mengasihiNya, bukan karena sekedar sebuah tuntutan semata.

Tetapkan prioritas yang benar agar semua yang kita lakukan berkenan dihadapan Tuhan

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Jemaat Efesus"

Response on "Jemaat Efesus"