Jelang Pertemuan Keluarga Mondial di Philadelpia Sept 2015: Tantangan Keluarga dalam Evangelisasi (1)

perhiasan by ist

PADA tanggal 16-17 Maret 2015 lalu berlangsung pertemuan Forum Pemerhati Keluarga yang ke-6, bertempat di Pusat Pendampingan Keluarga MSF, Jl. Guntur 20, Semarang. Hadir dalam pertemuan ini, 75 orang peserta terdiri dari: Ketua-Ketua Komisi Keluarga Keuskupan yang dipercayakan kepada MSF (Banjarmasin, Jakarta, Palangka Raya, Pangkal Pinang dan Semarang). Selain itu, juga hadir para Romo MSF, Projo, SJ dari paroki-paroki Kevikepan Semarang dan Solo beserta kaum awam pemerhati keluarga bersama sejumlah biarawati.

Pertemuan dimulai pada Pk. 17. 30 WIB dengan menghadirkan narasumberara Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignasius Suharyo. Beliau secara khusus diundang untuk membagikan oleh-oleh dalam mengikuti Sinode Luar Biasa tentang Keluarga dengan Tema “Tantangan-tantangan Keluarga Dalam Konteks Evangelisasi di Roma, 5–20 Oktober 2014 yang lalu.

Sinode ini menjadi luar biasa, karena dihadiri oleh para Ketua Konferensi Wali Gereja sedunia (ex-officio) beserta sejumlah undangan khusus, para ahli dan pengamat. Dalam sinode ini disampaikan beberapa hal yang menjadi gambaran umun yang dihadapi oleh keluarga-keluarga di seluruh dunia, seperti: kemiskinan, migrasi, kekerasan dalam rumah tangga, perpisahan yang berlanjut kepada ‘perceraian’ sipil yang pada akhirnya membuat pasutri hidup dalam situasi yang tidak biasa, kekerasan terhadap perempuan beserta perlakuan tidak adil yang mendahuluinya, perkawinan homoseksual, single parents dengan hak untuk mengadopsi anak dan perkawinan beda agama.

Budaya individualisme
Selain itu, juga dipaparkan mengenai situasi budaya kontemporer yang semakin menegaskan dirinya sebagai budaya individualisme yang membawa dampak dan pengaruh yang kuat bagi “pembangunan” keutuhan keluarga. Manakala budaya ini sudah menguasi keluarga dan hati setiap orang, maka akan sulit bisa menemukan titik temu dan kompromi dalam hidup bersama. Hidup dalam keluarga adalah hidup yang ditandai oleh kesediaan untuk menemukan titik temu atau berkurban bagi kepentingan keluarga dan siap melakukan kompromi bagi kebaikan bersama.

Budaya individualisme, pada gilirannya mendorong kepada sikap dimana orang pada akhirnya hanya mau mencari dan memenuhi apa yang menjadi keinginan pribadinya. Dengan pola pikir semacam ini, maka sangat sulit untuk membangun dan mempertahankan suatu komitmen dalam hidup bersama. Kehidupan keluarga adalah salah satu bentuk dimana komitemn dari kedua belah pihak diperlukan.

Komitmen, hanya mungkin bisa dilakukan jika orang rela dan bersedia untuk “berbagi” dan mengedepankan kepentingan bersama sebagai tujuan yang hendak dicapai secara bersama. Sayang sekali sikap individualisme telah mengikis nilai-nilai yang diperlukan untuk “pembangunan” sebuah komitmen dalam hidup perkawinan dan keluarga.

Lebih lanjut disampaikan oleh Mgr Suharyo bahwa berhadapan dengan situasi iregularitas dari pasangan-pasangan Katolik, Gereja mengalami kesulitan dalam menentukan sikap bersama. Ada pihak yang dengan sangat keras menentang segala bentuk ”kemurahan”: (pemberian komuni kudus, sakramen tobat pada saat-saat khusus) yang dapat diberikan kepada pasangan-pasangan demikian itu dengan argumentasi bahwa “kemurahan” semacam itu akan menjungkirbalikan doktrin dan ajaran Gereja tentang perkawinan yang sudah dipertahankan berabad-abad lamanya. Posisi semacam ini, terutama muncul dari kalangan para Uskup Afrika dan sejumlah Uskup dari negara lain yang dikategorikan sebagai pihak konservatif. Mencoba mencari terobosan-teobosan baru dalam rangka membantu keluarga-keluarga yang hidup dalam situasi yang iregularitas itu tanpa mengkhianati kebenaran dan ortodoksi ajaran Gereja justru dianggap sebagai tindakan yang membahayakan eksistensi Gereja.

Meskipun tidak secara langsung dapat dikatakan bahwa Sinode Keluarga ini mempersiapkan Pertemuan Keluarga Mondial, namun demikian permasalahan tentang keluarga yang dibicarakan dalam Sinode ini pasti akan memberikan inspirasi dalam Pertemuan Keluarga Mondial tahun 2016. Dengan demikian secara amat terbatas dapat dikatakan bahwa Sinode Keluarga ini dapat dipandang sebagai persiapan untuk pelaksanaan Pertemuan Keluaga Mondial 2016 yang akan datang.

Beberapa issue menonjol yang dibicarakan selama sinode luar biasa ini antara lain yang kiranya juga akan dibahas dalam Pertemuan Keluarga Mondial antara lain:

Kesetiaan pasangan suami-istri

Tantangan besar yang dihadapi oleh keluarga dewasa ini adalah menyangkut soal kesetiaan dalam kasih antara suami-istri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cukup banyak pasangan Katolik pisah dan memilih hidup dengan pasangan baru. Janji kesetiaan yang diucapkan pada waktu melangsungkan perkawinan ternyata tidak mampu dipelihara dan dihayati dengan baik dalam keseharian hidup. Dan yang mengherankan bahwa kebersamaan hidup dengan pasangan baru justru memberikan kebahagiaan yang lebih dibandingkan dengan pasangan sebelumnya.

Iman yang semakin lemah

Iman yang semakin lemah, sikap acuh tak acuh terhadap nilai-nilai sejati, sikap individualisme yang semakin menguat dimana segala sesuatu diukur dari sudut pandang individu, pada akhirnya mengarahkan orang kepada sikap relativisme. Pola pandang semacam ini, yang merelatifkan semua hal, termasuk kebenaran iman dan moral, pada akhirnya akan mengarahkan orang untuk membangun tatanan moral berdasarkan pandangan pribadi semata, dengan demikian menolak semua hal atau pandangan lain yang tidak sesuai dengan pandangan pribadinya. Sikap semacam ini, tentu saja membahayakan tatanan nilai dan moralitas yang sudah diakui dan dihidupi secara bersama dalam suatu masyarakat.

Iman sebagai salah satu tatanan nilai yang ditawarkan dari luar termasuk hal yang sulit untuk diterima dan dihayati dalam hidup pribadi. Kalaupun diterima, lebih sebatas ritualitas belaka yang baik untuk dilakukan sebagai penegasan atas identitas personal dan komunal, tetapi miskin pemaknaan dan penghayatan pribadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila iman tidak membawa dampak atau pengaruh dalam kehidupan pribadi maupun komunal.

Kemiskinan relasi

Relasi yang semakin miskin dan tekanan hidup yang tidak menyisakan waktu untuk merenung, mempengaruhi juga hidup keluarga. Tidak jarang terjadi krisis perkawinan yang seringkali dihadapi dengan tergesa-gesa, tidak sabar memberi waktu untuk merenung, berkurban dan saling memaafkan.

Kegagalan ini membuka pintu untuk terjadinya relasi-relasi baru, hidup dengan pasangan baru yang didasarkan pada ikatan sipil semata dan kemungkinan terjadinya perkawinan baru dengan pasangan baru. Dengan semua situasi tersebut, keluarga-keluarga dimasukkan kedalam keadaan yang semakin kompleks dan penuh masalah untuk dapat mengambil keputusan secara Kristiani dan bertanggungjawab.

Beban keluarga

Di antara tantangan-tantangan tersebut diatas, juga terpikirkan mengenai beban yang ditimpakan kepada keluarga-keluarga oleh penderitaan hidup itu sendiri. Penderitaan yang dapat muncul karena adanya anak yang berkebutuhan khusus, sakit berat, melemahnya kesadaran karena usia lanjut serta kematian orang yang dikasihi. Meski demikian, patut digarisbawahi kesetiaan sekian banyak keluarga yang menghadapi cobaan-cobaan ini dengan keberanian, pengurbanan, iman dan kasih.

Mereka tidak memandangnya sebagai beban yang ditimpakan ke atas mereka, tetapi sebagai sesuatu yang diberikan kepada mereka, sambil memandang Kristus yang menderita dalam kelemahan jasmani. Dalam arti ini, keluarga yang demikian telah berhasil mengatasi beban hidup itu dan bahkan telah mampu mengubahnya menjadi berkat dalam kehidupan mereka. Beban dan penderitaan yang dialami tidak membuat keluarga semakin lemah, justru sebaliknya, menguatkan dan memampukan mereka untuk mengubah penderitaan itu menjadi berkat bagi hidup mereka.

Pemujaan uang

Para Bapa Sinode juga berpikir mengenai kesulitan-kesulitan yang diakibatkan oleh sistem ekonomi, yang tidak mendatangkan kesejahteraan bagi keluarhga-keluarga, tetapi sebaliknya, justru kemiskinan. Sistim ekonomi yang bersifat impersonal, yang tidak memiliki tujuan manusiawi sejati” seperti ditegaskan oleh Paus Fransiscus dalam Evangelii Gaudium, no. 55 telah merendahkan martabat pribadi manusia dan pada gilirannya keluarga-keluarga.

Pemujaan uang dan kediktatoran ekonomi yang sedang berkembang pesat dewasa ini telah menisbikan nilai-nilai luhur manusia sebagai citra Allah dan mendegradasikannya sebatas komoditi yang laku dijual.

Dalam kaitan dengan ini, perlu digarisbawahi meluasnya praktik prostitusi yang dijalankan dalam bentuk profesional dan teroganisir oleh-oleh oknum tertentu, khususnya di kalangan negara-negara berkembang dan telah mendatangkan penderitaan dan korban untuk begitu banyak anak-anak. Senada dengan itu, human trafficking-perdagangan manusia juga marak terjadi dan melibatkan aparat pemerintahan. Perempuan-perempuan mengalami kekerasan serta eksploitasi.

Demikian halnya dengan anak-anak yang dilecehkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi dan menjamin perkembangan mereka. Fenomen tersebut mau menegaskan dalil yang telah disampaikan oleh Bapa Suci Fransiscus bahwa pemujaan terhadap uang yang sedemikian kuat telah menisbikan dan merelativirkan nilai-nilai dasariah manusia: hormat.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: