Jelang Pertemuan Keluarga Mondial di Philadelpia Sept 2015: Tantangan Keluarga dalam Evangelisasi (3)

tie the knot nikah perkawinan by Unexplained Mystery

Kehadiran Allah dan tanggungjawab Keluarga
Dalam perjalanan yang kadang-kadang seperti mendaki jalur pegunungan, dengan kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalannya, Allah selalu hadir dan menemani. Keluarga mengalaminya dalam kasih sayang dan dialog antara suami dan istri, antara orang tua dan anak-anak, antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Keluarga mengalaminya dalam mendengarkan bersama Sabda Allah dan dalam doa bersama – sebuah oase rohani yang harus diciptakan beberapa saat setiap hari.

Untuk itu, kepada segenap anggota keluarga dibebankan tugas dan tanggungjawab sehari-hari untuk pembinaan iman, hidup “baik” dan “indah” sesuai dengan Injil serta pembinaan menuju kepada kesucian. Para kakek-nenek seringkali juga ikut menjalankan tugas ini dengan penuh kasih sayang dan dedikasi. Keluarga dengan demikian merupakan “Gereja rumah” sejati yang meluas hingga menjadi keluarga yang terdiri dari keluarga-keluarga dan merupakan komunitas gerejani. Dengan demikian, suami-istri Kristiani dipanggil untuk menjadi guru-guru iman dan guru-guru kasih bagi para suami-istri muda.

Sebagai realita yang terbuka bagi semua pihak, Gereja pun diharapkan berperan nyata dalam membangun kasih persaudaraan, menjalankan karya amal, berada pada pihak mereka yang paling kecil, terpinggirkan, miskin, kesepian, sakit (option for the poor), orang-orang asing, dan keluarga-keluarga yang berada dalam krisis. Kedekatan dan sikap amal kasih komunitas Gereja, bukan tanpa dasar.

Sabda Tuhan dengan sangat jelas menegaskan perihal kerelaan untuk berbagi dengan sesama daripada kehendak untuk menerima dan memperoleh keuntungan dari pihak lain. “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis 20:35). Yang dimaksudkan di sini adalah pemberian yang berwujud barang, persahabatan, kasih dan kamurahan hati, kesaksian terhadap kebenaran, terang, dan makna hidup yang pada gilirannya mampu mendorong orang lain untuk menempuh “peziarahan” hidup yang sama.

Ekaristi dan keluarga
Puncak yang mencakup dan menyatukan semua unsur persekutuan dengan Allah dan sesama adalah Ekaristi hari Minggu, ketika keluarga bersama dengan seluruh Gereja duduk di sekitar meja bersama dengan Tuhan.

Dalam Ekaristi, Ia memberikan diri-Nya bagi kita semua, yang berziarah dalam sejarah menuju tujuan yaitu perjumpaan akhir ketika “Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (Kol 3:11). Oleh karena itu, dengan bertolak dari “roh” Ekaristi yang adalah roh pengurbanan, yakni pemberian diri Kristus bagi manusia, para Bapa Sinode telah merenungkan mengenai cara memberikan pendampingan pastoral bagi mereka yang telah bercerai dan menikah lagi dan tentang kemungkinan bagi mereka untuk menerima sakramen-sakramen, termasuk sakramen ekaristi dan rekonsiliasi. Melalui pilihan sikap semacam ini, tanpa bermaksud untuk mencederai kebenaran dan ortodoksi iman, Gereja hendak menghadirkan dirinya sebagai seorang ibu yang sungguh memahami kesulitan yang dialami oleh putra-putrinya, dan karena itu berusaha untuk membantu agar kesulitan itu dapat diatasi dengan baik.

Ajaran Gereja dan pemahaman umat
Para Bapa Sinode, seperti yang dijelaskan dalam Instrumentum Laboris Sinode Luar Biasa tentang keluarga, tgl 5-20 Oktober 2015 sungguh menyadari bahwa ada suatu keprihatinan pastoral yang hidup di tengah-tengah umat berkaitan dengan pemahaman umat tentang perkawinan pada khususnya, sebagaimana yang dituangkan dalam ajaran Gereja, dan ajaran Gereja pada umumnya.

Dengan kata lain, disadari bahwa ada jarak yang amat jauh antara ajaran Gereja tentang perkawinan dengan realita yang dihayati oleh umat. Selain karena bahasa dan ulasan ajaran Gereja memerlukan pemahaman filosofis dan teologis tertentu untuk dapat memahaminya, namun dari sisi lain, munculnya kebebasan individual yang dimutlakkan membuat orang sulit untuk menerima kebenaran yang sifatnya objektif. Kesulitan itu akan semakin bertambah manakala kebenaran yang disampaikan oleh Gereja tidak sesuai dengan pemahaman pribadi atau individual.

Dengan kata lain, untuk dapat memahami dan pada akhirnya menghayati ajaran Gereja, sekurang-kurangnya diperlukan pemahaman filosofis dan teologis tertentu. Dan persis persyaratan semacam ini sulit dipenuhi oleh umat. Umat belum banyak yang berminat untuk mendalami study teologi seperti halnya mendalami bidang-bindang ilmu lainnya. Selain itu, pengaruh budaya tertentu yang masih demikian kuat turut mempersulit umat dalam menerima dan menghayati ajaran Gereja, meskipun mereka memahami ajaran Gereja dengan baik. Seperti disampaikan oleh para Bapa Sinode, sejumlah Uskup dari Afrika mendukung bentuk perkawinan poligami.

Tentu saja, hal ini disampaikan bukan karena tidak mengetahui atau memahami ajaran Gereja tentang perkawinan, tetapi lebih karena pengaruh budaya. Budaya setempat menerima dan mengakui poligamy sebagai bentuk perkawinan yang normal dan secara luas dipraktikkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi oleh Gereja dalam hal mendorong umat menerima dan menghayati ajaran Gereja tentang perkawinan, tidak saja berpangkal pada pemahaman teologis yang belum memadai, tetapi juga karena pengaruh budaya yang dihidupi oleh umat Katolik yang justru menampilkan pemahaman yang berbeda tentang perkawinan dibandingkan dengan pemahaman Gereja.

Untuk itu, perlu dilakukan kajian pastoral yang serius berkaitan dengan budaya tertentu, agar nilai-nilai luhur yang dihayati oleh umat dalam budaya masing-masing tidak menjadi penghalang atau penghambat bagi umat dalam penghayatan iman, tetapi sebaliknya, mendukung. Kajian inkulturasi adalah salah satu upaya yang dapat diusahakan untuk semakin “mendekatkan” ajaran Gereja dengan nilai-nilai budaya yang “dihidupi” oleh umat.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply