Sunday, 23 November 2014

Jangan Menunda

Ayat bacaan: Amsal 3:27
=======================
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

jangan menunda“Ah masih lama dikumpulnya, nanti saja kalau sudah mepet..” demikian ujar salah seorang teman saya yang masih kuliah. Dua minggu setelahnya saya mendapatinya tengah kelabakan harus mengerjai seluruh tugas yang bertumpuk. “Tidak mungkin selesai kalau begini ceritanya..” katanya panik. Ia pun harus siap-siap memilih beberapa dari tumpukan tugas itu dan harus rela gagal lulus dalam beberapa mata kuliah karena tugasnya tidak akan sempat dikerjakan lagi hingga batas waktu yang ditetapkan. Itulah akibatnya ketika kita memilih untuk menunda pekerjaan atau tugas. Seandainya ketika tugas hadir kita langsung mulai menyicil mengerjakan, maka kita tidak perlu jungkir balik mendekati tenggat waktu yang ditetapkan. Ada banyak orang yang kemudian harus lembur bergadang dalam keadaan stres karena suka menunda-nunda, tapi lucunya mereka tidak kunjung kapok. Jika untuk hal-hal yang berhubungan dengan diri kita sendiri saja kita berlaku demikian, apalagi untuk sesuatu bagi orang lain. Dengarlah seorang teman yang mengomel panjang lebar hanya gara-gara seorang pengamen bernyanyi di depannya. “Mengganggu saja. Apa dia kira aku kaya? Nantilah kalau sudah benar-benar kaya, mungkin aku akan mempertimbangkannya.” katanya di antara omelan-omelan selanjutnya. Seandainya ia memberi sedikit, katakanlah seribu rupiah, apakah ia benar-benar tidak sanggup untuk itu atau bakalan jatuh miskin instan setelahnya? Tentu saja tidak. Memangnya harus berapa kaya dulu baru bisa memberi untuk pengemis atau pengamen? Jika itu saja berat, bagaimana dengan bantuan-bantuan lebih besar bagi orang-orang yang tengah terdesak karena berhadapan dengan situasi hidup atau mati? Memberi sesungguhnya bukan masalah sanggup atau tidak, tapi adalah masalah hati, apakah kita rela karena mengasihi atau tidak.

Kita sebenarnya sudah diingatkan sejak awal bahwa tidaklah baik jika menunda-nunda untuk berbuat baik.  “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27). Ayat ini berkata dengan sangat jelas bahwa kita tidak boleh menunda perbuatan baik ketika kita sanggup melakukan itu, dan juga tidak boleh mempersulit orang terlebih dahulu sebelum kita membantu mereka. Ayat selanjutnya berkata “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.” (ay 28). Ketika kita bisa berbuat baik, sudah sepantasnya kita tidak menunda-nunda untuk melakukan itu. Berbuat baik tidak sekedar berbicara mengenai memberi sedekah atau sumbangan dalam wujud uang, tetapi bisa hadir lewat berbagai hal. Perhatian, kasih sayang, kesabaran, dukungan moril, meluangkan sedikit dari waktu kita dan sebagainya, itupun merupakan bentuk dari kebaikan. Ketika kita memiliki hal itu, meski sedikit, dan kita mau membaginya kepada orang lain, sesungguhnya kita sudah melakukan sesuatu yang akan sangat bermakna bagi orang lain yang membutuhkannya. Dalam situasi demikian kita tidak seharusnya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu apalagi harus mempersulit mereka yang butuh terlebih dahulu demi kepuasan kita, karena alasan malas dan sebagainya. Jangan tunda untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan, jangan mengelak, jangan mengaku tidak mampu padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita mampu untuk melakukannya. Itu termasuk sebuah kebohongan dan kebohongan tidak pernah mendapat tempat apapun di hadapan Tuhan, dengan alasan apapun.

Kita bukanlah diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Ini adalah sistem Kerajaan Surga. Surat Paulus kepada jemaat Filipi pasal 2 mengingatkan kita akan hal ini. Firman Tuhan berkata “..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3b-4). Mengapa harus demikian? Karena sebagai pengikut Kristus kita seharusnya mencerminkan pribadi Kristus. Penghiburan kasih, kasih mesra dan belas kasihan, itu semua ada dalam Kristus. (ay 1). Dan sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya meneladaniNya dalam mengasihi sesama kita. Yesus tidak pernah menunda apapun dalam menjalankan tugasNya seperti yang telah digariskan Bapa. Jika Yesus melakukan seperti itu, mengapa kita sebagai pengikutNya justru kerap berlaku sebaliknya yaitu senang menunda-nunda untuk melakukan segala sesuatu termasuk dalam berbuat baik?

Kerelaan memberi sebagai salah satu aspek dari perbuatan baik merupakan cerminan kedewasaan iman kita. Orang yang imannya dewasa akan terus berusaha memberi, sebaliknya yang masih belum akan cenderung mengambil atau meminta. Alkitab mencatat perkataan Yesus seperti ini: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Bagaimana cara Yesus mengasihi kita? Yesus begitu mengasihi manusia sehingga Dia rela menanggung segala dosa-dosa lewat cara yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Lebih dari itu, Dia rela memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13) kata Yesus, dan Dia sudah membuktikan itu secara langsung. Mengacu kepada firman Tuhan itu, seharusnya kita terus berusaha untuk mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita, para sahabatNya. Jika nyawa kita pun seharusnya siap untuk diberikan, mengapa kita sulit sekali untuk mengeluarkan sedikit dari tabungan kita, usaha kita, tenaga atau waktu kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama?

Kita harus berhenti bersikap kikir, berhenti untuk merasa diri selalu berkekurangan. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur, dan mempergunakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan untuk memberkati sesama kita. Aspek memberi dalam kebaikan merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Begitu pentingnya sampai Tuhan pun berkata “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Tuhan tidak butuh uang kita. Dan tentu saja kita tidak akan mampu membayar kebaikan Tuhan dengan harta milik kita. Tetapi jika kita ingin membalas kebaikan Tuhan atau ingin menunjukkan bagaimana kita mengasihi Tuhan secara nyata, Alkitab menganjurkan kita untuk melakukannya melalui perbuatan baik kita kepada orang lain yang membutuhkan. Kita pun seharusnya mampu mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang dikatakan Paulus: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35).

Tuhan begitu peduli pada kita dan sudah menunjukkan betapa besar kasihNya kepada kita. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai alasan? Janda miskin yang hanya memiliki harta dua peser dalam Markus 12:41-44 mungkin masuk dalam kategori tidak sanggup dalam penilaian kita, tetapi ternyata ia masih sanggup memberi dari kekurangannya. Mari periksa diri kita, apakah kita sudah tergerak oleh kasih untuk menolong sesama kita atau masih suka menunda-nunda dengan berbagai alasan? Berhentilah menunda-nunda, selagi hari masih siang, marilah kita mengalirkan kasih Kristus kepada sesama kita sekarang juga.

Don’t wait till tomorrow what you can do today

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Jangan Menunda"

Response on "Jangan Menunda"