Jangan Sampai Ketemu Anaconda di Bigi Kroetoe, Tempat Rekreasi di Hutan Amazon Suriname (5)

Bigie Kroetoe, destinasi wisata di Hutan Amazone Suriname.

TEMPAT rekreasi yang pertama kali saya kunjungi sejak menginjakkan kaki di bumi Suriname adalah Bigi Kroetoe. Ini adalah sebuah lokasi hutan belantara yang menjadi satu bagian dari luasnya hutan Amazon di Amerika Latin.

Letak Bigi Kroetoe itu sendiri berada di daerah pedalaman Suriname atau orang Suriname menunjukkan arahnya dengan kata-kata “di belakang Bandara International Zanderij”. Jarak tempuh dari Ibukota Suriname, Paramaribo,  kurang lebih dua jam perjalanan dengan mobil. Untuk menuju lokasi tersebut, saya tidak hanya melalui jalan aspal namun juga jalan pasir bahkan jalan berlumpur. Akan terasa berat medannya,  ketika pas lagi musim hujan.

Karena itu, kalau mau datang ke Bigi Kroetoe,  jangan pernah mengendarai mobil sedan karena dijamin akan terjebak di jalan berlumpur. Sebaliknya,  gunakanlah mobil dengan roda-roda besar; minimal mobil minivan sejenis Kijang seperti yang selalu saya kendarai.

Baca juga:   Dari Suriname, Bermobil Lintas Negara ke Guyana (4)

Makna kata 

Bigi Kroetoe artinya adalah “rapat besar”. Dua kata ini diambil dari bahasa sehari-hari orang Suriname yaitu bahasa Sranan Tongo. Disebut ‘rapat besar’,  karena pada zaman perang masa silam,  hutan itu sering digunakan untuk rapat orang-orang asli pedalaman Suriname.

Sebagaimana yang sering saya lihat di lapangan, masyarakat Suriname punya ‘hobi’ kebiasaan yang mereka selalu praktikkan saat akhir peka. Hobi tersebut adalah pergi dari kota menuju ke pedalaman Amazon.  Tujuan dari itu untuk melepaskan kepenatan dan menjauhkan diri dari kesibukan yang sudah dijalani sepanjang hari Senin hingga Jumat.

Aktifitas yang biasa dilakukan adalah berkemah di hutan, berendam di sungai-sungai kecil di dalam hutan, berburu binatang, serta memancing. Karena hobi itu, jadi sangat wajar bila kebanyakan rumah di Suriname mempunyai hammock alias tempat tidur gantung. Ini berupa kain seperti ayunan yang digantung pada kedua ujungnya.

Umumnya tempat tidur jenis ini digunakan oleh orang yang tinggal di daerah tropis. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hammock misalnya kain katun, kain ikat, nilon parasut , tali, hock (pengait)dan lain-lain.

Hobi tersebut jugalah yang menyebabkan hari Sabtu banyak toko yang tutup setengah hari dan hari minggu tutup total. Suasana ibukotapun juga lenggang tidak seperti hari kerja.

Bigi Kroetoe menjadi salah satu destinasi favorit untuk menyalurkan hobi orang Suriname. Pemandangan yang bisa dilihat hanya pohon-pohon liar dan besar-besar. Aliran sungai kecil dengan air berwarna hitam menambah nyaman suasana di sana.

Salah satu teman kerja saya  yang bernama Bu Marlene mempunyai kapling hutan beberapa hektar di Bigi Kroetoe. Dan rupanya di Suriname hutan pun sudah ada yang punya dan sudah dikapling-kapling. Bukan hanya Bu Marlene saja yang memiliki hutan,  tetapi banyak orang Suriname juga memilikinya.

Pada saat saya  datang ke sana, rupanya keluarga Bu Marlene juga sedang rekreasi di tempat sama. Aliran air sungai kecil yang berwarna hitam selalu membuat saya  tidak bisa menahan diri untuk berenang. Pertama kali yang selalu saya tuju adalah sungai. Merasakan air yang mengalir, berenang hilir mudik bahkan menyelam selama-lamanya semakin menunjukkan kalau saya itu memang bak aquarius man.

Karena ini ada di hutan,  maka cukuplah bermodalkan cawat saja untuk menyalurkan hobbi berenangku. Aku tidak membawa celana dan kacamata renang, karena ini bukan kolam renang. Ini hutan Amazon.

Kawasan wisata hutan di Bigi Kroetoe Suriname.

Berburu kelinci

Pada malam harinya, aku diajak suami Bu Marlene untuk berburu kelinci. Hasilnya nihil . Malam itu pas malam bulan purnama,  jadi banyak binatang yang tidak menampakkan diri. Tetapi pengalaman yang saya dapatkan sungguh amazing. Masuk ke dalam hutan pada malam hari, hanya diterangi senter kecil yang diletakkan di helm kepala. Saya merasakan nikmatnya menenteng senjata laras panjang dan bergaya “bak” tentara pejuang NKRI.

Suami Bu Marlene bercerita,  di Suriname orang pun tidak sembarangan bisa menggunakan senjata dan tidak sembarangan boleh memburu binatang.  Pegang senjata harus ada surat izinnya dan tentunya senjata yang saya tenteng pun berizin.

Bedil kaliber besar  ini adalah senjata dengan peluru yang bisa membunuh seekor gajah. Jadi saya boleh menenteng,  tetapi urusan menembak harus  mereka yang mempunyai isin. Sedangkan untuk hewan yang diburu pun oleh  Pemerintah Suriname  sudah ada jadwal aturannya. Hewan apa saja yang boleh diburu pada bulan itu. Bila kita melanggar, izin menembak akan dicabut dan akan dikenai denda yang sangatlah mahal.

 Takut tapi senang

Perasaan pertama kali menyusuri hutan adalah takut. Membayangkan kalau saja tiba-tiba dari atas pohon,  turun ular anaconda seperti siaran televisi di Discovery Channel. Namun, t suami Bu Marlene selalu menenangkan saya. Selama beberapa jam masuk pedalaman hutan, ternyata  tidak kutemui seekor binatang pun kami temukan. Dan itu terjadi  sampai kita kembali ke area perkemahan.

Akhirnya, hanya terimakasih Tuhan atas pengalaman hari ini. Saya bisa bernapas lega dan tidur nyenyak malam itu. Bahkan nyamuk Amazon pun tak sempat saya rasakan gigitannya.

Nanang Sumaryadi Alumnus Seminari Menengah Mertoyudan, kini menjadi Asisten Pribadi Duta Besar RI untuk Suriname Bpk. Dominicus Supratikto.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply