Jangan Sampai Terjadi: Kompak dalam Kejahatan

bandel by frontpage

“Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.” (Mat 21, 38-39)

SEBUAH  yayasan pendidikan pernah menyewa tanah dan menanaminya dengan singkong, dengan biaya ratusan juta rupiah. Ini merupakan sebuah rintisan usaha yayasan untuk menambah sumber pemasukan dana pendidikan. Tanpa adanya dana yang cukup, akan sulit bagi sekolah untuk melaksanakan berbagai macam kegiatan pengembangan.

Rintisan tersebut rupanya tidak berhasil. Banyak orang mungkin pernah punya pengalaman seperti ini. Usaha pertanian atau perkebunan tidak memberikan hasil, seperti yang diharapkan.

Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah para penggarap atau pekerja, seperti digambarkan dalam perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur. Bisa terjadi bahwa mereka tidak punya pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengolahan lahan, perawatan tanaman, pemupukan, hama dan obatnya.

Ada pula pekerja yang tidak mempunyai kemauan untuk bekerja keras dan motivasi kerjanya lemah, sehingga malas-malasan dan seenaknya. Bahkan ada pekerja yang memang jahat. Mereka bisa kompak, tetapi kompak dalam kejahatan. Mereka tidak bersedia menyerahkan hasil panenan kepada pemiliknya.

Mereka menikmati hasil kebun untuk diri sendiri. Mereka tidak menghargai dan menerima utusan pemilik kebun. Lebih jahat lagi, mereka ingin menguasai dan memiliki kebun tersebut bagi dirinya, sehingga ahli warisnya pun mereka tangkap dan bunuh.

Para penggarap tersebut bisa menjadi gambaran dari para imam kepala dan ahli Taurat, yang memang mempunyai sikap bermusuhan dengan Yesus. Mereka tidak hanya mempertanyakan kuasa yang dimiliki Yesus, tetapi juga berusaha menyingkirkan-Nya.

Selain itu, kisah para penggarap ini juga bisa menjadi bahan refleksi bahwa para murid pun dalam banyak hal dipanggil untuk mengelola sesuatu di sebuah lahan dan bukan untuk menguasai atau memilikinya. Banyak hal sering diserahkan kepada kita untuk dikelola, seperti harta benda, keuangan, proyek, kumpulan umat beriman, karya pendidikan, kesehatan, suara rakyat, dsb.

Namun demikian, banyak kali terjadi bahwa para pengelola tersebut tergoda untuk menguasai dan memilikinya, demi keuntungan diri sendiri. Ini adalah kejahatan. Teman-teman selamat pagi dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Foto kredit: Ilustrasi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: